Trump, Khan, dan Ahok

Foto dan ilustrasi CoWasJP.com

COWASJP.COMSEBUAH peristiwa politik bersejarah terjadi di Inggris akhir pekan lalu (7/5). Sadiq Khan, politisi Partai Buruh terpilih menjadi walikota London mengalahkan kandidat dari Partai Konservatif, Zac Goldsmith. Khan mencatat sejarah sebagai walikota London pertama yang beragama Islam. Khan mengalahkan Goldsmith dengan perolehan suara 57 persen dibanding 43 persen, margin terbesar yang pernah dimenangkan seorang walikota dalam pemilihan walikota London.

Pada saat hampir bersamaan, di Amerika Serikat sebuah peristiwa politik yang tidak kalah sensasional terjadi. Kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, dipastikan memenangkan nominasi calon presiden dari Partai Republik, kendati proses pencalonan internal Partai Republik belum berakhir. Dua calon Republik, Ted Cruz dan Marco Rubio mengundurkan diri dan jalan Trump tak terbendung lagi.

Sementara itu di dalam negeri, perhatian masyarakat tengah tertuju pada ‘’Fenomena Ahok’’, gubernur petahanan DKI yang diperkirakan bakal maju dalam pemilihan gubernur DKI 2017 mendatang. Meski Pilkada masih cukup jauh, tapi beberapa kalangan media maupun pengamat menyebut Ahok sebagai bakal calon gubernur yang sulit ditandingi oleh para pesaingnya.

Trump dan Ahok pada tataran tertentu mirip, karena keberanian keduanya dalam memberikan statemen politik terhadap isu aktual, maupun keberanian keduanya dalam menyerang lawan politiknya. Kedua tokoh ini masuk dalam kategori ‘’sharp-tounged politicians’’ politisi berlidah tajam.

Gaya komunikasi Khan jauh berbeda. Khan, anak seorang sopir bus imigran Pakistan, berbicara tenang dan santun. Tetapi gaya komunikasi politik ala Khan yang kalem ini justru mematikan mampu mematikan lawan. Tulisan ini akan melihat benang merah dari ketiga fenomena tersebut dari sudut komunikasi politik. 

Lidah Tajam

Trump sangat lekat dengan kontroversi sejak kali pertama mengumumkan nominasinya setahun yang lalu. Ia anti-imigran dengan menyebut kelompok imigran Meksiko sebagai pemerkosa dan pembunuh. Peryataan ini memicu reaksi keras dimana-mana. Trump juga mengatakan akan melarang orang Islam masuk ke Amerika. Sebuah pernyataan yang digolongkan rasis.

Trump tidak menutupi dukungannya terhadap organsasi rasis Ku Klux Klan. Ia juga menyerang secara pribadi lawan politiknya dengan menyebut mereka membosankan. Trump juga mengatakan wanita yang melakukan aborsi harus dipenjara. Lidah tajam Trump menimbulkan protes luas. Bahkan di kalangan Partai Republik sendiri Trump dimusuhi.

Rubio menyebutnya capres paling vulgar dalam sejarah Republik. Cruz menyebutnya tidak bermoral. Senator Mitt Romney yang pernah menjadi Capres Republik, secara terbuka mengajak orang-orang Republik untuk tidak mendukung Trump. Partai Demokrat sebagai lawan utama Republik akan memanfaatkan kontroversi Trump ini sebagai ‘’senjata rahasia’’ untuk mengalahkan Trump sendiri. Hillary Clinton, yang tampaknya bakal menjadi Capres Demokrat, merasa sangat siap dan yakin bisa mengalahkan Trump.

Tetapi, semakin diserang dan disudutkan, popularitas Trump semakin naik. Survei CNN/ORC menempatkan popularitas Trump pada angka 49 persen, sedangkan Rubio hanya 16 persen, dan Cruz 15 persen.

Fenomena Ahok

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah fenomena baru dalam jagat politik Indonesia. Ia berasal dari etnik minoritas Cina yang selama puluhan tahun masa pemerintahan Orde Baru diberangus hak politiknya. Ahok menjadi fenomena karena gaya komunikasi politiknya yang terbuka dan blak-blakani. Masyarakat Indonesia dikategorikan sebagai ‘’high context culture’’ (Edward T. Hall, 1976) dimana dalam berkomunikasi lebih dipilih pernyataan yang tidak terus terang dan cenderung berputar-putar.

Untuk menyebut seseorang bodoh akan dipakai istilah ‘’kurang pandai’’. Komunikasi adalah budaya dan budaya membentuk komunikasi. Budaya bangsa Indonesia yang tidak biasa berterus terang menyebabkan pola komunikasi kita juga tidak terus terang. Untuk menyebut seseorang bodoh di depan umum adalah sesuatu yang tabu. Karena itu, pernyataan Ahok yang sering tajam dengan memakai kosakata seperti ‘’bodoh’’ tidak bisa diterima dalam konteks budaya tinggi Indonesia.

Hal ini berbeda dengan masyarakat Barat yang masuk dalam kategori ‘’low context culture’’ dimana komunikasi dilakukan secara terbuka dan apa adanya. Kejujuran dan keterbukaan menjadi nilai yang dijunjung tinggi dan kebebasan individu sangat dihormati. Berbeda dengan budaya konteks tinggi kita yang menghormati harmoni, kebersamaan dengan mengorbankan hak individu. Karena itu, dalam kasus penggusuran pemukiman Kalijodo, Ahok dikritik keras karena memakai pendekatan ‘’budaya rendah’’ dengan mengabaikan prinsip musyawarah mufakat yang menjadi inti ‘’budaya tinggi’’.

Sikap kontroversi Ahok sering memicu sentimen ras dan agama. Ketika melarang pelaksanaan korban di sekolah pada saat Idul Adha Ahok menghadapi serangan kelompok yang menyebutnya anti-Islam.
Di tengah berbagai kontroversi popularitas Ahok masih tetap tinggi pada kisaran 95-98 persen, sedangkan elektabilitasnya berkisar 45-49 persen. Kisaran ini masih belum aman tetapi tetap tertinggi di antara kandidat lain seperti Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, dan beberapa lainnya.

Politik Santun

Sadiq Khan, politisi 45 tahun menjadi fenomena baru di Inggris setelah menjadi walikota muslim pertama di London. Ia dari Partai Buruh yang berideologi sosialis. Khan seorang muslim taat. Ia menjalankan salat dan puasa, serta sudah berhaji. Di kalangan musuh politiknya ia diserang dengan tuduhan mempunyai koneksi dengan kelompok ekstremis Islam. Dalam sebuah pawai politik seseorang membentangkan bendera hitam ISIS ketika Khan berpidato. Tetapi di kalangan muslim Inggris Khan diserang karena dianggap liberal. Ia mendukung pernikahan sejenis. Ia mendapatkan ancaman fisik sampai harus menyewa dua pengawal untuk menjaga keselamatan istri dan dua anak remaja putrinya.

Pada saat kampanye Khan dipojokkan dengan kampanye negatif dan kampanye hitam. Tetapi, hal itu tidak membuat popularitasnya menurun malah sebaliknya bisa menang telak. Alih-alih menjadikan ras dan agama sebagai dasar preferensi politik, masyarakat London lebih melihat program Khan yang dianggap lebih unggul dibanding pesaingnya. Khan menekankan pentingnya program perumahan murah bagi warga London, menjadikan London lebih aman dan nyaman ditinggali. Selain itu, Khan juga menekankan London sebagai kota yang ramah dan akomodatif serta menghormati multibudaya.

Benang Merah

Trump dan Ahok mempunyai benang merah dalam berkomunikasi politik. Dua-duanya, memakai komponen negatif dalam berkomunikasi dengan menerapkan sarkasme, serangan verbal, dan penghinaan (insult). Untuk sementara ini pola ini cukup efektif dalam menggalang dukungan publik. Masih harus ditunggu apakah gaya komunikasi Trump efektif dalam pilpres November mendatang. Ahok juga masih harus menunggu sampai tahun depan untuk membuktikan efektifitas komunikasi politiknya. 

Ahok sangat beda dengan Khan yang santun. Dalam hal ini Khan sudah membuktikan bahwa gaya komunikasi politiknya efektif. Kesamaan Khan dengan Ahok adalah bahwa keduanya minoritas dalam hal agama dan ras. Keduanya menghadapi serangan yang sama dari kelompok yang memakai agama sebagai faktor untuk menakut-nakuti (fear factor), dan menerapkan labelling (penjulukan negatif) serta stereotyping (penyamarataan negatif) untuk mendiskreditkan kredibilitasnya. 

Khan mengatasi hal itu dengan fokus pada program, dan akhirnya menciptakan sejarah sebagai walikota muslim pertama London. Masih harus ditunggu, apakah Ahok akan mampu mengatasi serangan negatif dengan cara fokus pada program untuk memenangkan pilgub DKI, sekaligus menciptakan sejarah sebagai gubernur independen pertama di Indonesia. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda