Batman v Superman, Jokowi v SBY

Fotodan ilustrasi: CoWasJP.com

COWASJP.COM –  

GEDUNG bioskop di Solo penuh sesak. Bahkan di loket tiket sudah terpampang tulisan di kertas karton: "TIKET HABIS". Woow, film apa yang diputar sampai tiket habis di tengah antrean panjang calon penontonnya?

Ternyata Batman v Superman. Dua-duanya, baik Batman maupun Superman, adalah superhero pembasmi kejahatan. Kok bisa ya tokoh-tokoh golongan putih - meminjam istilah Kho Ping Hoo - itu sampai berseteru?

Itulah yang menarik minat penonton. Siapa pemenangnya? Gak tahu, wong saya juga belum nonton. Tetapi, lha mengapa harus berdesakan antre beli tiket Batman v Superman kalau sebenarnya di luar bioskop ada lakon yang lebih menarik: Jokowi v SBY. Ada lagi lakon di level agak ke bawah tp juga menarik: Ahok v Yuzril Ihza Mahendra (YIM). Siapa pemenangnya? Juga belum tahu.

"Perang" tanding antar Jokowi v SBY memang mengemuka belakangan ini. Keduanya juga superhero, meski lokal Indonesia. Keduanya juga dari golongan putih, meskipun tidak benar-benar putih karena kecipratan sedikit warna abu-abu bahkan ada juga warna hitam.

Perang Jokowi v SBY diduga dipicu dari Tour de Jawa yang digelar Partai Demokrat besutan Presiden RI dua periode sebelum Jokowi itu. Harus diakui, tour de Jawa yang oleh banyak orang dimaknai sebagai "kampanye awal" Partai Demokrat untuk menghadapi 2019, ternyata disambut antusias oleh rakyat. Banyak yang memaknai, SBY yang oleh "LSM twitter" Triomacan2000 dijuluki sebagai sang resi itu mulai turun gunung karena gerah melihat kondisi dunia persilatan NKRI yang makin hari makin amburadul.

Nah, saat itulah rupanya penguasa kangouw (istilah Kho Ping Hoo untuk dunia persilatan) saat ini, Jokowi, juga mulai gerah dengan pernyataan-pernyataan SBY yang mulai menusuk ke wilayah-wilayah rawan pemerintahannya. Jokowi pun melakukan serangan balik dengan blusukan ke Proyek Hambalang. Lalu, meluncurkan jurus pertama Batman eh Jokowi, "Proyek kok mangkrak, padahal dana ada."

Susilo "Superman" Bambang Yudhoyono rupanya merasa ada yg gerah dengan Tour de Jawanya. Sebagai ahli strategi TNI kala itu, SBY paham benar bahwa blusukan Hambalang ditujukan kepada pemerintahnya. Maka, enteng saja ketika rombongan Partai Demokrat memasuki Jembatan Suramadu, SBY menyampaikan pesannya kepada Jokowi. Isi pesannya kira-kira begini: Jembatan Suramadu ini dirancang di jaman Presiden Megawati, yang menyelesaikan adalah pemerintahan SBY, dan SBY tidak melupakan Megawati. Sang Resi memang politisi santun. Ia tak membalas jurus Hambalang Jokowi yang kasar dengan jurus yang kasar pula. SBY paham, yang kasar akan bisa dikalahkan oleh yang halus.

Kalau dari sisi pengalaman di pemerintahan, SBY menang segala-galanya dari Jokowi. SBY adalah jenderal ahli strategi di zaman Soeharto. Ia juga pernah menjadi menteri di zaman Presiden Gus Dur dan juga Megawati. SBY juga presiden dua periode yang berjalan mulus tanpa gejolak yang berarti.

Sedangkan Batman eh Jokowi baru punya pengalaman sebagai wali kota Solo 1,5 periode dan Gubernur DKI Jakarta setengah periode kurang sedikit. Yang unggul dari Jokowi mungkin jebakan Batman-nya. Tapi jebakan Batman pertama yang dibuatnya di Hambalang pun gagal lantaran Jokowi lupa bahwa proyek Hambalang mangkrak karena menjadi barang bukti KPK untuk kasus korupsi. "Barang bukti itu, Jok, tak boleh diutik-utik tanpa izin KPK," tulis seorang netizen menyindir Jokowi.

Sedangkan SBY menggunakan jurus-jurus meminjam tenaga lawan. Jurus ini halus, tapi menyentak dan mematikan. Ketika menyampaikan soal Proyek Jembatan Suramadu, sang resi menyerang dan sangat halus tapi mematikan. Pesan itu bisa dimaknai begini oleh orang Surabaya: masio jaman ibumu mangkrak terus tak beresi nang jamanku, tapi aku yo gak lali karo ibumu, le.

Belakangan, yang lebih parah dari rezim Jokowi adalah kabar yang baru saja beredar. Kabar itu menyebutkan, APBN Perubahan di era Jokowi adalah menurunkan target pendapatan negara, baik itu pendapatan dari pajak maupun bukan pajak. Wah, matek. Kalau itu yang terjadi alamat proyek-proyek infrastruktur yang sudah direncanakan pemerintah bakal tertunda pengerjaannya.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro, seperti dikutip situs teropongsenayan mengatakan bahwa pemerintah merevisi target penerimaan pajak 2016 dari semula Rp 1.360,2 triliun menjadi sekitar Rp 1.226,94 triliun. Berkurang Rp 133,26 triliun. Ini adalah penurunan yang cukup besar. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang ditargetkan Rp 52 triliun, realisasinya hanya Rp 29,6 triliun. Berkurang Rp 23,4 triliun. Turun cukup drastis hampir 50 persen. 

Sementara sektor minyak yang selama ini menjadi sektor SDA menyumbangkan paling besar tahun ini terpaksa pemerintah nombok, karena biaya produksi minyak yang ditanggung negara melalui cost recovery lebih besar dari nilai penjualan minyak.

Kalau target APBNP 2016 diturunkan maka secara otomatis seluruh proyek yang direncanakan pemerintah akan tertunda atau bahasa lainnya mangkrak. Padahal pemerintah Jokowi telah merancang berbagai mega proyek yang dijamin dengan APBN dalam tahun 2016. Penurunan target pengeluaran dalam APBNP akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melemah, pengangguran akan semakin meluas.

Bahkan, ada pengamat yang memperkirakan NKRI di ambang bangkrut, karena penurunan target pendapatan negara baru kali ini terjadi. Gaswat...! Eh..., gawat..! And...., the winner is.... Kita tunggu saja babak berikutnya.**

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda