Mengenang Datta Wardhana

Salah Satu Lokomotif Opini JP

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Maksum

----------------------------

TAHUN 1985 - 1989, masa-masa awal Jawa Pos berupaya menjadi market leader di Jawa Timur, tidak banyak kalangan kampus yang tertarik menulis opini. Saat itu para penulis lebih kenal koran lain yang memang sudah lebih mapan. Lebih popular dan lebih prestisius di kalangan kampus. Misalnya, kalau di Surabaya ialah Surabaya Post.

Ketika itu untuk lebih mendekatkan Jawa Pos ke kalangan kampus, khususnya di Surabaya, pimpinan Jawa Pos, Pak Dahlan, membentuk tim penulis opini yang diminta rutin dan terjadwal menulis di Jawa Pos.

Ada tujuh orang yang saya ingat saat itu menjadi penulis tetap di Jawa Pos. Mereka pun secara tidak langsung mewakili masing-masing kampus besar tempat mereka menjadi staf pengajar.

Ada Datta Wardhana (IKIP Surabaya, kini UNESA), ada Soetandyo Wignjosbroto (almarhum/ Unair), ada Kresnayana Yahya (ITS). Ada pula Tjuk Sukiadi (Fakultas Ekonomi, Unair)  Ada pula dua orang praktisi bisnis dan marketing yakni Basroni Rizal (almarhum/ Kadin Jatim), dan Hermawan Kartajaya (praktisi marketing). Belakangan bergabung pula Suroso Imam Djazuli (Fakultas Ekonomi, Unair) setelah Basroni Rizal tidak bisa aktif menulis lagi.

                                                                *

Pak Datta Wardhana yang saya ingat menulis di Jawa Pos tiap Rabu. Tulisan-tulisan almarhum Pak Datta  lebih banyak tentang pasar modal. Saat itu pasar modal Indonesia belum berkembang pesat seperti sekarang. Nah, Pak Datta rutin menyajikan perkembangan pasar modal hampir di semua tulisannya.

Tulisan-tulisan almarhum Pak Datta juga tergolong bagus dan news worthy untuk ukuran saat itu. Almarhum juga saya dengar senantiasa memperkenalkan tulisan yang dimuat Jawa Pos kepada para mahasiswanya di IKIP Surabaya.

Dengan kata lain, melalui tulisan-tulisan yang senantiasa dijadikan referensi ringan perkuliahan di kampusnya, Pak Datta turut pula “memasarkan” Jawa Pos di lingkungan IKIP Surabaya.

Diakui atau tidak, barangkali sejak itu makin banyak pula kalangan akademis di IKIP Surabaya yang mulai tertarik untuk  menulis di Jawa Pos. Pak Datta pun dengan begitu boleh jadi patut dianggap sebagai salah satu lokomotif penulis opini, terutama bagi generasi penulis berikutnya dari perguruan tinggi yang kampusnya saat itu masih bermarkas di kawasan Ketintang, Surabaya.

Pak Datta –juga Pak Pak Tandyo, Pak Tjuk, Pak Kresnayana, Hermawan, Basroni Rizal, dan Pak Suroso— barangkali patut dicatat sebagai tokoh-tokoh kampus di Surabaya yang saat itu turut “membesarkan” Jawa Pos. Ketika itu, pada 1980-an Jawa Pos memang belum menjadi perusahaan media besar.

                                                                     **

Waktu dan era pun berganti seiring langgam zaman yang terus berubah. Jawa Pos juga kian berkembang menjadi salah satu media besar di Indonesia. Pada saat yang sama para penulis dari kampus di luar Surabaya mulai kenal nama besar Jawa Pos.

Penulis dari UGM Jogjakarta, Universitas Indonesia, dan bahkan perguruan tinggi di luar negeri pun ikut tertarik untuk menulis di Jawa Pos karena prestise dan popularitas Jawa pos sudah setara dengan koran-koran nasional lain yang terbit di Ibu Kota Jakarta.

Misalnya, Gus Dur, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Prof Mohtar Mas’oed, Prof Amien Rais, Yahya A. Muhaimin, Afan Gaffar (almarhum), Riswandha Imawan (almarhum) atau Arief Budiman (Australia), atau R. William Liddle (Amerika).

Sejak itu, persaingan untuk menulis di Jawa Pos semakin ketat pula. Makin banyak pula generasi baru penulis yang ide dan opininya tidak kalah berbobot dengan penulis senior. Sejak itu pula para penulis tetap Jawa Pos yakni Pak Datta, dan lain-lain tidak bisa dipertahankan. Dibubarkan. Kalau mereka menulis di Jawa Pos maka sifatnya insidental. Tidak lagi terjadwal tetap. Itu pun karena persaingan yang ketat tidak ada jaminan tulisannya dimuat.

Buntutnya ialah penulis opini tetap di Jawa Pos seperti Pak Datta, Pak Tandyo, Pak Tjuk Sukiadi, Pak Basroni, dan Pak Suroso secara tidak langsung terpaksa harus “lengser.”

Bahkan dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan Pak Datta, almarhum pernah nyindir saya. “Gitu ya perlakuan Jawa Pos terhadap orang lama. Sombong ya sekarang,” katanya meski dengan nada bergurau.

                                                                   ***

Ketika Minggu (7 Februari 2016) saya mendengar Pak Datta wafat saya terkejut. Saya teringat beliau (almarhum). Dengan segala kekurangan dan kelemahan almarhum sebagai manusia, kita patut mengenang jasa almarhum sebagai salah satu tokoh awal kampus di Surabaya yang menjadi lokomotif penulis opini di Jawa Pos.

Innalillahi Wainnailaihi rojiuun. Selamat jalan Pak Datta. Insyaalloh almarhum meninggal dengan husnul khotimah. (mk)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda