Dahlan Iskan, Sekarang Tidak Pelit

CAIR: Dalan Iskan hadir di Reuni ke 7 dan Ulang Tahun ke 2 CoWasJP.

COWASJP.COM – ockquote>

“Akhirnya... pak Dahlan menyumbang,” kata eks Wartawan Jawa Pos (JP) ke saya, kemarin. Dahlan donasi untuk acara reuni eks karyawan JP di Hotel Grand Surabaya, Minggu siang tadi.

Kok pakai kata ‘akhirnya’? Juga disampaikan gembira?

“Tahu sendiri.... pak Dahlan sangat pelit,” ujarnya. 

Saya membenarkan ucapan itu. Selama ini saya heran. Dahlan dikenal masyarakat sebagai dermawan. Menyumbang pesantren, masjid, dan banyak lagi.

Tapi, mayoritas eks karyawan JP mengenal Dahlan sebagai pelit. Padahal, dia dibesarkan dari JP. Dan, JP besar didukung banyak karyawan. 

Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, kini Owner Jawa Pos (JP) Group, orang terkaya Indonesia urutan ke-90. Mengalahkan kekayaan anak-anak mantan Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana ke- 132 dan Bambang Trihatmodjo ke-124. (data Pojoksatu.id, 27 Maret 2017). 

Dahlan pemimpin hebat. Saya berkarir jurnalistik di JP selama 24 tahun sejak 1 Agustus 1984. Jabatan terakhir saya Redaktur Pelaksana Indo Pos (anak JP di Jakarta). Saya menyaksikan kehebatan Dahlan.

Kawan-kawan wartawan JP mengatakan: “Kalo kamu diajak pak Dahlan ati-ati...” Kenapa? “Gak papa...

Cuma kamu harus siap duit cukup di kantong.” Kok bisa? “Ya... dia sering gak bawa duit.”

Saya tak percaya.

Memang, asalnya Dahlan bukan orang kaya. Tahun 1980-an dia wartawan Majalah Tempo di Jatim.

Tempo take-over koran Jawa Pos pada 1982. Itu koran gak laku. Dahlan dijadikan Pemimpin Redaksi JP (pegawai). Dia mau. 

JP menggeliat. Dahlan didukung tim sangat hebat. Seumpama hebat biasa, gak mungkin sukses. Pasti.

Sebab, lawannya Surabaya Post, koran laris oplag 100 ribu eksemplar per hari. 

Saya sebut ‘The Dream Team JP”. Bekerja total in the right moment. 

Saya analogikan: JP waktu itu bagai Pesawat take-off.  Mesin bergemertak dahsyat. Dipacu maksimal. Panas luar biasa... 

Sebelum bisa auto-pilot, lalu bermanuver di langit.

1990-an Dahlan minta saham JP. Wajar, dia CEO. Diberi oleh owner. Sekitar 1997 dia sudah owner JP sepenuhnya. JP bisa bermanuver mendirikan 200 anak perusahaan. Kini diwariskan ke anaknya.

Kenyataan, manajemen JP irit luar biasa. Hemat pangkal hebat. Itu betul. Semua bisnis sejatinya begitu.

Mantan Wartawan JP Umar Fauzi, yang belasan tahun berkarir di JP sejak 1993, bercerita.

umaryLIH.jpgUmar Fauzi (batik corak kuning)

Menurutnya, seorang Wartawan JP angkatan 1984 yang sudah berkarir 25 tahun di JP, punya koleksi unik.

Apa itu?

“Duit biru, lima puluh ribu. Dipigura, dipajang,” kata Umar ke saya, Februari 2017.

“Unik juga.”

“Katanya, itu satu-satunya pemberian pak Dahlan padanya, di luar gaji.”

“Selama dua puluh lima tahun?” tanyaku

“Seperempat abad.”

“Ah... Masak?”

“Silakan datang ke rumahnya. Semua teman Surabaya tau.”

Terpicu Oleh Sumbangan Pangdam Brawijaya

Sumbangan Dahlan Rp 15 juta di acara reuni eks karyawan JP, dinilai mantan karyawannya sebagai perubahan sikap yang positif. Sangat baik. Disambut gembira oleh bekas karyawan JP yang kini sudah pada tua. 

Acara itu dikemas sebagai peringatan HUT ke-2 Cowas JP (Konco Lawas JP). Cowas JP beranggota para eks karyawan JP.

Pagelaran di Hotel Grand Surabaya, mewah (untuk ukuran bekas karyawan) atas inisiatif mantan Wartawan JP, Aqua Dwipayana. 

Aqua kini motivator sukses. Sekali tampil tarifnya konon Rp 60 juta. Beberapa waktu lalu dia menyisihkan hartanya Rp 1 miliar. Digunakan untuk memberangkatkan 35 orang kawannya naik haji. Sebagian besar eks karyawan JP Grup.

Aqua menyumbang Rp 40 juta untuk acara reuni eks JP. Tapi, dia merasa itu masih kurang. 

Lantas dia menghubungi Panglima Kodam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko, selaku pribadi, untuk minta bantuan. Kebetulan, Mayjen TNI Kustanto akrab dengan Aqua.

Ternyata, Mayjen TNI Kustanto menyambut antusias. Atas nama pribadi, dia membantu penginapan untuk eks JP dari luar Surabaya. Kustanto menyiapkan puluhan kamar gratis di Hotel Sutos, Surabaya.

Tapi, karena tamunya sedikit, hanya digunakan delapan kamar.

Bahkan disiapkan banyak kendaraan untuk menjemput tamu dari bandara, stasiun KA, dan terminal.

Juga angkutan mondar-mandir di Surabaya bagi para tamu.

Akhirnya, Dahlan ikut menyumbang Rp 15 juta. Para bekas karyawannya senang. Mereka menyalami mantan bos dengan riang-gembira. Alhamdulillah... sudah baik.

Rejeki Anak Soleh

Ini pengalaman saya:

Siang, 1992, saya (selaku wartawan JP) menghadiri konferensi pers di Hotel Sahid, Jakarta. 

Saat masuk hotel, ketemu Wartawan JP, Zarmansyah. Dia juga menghadiri konferensi pers, tapi beda acara dan beda ruangan dengan saya. Pencar.

Konferensi pers, berdasar doktrin Dahlan, harus dihindari wartawan JP, jika tidak penting. Konferensi pers umumnya peluncuran produk. Promosi. Beramplop (amplop isi uang).  

Namun, acara yang akan saya hadiri ini terkait bidang saya.

Bidang tugas saya: Features. Berita penulisan sastra. Jurnalisme sastra. Di Amerika disebut “Literary Journalism”, dipelopori Truman Capote 1957. Di JP namanya “Boks”. Pemuatannya dikotaki (boks).

Mencolok. Ini unggulan. Bentuknya humanisme, dramatik, unik.

Ternyata di hotel itu juga ada Dahlan.

Saya ketemu dia dekat lift, dia menyapa:

“Dwo, ada acara apa?” tanyanya.

“Saya akan menghadiri jumpa pers, pak Bos. Tema acaranya tentang.....”

“Kamu punya uang kecil, gak?” dia memotong.

Saya terkejut. Kaget dipotong. Kaget berpikir, uang sekecil berapa? Ini bos-ku, lho. 

Uang di kantong saya Rp 7 ribu. Saya mereka-reka, apakah Bos butuh uang parkir? Atau...

“Butuhnya berapa pak?”

“Lima puluh aja.”

Tuh... ‘kan. Gede ‘kan. Untuk ukuran zaman itu lumayan gede.

“Sebentar, pak,” saya bergegas pergi. 

“Cepat, dwo.. saya tunggu disini, ya.” 

“Siap, pak....”

Mungkin Dahlan mengira, saya menuju ATM. Di dalam hotel ada ATM beberapa bank.

Tidak. Saya tidak ke ATM. Saya bergegas masuk Prambanan Room, tempat Zarmansyah mengikuti konferensi pers yang sedang berlangsung.

Saat Zarman serius mencatat, dia saya dekati:

“Man, kita perlu menghadap Pak Dahlan, di luar,” kataku.

“Di hotel ini?”

“Ya.”

Kontan, Zarman berdiri. Meninggalkan acara. Keluar bersama saya.

Setelah kami dekat Pak Dahlan, saya katakan: 

“Pak... uang saya tidak cukup. Siapa tahu Zarman punya.” 

Dahlan kini memandang ke Zarman: “Ya, punya lima puluh, Man?” tanyanya.

Zarman tertegun. Bingung pol.

Saya cekikikan, dalam hati. Tapi, saya tahan tawa sekuatnya. Memandangi Zarman. Seolah memberikan tekanan ke dia. Saya berlagak serius. Atau berlagak bego?

Pelan-pelan, Zarman mengeluarkan dompet. Lamban. Dia kayak ogah-ogahan. Hati saya senang.

Bakal aman neeh...

Zarman menghitung uang. Ribuan. Lima ribuan. Receh-receh. 

Heran, pas Rp 50 ribu. 

Hati saya melonjak-lonjak. Aman.... terkendali...

Zarman serahkan uang ke Dahlan. Lalu Dahlan berkata:

“Nanti kamu minta ganti ke Endang, ya,” katanya, sambil beranjak. Maksudnya: Endang, bagian keuangan JP Jakarta.

Zarman mengangguk. Dahlan pergi.

Sepi. Zarman memandang saya. Sebaliknya saya pandang Zarman. Kayaknya beres. Eee... tiba-tiba Zarman pecah:

“Jiancuk… awakmu mblusukno (menjerumuskan) aku,” katanya.Saya gak mau kalah. Menjawab: 

“Ini kepentingan bos kita, lho...”

“Yo... tapi kenapa ke aku?”

“Lha... duitku kurang.”

Kubuka dompet, kutunjukkan isinya. Kukeluarkan juga recehan di saku celana.

Zarman berubah ketawa, cekikikan. Kami ketawa.

Memang, bagi orang Surabaya, kata “jancuk” tidak selalu berarti marah. Bukan pasti sumpah-serapah.

Bisa bergurau. Bisa juga sapaan akrab.

Zarman ketawa. Saya ketawa. Orang yang lalu-lalang di hotel itu melirik kami.

Sudah... ikhlaskan.

Sekarang kami sama-sama tertarik: Buat apa uang itu? Kok bisa-bisanya?

Kebetulan, Dahlan belum jauh. Dia celingukan. Kayaknya mencari seseorang, dekat pintu utama.

Ngapain?

Kami sama-sama ngumpet. Berlindung di balik tanaman hias dalam pot. Penasaran. Mengintip dari balik dedaunan.

Orang yang dicari Dahlan ketemu juga. Seorang pemuda berseragam hotel. Mungkin bell-boy atau doorman. Dahlan mencoleknya, doorman menoleh.

Dahlan menyalami. Doorman bersarung tangan putih, menerima salam. Sedetik kemudian, wajah doorman kayak terkejut. Salaman belum dilepas. Lengket.

Diduga kuat, itu salam tempel. Doorman pasti kerepotan. Uang recehnya gerombolan. Bagaimana kalau salaman dilepas, receh bertebaran? Sarung tangan, licin. Suasana lobby begitu ramai. Gawat.

Betapa pun, salaman dilepas juga.

Dan... terjadilah ini:

Sigap. Cekatan. Cepat. Berakhir aman.

Saya berkedip-kedip, menajamkan penglihatan: Posisi jari doorman mengenggam. Rapat. Sikap siap.

Lantas mengangguk ke Dahlan.

Saya bergumam:

“Terima kasih... terima kasih... ” 

Zarman ketawa, ditahan. Kami sama-sama berusaha menahan tawa.

Bener-bener.... rejeki anak soleh.

Kami meninggalkan hotel. Sama-sama hendak ke kantor. Menuju parkir motor masing-masing. Dalam perjalanan menuju parkir, Zarman mengatakan:

“Dwo... kamu utang aku: dua lima, ya.”

“Siap....”

Saya langsung paham. Bakal sulit Zarman minta ganti ke bagian keuangan. Semua rembes (reimburse) pasti minta bukti.

Tamat. 

Kisah ini saya dedikasikan buat wartawan JP angkatan ‘Pesawat Take-off’. Yang kini jualan kopi, nyeduh sendiri. Jualan tahu tek-tek, ngulek sendiri. Jualan nasi uduk, suami-isteri. Jualan lumpia di trotoar, kaki lima.

Sopir taksi Grab. Dagang gorengan, lontong isi kentang, nasi kucing sambel tempe Rp 4.000-an.

Garing-getir.

Semangatlah, bro... sist... Life must go on. (Jakarta, 13 Agustus 2017)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda