Menanti Kejutan dari DWO

Menunggui ibu mertua yang lagi di opname.

COWASJP.COM – ockquote>

Sambil nungguin mertua opname di RS Bunda, Palembang, saya bikin catatan ringan. Setiap catatan yang saya unggah di FB direspon ratusan 'klik'. DWO yang paling banyak 'penggemar'.

LEBIH dari 20-an tahun saya tak pernah kontak lagi dengan Djono Wikanto Oesman. Inisial dalam beritanya dulu ketika masih di Jawa Pos adalah DWO. Hingga suatu hari, sekitar 1,5 tahun yang lalu, saya meneleponnya dari Palembang. Posisinya sendiri di Jakarta.

Awalnya dia lupa-lupa ingat sama saya. Maklum saja, ketika saya masuk Harian Pagi Jawa Pos --masih bermarkas besar di Jalan Kembang Jepun, Surabaya pada akhir 1988-- DWO atau Jono, panggilan akrabnya di kantor, sudah memperkuat Biro Jakarta. 

Saya justru mengenalnya ketika ditugaskan babat alas Tabloid NYATA (anak perusahaan Jawa Pos) di Jakarta. Kami sama-sama berkantor di Jalan Prapanca Raya 40 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Walau sama-sama sekantor, namun kami jarang ngobrol. Hanya 'say hello' saja, kalau pas bertemu. 

RPFyUI.jpg

Yang saya tahu, O --saya lebih sering memanggilnya demikian-- adalah reporter andalan Jawa Pos.

Urusan features, sampai sekarang belum ada yang menandingi tulisan lelaki bermata agak sipit itu. O memang jauh lebih jeli memotret, sekaligus menangkap objek liputannya. Itulah sebabnya dia menjadi ikon liputan bergaya features Jawa Pos hingga saat ini.

Pamor O makin menanjak ketika dia menulis novel dan buku biografi seorang pejabat top di Jakarta. Artinya, namanya semakin dikenal orang. Untuk setiap buku biografi, honor yang diterima O sudah tembus angka minimal Rp 80 juta per buku. Rekor honor penulisannya, seingat saya, Rp 115 juta untuk sebuah buku biografi pejabat paling populer di Jakarta ketika itu.

Saya sangat respek terhadap O, bukan karena saya pernah diberinya duit atau ditraktirnya makan di restoran elite di Jakarta. Namun, O memberikan banyak advis dan cerita panjang-lebar tentang bagaimana seharusnya menulis buku biografi tokoh, atau sejenisnya.

taufiqgLqX.jpg

Ketika saya bercerita bahwa pernah dikemplang seorang bupati atas jasa penulisan buku biografinya, O langsung tertawa kecil. 

"Saya sudah mengalaminya. Lain kali mintalah honornya, sesuai dengan kesepakatan tertulis. Hari gini susah mempercayai orang, Fiq. Majulah... Jangan pernah putus asa. Aku yakin kamu bisa, karena kamu supel... mau susah...," jelas O lewat sambungan telepon.

RENDAH HATI

Sejak itulah saya makin menaruh hormat kepadanya. Ketika saya tanya, apa saja yang jelas-jelas telah diperolehnya dari penerbitan sebuah buku biografi seorang pejabat top di Jakarta yang dikarang dan diterbitkannya sendiri, O menjawab gamblang,"Aku bisa melunasi biaya kuliah anakku. Juga bisa membeli mobil bekas buat anakku."

Bagi saya, keterbukaan O dalam membocorkan salah satu sisi kesuksesan bukunya itulah yang menjadi poin terbesar atas respektasi saya ke dia. Termasuk bagaimana bertanggungjawab terhadap anak-anaknya. Jadi, bukan masalah nominal kesuksesan buku itu sendiri. 

Sejak itulah saya beberapa kali kontak ke dia lewat telepon. Di mata saya, O sudah pantas saya tempatkan sebagai guru yang bisa 'digugu lan ditiru'. Beberapa trik meraih sukses besar dalam penerbitan buku, khususnya biografi, dibeberkannya secara detil kepada saya.

Saya berpedapat, O adalah 'kompor' terbaik bagi saya untuk sebuah proses produktif di dunia penulisan buku. 'Kompor merek O' senantiasa menyalakan api birunya demi menjaga kreativitas penulisan saya. 

umarI74Qa.jpg

Mohon maaf, jika saya berpendapat: tidak semua orang memiliki jiwa seperti O. "Kalau memang kita berdua perlu berkolaborasi, saya siap bantu kamu, Fiq," katanya, serius.

Nah, saya mendapat kontak lagi dari O ketika saya menjadi Ketua Panitia Reuni VII & Ulangtahun ke-2 Cowas Jawa Pos. Acara yang diikuti hampir 200 orang  mantan karyawan Jawa Pos itu dilaksanakan 13 Agustus yang lalu di Hotel Grand Surabaya.  "Taufiq, maaf... aku nggak bisa datang di reuni. Aku sangat repot. Sudah punya janji dengan relasiku... Maaf banget," ujar O.

Saya mencoba memahaminya. Walaupun kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh kami semua, tetapi saya tetap menyadari aktivitas O yang dulu memiliki akses khusus di kalangan waria, gay, dan lesbian di Surabaya tersebut. Sebuah novel karangan O kini diangkat dalam sebuah film layar lebar dengan Cut Mini sebagai salah seorang bintangnya.

Pamitnya O makin menguatkan penilaian saya terhadap sang guru. Bahwa sosok yang saya kagumi ini tetap rendah hati. 

Saya sangat yakin pada HUT ke-3 Cowas Jawa Pos tahun depan,  O akan hadir dengan sedikit kejutan bagi kami semua. Kalau soal memberi kejutan kepada teman-temannya, O termasuk jagonya.

Apakah kejutan tersebut bikin orang tertawa lebar atau melahirkan pujian khusus, biarlah kita semua serahkan kepadanya saja. Bukankah kita telah sepakat, bahwa O memang jauh lebih paham tentang kejutan tadi, dibandingkan kita. Oke? (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda