''Tribute to Sukarno''

Buku tentang Sukarno dan acara Napak tilas di Bandung. (Foto: istimewa)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Roso Daras

---------------------------

TANGGAL 30 September 2016, ketika sebagian elemen bangsa mengenang peristiwa Gerakan 30 September (G-30-S) yang kontroversi itu, sejumlah anak muda justru menggelar even “Tribute to Sukarno”. Komunitas Katulistiwa Muda sebagai penyelenggara, menyebut acara itu sebagai “multi-event”. “Ada kegiatan napak tilas, diskusi, pameran, pertunjukan seni, dan lain-lain,” ujar Ren Muhammad, dedengkot Katulistiwa Muda.

Pagi hari, 30 September, peserta napak tilas berkumpul di Jalan Sukarno, Cikapundung. Mereka kemudian bergerak menuju Gedung KAA (Konferensi Asia-Afrika) sebagai tujuan pertama. Selanjutnya, arak-arakan massa menuju ke situs penjara Banceuy, salah satu sel yang menjadi saksi bisu pengerangkengan terhadap jiwa merdeka Sukarno. Dari Banceuy, peserta melanjutkan perjalanan ke Gedung Indonesia Menggugat. Di sini Bung Karno dan kawan-kawannya diadili. Di gedung ini juga Sukarno menyampaikan pledoi yang mengguncang dunia berjudul “Indonesia Menggugat”.

Acara berhenti sejenak untuk memberi kesempatan peserta beristirahat, sholat, dan makan siang. Agenda selanjutnya, digelar di Rumah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul, Bandung. Dus, peserta napak tilas tadi, melanjutkan perjalanannya ke rumah Ibu Inggit.

Di situs rumah Ibu Inggit itu “Tribute to Sukarno” berlanjut. Panitia sudah menyiapkan konser marhaen, Kelimutu Fest, monolog kebangsaan, serta sarasehan buku. Atas bantuan putra Ratna Djuami, Tito Asmarahadi, maka di tempat itu digelar juga acara pameran memorabilia Bung Karno. Ratna Djuami yang biasa disapa Omi, adalah anak angkat Bung Karno – Inggit Garnasih. Omi adalah keponakan Inggit.

Ren Muhammad bekerja keras untuk mewujudkan acara ini. “Kami sempat merasa kuwalat sama Bung Besar.... Awalnya kami ingin membikin acara dengan megah.... Tapi sandungan demi sandungan kami dapatkan. Akhirnya kami sadar, Bung Karno tidak menyukai kemegahan untuk mengenangnya. Beliau sosok sederhana, manusia yang lebih suka menggali api daripada abu,” ujar Ren.

Ia merasa beruntung, acara yang sepenuhnya digagas, diprakarsai, dan dilaksanakan anak-anak muda itu, mendapat sambutan antusias dari para senior. Dukungan datang dari Roso Daras (Ketua Dewan Pembina Yayasan Aku dan Sukarno), Wisnu Nugroho (Pemimpin Redaksi Kompas.Com), Bonnie Triyana (Pemimpin Redaksi Majalah Historia), serta keluarga besar Bung Karno. “Kami didukung Bapak Tito Asmarahadi. Beberapa hari lalu kami juga beraudiensi dengan Ibu Puti Guntur Soekarno, dan mendapat dukungan beliau,” ujar Ren.

PUTI-SUKARNOWkua.jpg

Ren Muhammad (kanan) saat audiensi di Puti Guntur soekarno (tengah).​ (Foto: istimewa)

Ren menambakan, perhelatan ini adalah bentuk upaya anak muda berterimakasih pada seorang anak manusia yang telah mengorbankan diri-hidupnya bagi banyak orang yang sedang tertindas. Bagi rakyat yang ia cintai--juga sayangi. Bagi kehidupan umat manusia pada umumnya. Terbukti, sampai akhir hayatnya, ia adalah "anak kesayangan" banyak bangsa dunia, yang ia bela dari ketertindasan.

Buat Ren, manusia Sukarno adalah sosok perdana yang mengakhiri era kerajaan konsentris Nusantara secara de facto, dan mengubahnya menjadi bayi republik Indonesia. Sebagai pencetus, pendiri, dan presiden, Sukarno layak ditahbis sebagai purwarupa manusia Indonesia. Segala yang bermula darinya, kini kita yakini menjadi keindonesiaan. Ia adalah Manusia Indonesia Pertama.

“Demi mencuatkan ide itu, sepakat membungkus ide ini dalam sebuah gerakan apolitis. Non-partisan. Murni tanda cinta yang tak seujung kuku perjuangannya. Kami hanya segelintir pemuda yang tak mau menyerah kalah pada keadaan yang timpang. Kami sedang berusaha keras melatih diri berterima kasih atas segala jerih para pendahulu. Para tetua bangsa yang bahkan rela menyerahkan hidupnya demi sebuah gagasan besar bernama Indonesia,” papar Ren.

Zaman apa pun yang datang silih berganti, pasti pada akhirnya diletakkan di bahu para pemuda-pemudi. Amanah itulah yang seharusnya kita ambil dan tempuh dengan sepenuh hati. Kita takkan bisa hidup seperti sekarang, jika para tetua bangsa tak memartirkan hidupnya. Bertungkus lumus, berjelaga nestapa. Demi masa depan cerah bagi anak cucunya: KITA. Demikian Ren Muhammad.

Kegiatan ini juga bisa dipandang sebagai sebuah upaya mengenalkan lagi sosok Bung Karno pada generasi muda terkini Indonesia, yang mungkin tak tahu bahwa pendiri negara dan presiden pertamanya tak cuma keren, namun mengagumkan. Meski kisah hidupnya dibenam Soeharto di bawah rezim Orde Baru, nama dan jasa Sukarno tetap hidup dalam hati sanubari bangsa Indonesia generasi perdana. “Itu fakta yang tak bisa dibantah,” tegasnya.

Acara “Tribute to Sukarno” diawali dengan Lomba Menulis Esai tentang “Sukarno Manusia Indonesia Pertama”. Para pemenang lomba akan diumumkan di puncak acara, 30 September 2016 di Bandung. ***

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda