Ke Wamena Naik Pesawat Kargo

Melintas di Celah Gunung Rawan Kecelakaan

Penulis Melihat air sungai Beliem jalan kaki 4 jam pergi pulang. Adu nyali di atas jembatan gantung. Di bawahnya sungai Beliem yang airnya tak pernah surut.(Foto: nasaruddin Ismail/CoWasJP)

COWASJP.COM – ockquote>

C a T aT a N: M. NASARUDDIN ISMAIL

------------------------------------------------------

PERISTIWA kecelakaan pesawat Trigana Air di Wamena Jayawijaya, kemarin, mengingatkan saya naik pesawat kargo tersebut sekitar tiga tahun lalu. Saat itu saya naik Trigana yang mengangkut beras menuju ke Lembah Beliem itu. Saya satu-satunya penumpang selain awak pesawat.

Satu-satunya jalan yang menuju ke Wamena adalah melalui udara. Di sana tidak ada jalan raya yang menuju ke Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya tersebut. Medannya memang sulit. Melintasi gunung yang terjang dan jurang yang dalam.

Karena itu, pemerintah belum membuka akses melalui darat. Sebab itu pula, semua kebutuhan masyarakat di Wamena, seperti beras, minyak, semen, besi, ikan dan sebagainya harus melalui udara. Dan pesawat kargo Triganalah yang banyak bergerak dalam bidang pengakutan logistik. Perusahaan ini pulalah yang memiliki pesawat kargo jenis boing yang digunakan untuk ke Wamena.

NASARUDINlzaqN.jpg

Penulis (kaos hitam) dengan pesawat kargo Trigana Air yang menuju Wamena. (Foto: Nasaruddin Ismail/CoWasJP) 

Untuk menuju ke lembah yang lusnya sekitar 6.581 km persegi itu, pilot harus memiliki kecakapan tersendiri. Sebab, untuk menuju ke bandara Wamena hanya ada satu lorong. Sebelah kiri dan kanannya terdapat gunung yang terjang, sehingga tak heran kalau sering terdengar pesawat yang tabrak gunung di Jayawijaya.

Bila pintu masuk yang menuju ke Wamena itu tertutup awan, maka pesawat bisa tabrak tebing yang terjal itu. Lantas bagaimana kalau terbang tinggi dan tidak melewati lorong tersebut ? Bila tidak melintasi di celah antara kedua bukit tersebut, maka pesawat akan kelewatan. Sebab, Wamena dikelilingi gunung. Wamena berada di lembah. Namanya Lembah Beliem.

Saya sudah tiga kali datang ke sana. Pertama mengikuti kunjungan Dahlan Iskan, tatkala menjabat dirut PLN. Saat itu carter pesawat Susi Air, mulai Papua Barat hingga Merauke.

DAHLAN-1NqeHE.jpg

Dahkan Iskan (paling kiri). (Foto: Nasaruddin Ismail/CoWasJP) 

Saat melintas di celah bukit itu, nampaknya sebagian tertutup awan. Akhirnya pilot mengmbil jalur yang sedikit mepet dengan tebing gunung.

Dahkan Iskan yang duduk di sebelah kanan saya, nampak kaget. Sampai-sampai badannya dimiringkan. Dan kepalanya ke lengan saya, yang seakan ingin mengindari benturan.

Saya yang tengah tidur pulas, ikut terbangun. Saya juga tidak tau, apakah pilot asing yang menerbangkan pesawat tersebut sengaja mepetkan tebing untuk menghindari awan atau tidak sengaja. Yang jelas rombongan PLN yang ada dalam pesawat semuanya kaget, termasuk saya.

Itu memang sebagai resiko bagi penumpang pesawat yang menuju ke Wamena. Dulu pernah pesawat yang ditumpangi pejabat termasuk Kapolda Irjen Pol Sumardi, satu-satunya pilot pplisi yang pernah menerbangkan pesawat tempur TNI AU, dan Pangdam Papua, kecelakaan pesawat yang menabrak gunung di Jayawijaya.

DAHLANd5Mwa.jpg

Dahlan Iskan (jaket pink) saat berada di sungai Beliem. (Foto: Nasaruddin Ismail/CoWasJP) ​

Setelah Dahlan Iskan tidak jadi dirut PLN, saya dua kali ke sana. Satu kali naik pesawat komersil, satu lagi naik Trigana Air yang angkut beras. Tidak ada penumpang umum, kecuali saya. Selebihnya crew pesawat.

Saya boleh naik pesawat kargo itu, karena semua peralatan untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) PLN di Sungai Beliem, mencarter Trigana Air. Saya ke sana pun hanya untuk melihat proyek yang sedang dibangun oleh PLN melalui sebuah anak oerusahaannya PT Pusharlin.

Kerena letaknya di lembah itu pula, kehidupan masyarakat Wamena yang kebanyakan asal suku Dani ini, masih primitif. Umumnya masyarakat mengenakan koteka dan tak beralas kaki. Naik pasawat pun ada yang mengenakan koteka. Masyarakat di sana sangat gemar minuman keras hasil oplosan sendiri.

koteka52e1t.jpg

Warga Wamena mengenakan koteka di bandara. (Foto: Nasaruddin Ismail/CoWasJP) 

Dan kalau minum bukan satu atau dua botol. Tapi satu jirigen yang berisi 5-10 liter. Waktu minumpun tak mengenal waktu. Siang bolong pun minuman keras.

Biasanya tenaga kasar yang bekerja di proyek PLN adalah penduduk lokal. Sayangnya, campur semen saja tidak mahir. Tapi agar proyek lebih aman, kontraktor menggunakan tenaga mereka. Yang penting penduduk lokal dilibatkan.

Menariknya, setelah terima gaji, satu minggu mereka beristerahat. Setelah uangnya habis untuk minum-minum, barulah masuk kerja kembali. Begitu seterusnya.

Karena proyek PLTA itu berada sekitar satu jam dari tengah kota, dan melintasi pemukiman penduduk asli, kalau kemana-mana kami harus bawa rokok. Sering mobil dihentikan para pemabuk di tengah jalam. Tapi tidak perlu panik. Cukup mengeluarkan rokok, mereka pun mengijinkan untuk melanjutkan perjalanan.

JALAN-SETAPAKTF13l.jpg

(Foto: Nasaruddin Ismail/CoWasJP) 

Wamena yang berasal dari bahasa Suku Dani, yang artinya babi jinak itu, terdapat makanan yang khas. Yaitu udang selingkuh. Udang air tawar itu, tubuhnya sama dengan ikan, tapi "cangkangnya" seperti kepiting. Konon menurut cerita masyarakat di sana, karena berselingkuh dengan kepitung itulah yang membuat cangkangnya persisis dengan kepiting.

Untuk obyek wisata, di Wamena terdapat penyimpanan mumi yang berusia ratusan tahun. Bila berkunjung ke tempat tersebut, akan disambut oleh gadis-gadis belia tanpa penutup dada. Untuk melihat, rasanya risih. Tapi itulah tradisi masyarakat Wamena.

Ada juga mata air di atas gunung yang radanya asin. Aneh, tapi itulah kenyataannya. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda