Ayo Berjihad Lawan Narkoba

Kantor BNN Jakarta (Foto: tempo)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Imam Kusnin Ahmad

-----------------------------------------

 

IBARAT sedang perang, negeri  kita Indonesia sedang dibombardir dari berbagai arah oleh bandar Narkoba. Melalui darat, udara, dan laut.  Terbukti setiap hari ditemukan modus baru bagaimana agar Narkoba bisa masuk ke Indonesia.

Padahal semua pihak sudah siaga satu agar dadah tidak bisa masuk Indonesia. Namun nampaknya pertahanan Indonesia tetap goyah. Terbukti, peredaran Narkoba di negeri ini tetap besar. Pasarnya tidak hanya di perkotaan, juga sampai di pelosok-pelosok desa.

Padahal setiap hari  penegak hukum plus BNN (Badan Narkotika Nasional) berhasil mengungkap dan menangkap tersangka pelaku peredaran Narkoba. Jeratan hukuman juga udah dimaksimalkan, bahkan sampai pada hukuman mati.

Namun nampaknya cukong dan mafia perdagangan Narkoba tetap besar. Kalau awalnya mereka masuk melalui bandara-bandara internasional dan nasional, kini mereka membuat strategi baru memasok melalui pelabuhan–pelabuhan kecil. Bahkan melalui kapal nelayan.

Akibat perang itu, tidak kurang dari 42 orang warga Indonesia per hari meninggal sia-sia akibat mengonsumsi Narkoba dari berbagai jenis. Ini sesuai data yang diungkap BNN Pusat.

Tren perkembangan kejahatan atau penyalahgunaan Narkoba dari waktu ke waktu menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan kasus-kasus yang terungkap oleh jajaran Badan Narkotika Nasional (BNN)  hanyalah merupakan fenomena gunung es, yang hanya sebagian kecil saja yang tampak di permukaan sedangkan bagian besar bawahnya tidak terukur. 

Disadari pula bahwa masalah penyalahgunaan Narkoba merupakan masalah nasional dan internasional karena berdampak negatif yang dapat merusak serta mengancam berbagai aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara, serta dapat menghambat proses pembangunan nasional.

Sampai saat ini penyalahgunaan Narkoba di belahan dunia mana pun tidak pernah berkurang. Bahkan di  Amerika Serikat yang dikatakan memiliki segala kemampuan sarana dan prasarana, berupa teknologi canggih dan sumber daya manusia yang profesional, ternyata angka penyalahgunaan Narkoba makin hari makin meningkat seiring waktu.

Peningkatan ini antara lain terjadi karena pengaruh kemajuan teknologi, globalisasi, dan derasnya arus informasi. Dan yang tidak kalah pentingnya karena keterbatasan yang dimiliki oleh aparat penegak hukum dalam melakukan pemberantasan penyalahgunaan Narkoba.

Penanggulangan Narkoba di Indonesia saat ini belum optimal. Belum terpadu dan belum menyeluruh (holistik) serta belum mencapai hasil yang diharapkan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal sebagai dampak dari pembangunan secara umum dan dinamika politik, ekonomi, sosial budaya, maupun keamanan.

Bahkan  Ibukota  Jakarta telah menjadi produsen sabu terbesar di Asia Tenggara. Tak cuma itu, Indonesia pun tercatat sebagai konsumen ekstasi terbesar ketiga setelah Malaysia dan Singapura. 

Menyadari hal ini, Narkoba sama halnya dengan penyakit masyarakat lainnya, seperti, perjudian, pelacuran, pencurian dan pembunuhan yang sulit diberantas atau bahkan dikatakan tidak bisa dihapuskan sama sekali dari muka bumi.

Maka, bisanya  secara realistis hanyalah bagaimana cara menekan dan mengendalikan sampai seminimal mungkin angka penyalahgunaan Narkoba. Bagaimana kita melakukan upaya untuk mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh penyalahgunaan Narkoba.

Karena itu, ayo jihad melawan  Narkoba. Mengapa? Agar generasi  bangsa kita  ke depan sehat dan beradab. Ingat setiap hari sekitar 42 warga Indonesia meninggal dunia akibat mengonsumsi Narkoba. 

Kalau data ini benar, maka kondisi ini benar-benar sangat memprihatinkan dan  bisa dibilang Indonesia sudah benar-benar   kronis dan darurat Narkoba.

Kalau sudah demikian, semua pihak tanpa kecuali harus cancut tali wondo membendung peredaran dan pemakaian dadah ini. Mengingat bagaimana nasib anak dan cucu kita ke depan. Apa jadinya kalau masalah dadah ini terus menerus diabaikan.

Narkoba saat ini sudah tidak lagi monopoli anak orang kaya atau pejabat. Anak-anak petani dan nelayan di kampung-kampung sudah karasukan pemakian obat terlarang ini.

Bahkan yang mengerikan lagi. Penggunaan narkoba sudah merambah pada tingkatan elit pemerintah dan aparat penegak hukum. Oknum pejabat, tentara, polisi, dewan sudah banyak yang tersangkut obat-obatan terlarang ini. Belum lagi sejumlah artis papan atas Indonesia juga banyak yang kesandung kasus ini.

laskar-anti-narkobaFrt7c.jpg

Foto: panjimas

Saya salut kepada beberapa organisasi wanita, seperti Muslimat NU yang telah membentuk Laskar Anti Narkoba. Semoga langkah ini juga diikuti oleh ormas-ormas perempuan yang lain.  Mengingat peran ibu sangat penting di tengah-tengah keluarga.  Semoga dan semoga peredaran dan penggunaan Narkoba segera teratasi. Aamiiin. *

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda