Ibu, Mengapa Aku Dilahirkan?

GM JW Merriott (kanan) nampak akrab dan berbincang dengan anan-anak YPAC. (Foto: cowasjp.com)

COWASJP.COM – ockquote>

C a T a T a N: M. Nasarudin Ismail

-------------------------------------------------

Ibu, mengapa aku dilahirkan.
Ayah, mengapa aku dibesarkan.
Teman, mengapa aku dikucilkan.
Aku juga anak manusia.

ITULAH sepotong syair lagu yang sering didengungkan oleh anak-anak Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Surabaya. Lagu ini sering membuat tamu-tamu yang datang di sekolahnya melelehkan air mata. Tak terkeculi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

Maklum mereka mengumandangkan syair lagu tersebut sembari duduk di atas kursi roda. Kondisi fisiknya pun memprihatinkan. Karena 85 persen dari anak-anak binaan kami menggunakan kursi roda. Selebihnya bisa berjalan, meski fisiknya tidak normal.

Yang memprihatinkan, duduk di atas kursi roda pun sering melorot. Karena itu, kursi roda yang digunakan oleh mereka harus dipesan khusus. Sesuai dengan kondisi fisik anak-anak. Mereka tidak bisa menggunakan kursi roda sembarangan seperti yang dijual di toko-toko. Nanti badannya bisa melorot ke bawah.

Setiap hari mereka diantar dan ditunggui orang tuanya di sekolah yang beralamat di Semolowaru Utara V/2A Surabaya. 

Mereka datang ke sekolah diantar dengan sepeda motor. Dan, tempat duduk motornya pun, dimodifikasi sedemikian rupa agar anaknya tidak melorot. Ada yang duduk di depan, ada juga yang dibonceng.

Tapi banyak juga oleh ibunya diikat dengan kain panjang ke perutnya. Lalu diselimuti dengan jaket. Sehingga, terkesan seperti anak sehat. Tapi, ada lagi yang naik sepeda motor harus bertiga. Yang di belakang berfungsi mengapit anaknya yang cacat itu agar tidak jatuh. Repot memang, tapi demikianlah adanya.

Salah seorang ibu pernah bercerita. Dia berkali-kali ditangkap Polantas. Tapi, begitu tahu kalau mereka tetpaksa bonceng bertiga untuk mengamankan anak berkebutuhan khusus, akhirnya polisi pun memakluminya.

NASARUDIN-SATUVNt24.jpg

Penulis ikut melakukan olah raga bersama anak-anak YPSC, (Foto: cowasjp.com).

Maklum yang diapit di tengah badannya lebih besar dari yang dibonceng. "Kami sering ditangkap polisi Pak. Maklum yang kami bonceng badannya besar seperti ini," cerita salah seorang pengasuh putra pemilik sebuah toko variasi mobil di Jalan Kedungdoro, Surabaya.

Di tempat inilah sejak pensiun dari Jawa Pos, saya mengabdi. Saya merupakan satu di àntara dua pengurus yayasan tersebut yang laki. Selebihnya kaum Hawa. Mereka umumnya para  isteri dokter.

Ada juga yang dokter. Sebab, untuk menangani fisik mereka perlu dokter. Lagi pula yayasan ini didirikan oleh dr Soeharso, yang namanya diabadikan di KRI, sebuah kapal rumah sakit milik TNI AL itu. Karenanya, ketua yayasan pun secara turun temurun adalah isteri dokter.

Karena merasa diri segelintir kaum Adam itulah saya harus banyak berbuat untuk kemajuan yayasan ini, meski kadang-kadang sering mendapat tantangan dan rintangan dari pengurus lain, yang umumnya sudah sesepuh itu.

Namun, karena nawaitu saya untuk ibadah (maaf di yayasan ini tidak boleh menerima upah), berbagai tantangan itu saya hadapi dan selesaikan dengan cara bilhikmah. Dengan cara yang baik.

nasarudintY0Gh.jpg

Penulis saat menyuapi seorang anak YPSC setelah melakukan jalan sehat, (Foto: cowasjp.com).

Alhamdulillah, kalau dulu ruangan hanya dilengkapi dengan kipas angin, sekarang sudah banyak yang ber AC. Kalau dulu banyak yang bocor, sekarang sudah tidak lagi.

Di tempat inilah buat saya mengisi masa tua. Di tempat inilah saya menyalurkan kebiasaan sosial seperti yang sering dilakukan ketika aktif di JP (Jawa Pos) dulu untuk menangani bencana. Tentu sembari bekerja di tempat lain untuk menghidupi keluarga. Untuk membantu yayasan yang setiap bulan minus dana ini.

Di tempat ini pula, saya ingin mengajak teman-teman untuk reuni, bila berkenan. Meski tidak bisa menyuguhkan makanan yang lezat, namun bila melihat di sana, pasti kita bersyukur, karena Allah telah memberikan anak dan cucu kita, dalam kondisi yang semuanya lengkap. ***

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda