Bisnis Migas jadi Sasaran Gosip

Swasta Bebas Bisnis Minyak dan Gas

Melihat lebih dekat pengolahan gas di Tuban. (Foto: M.Nasaruddin Ismail/CoWasJP)

COWASJP.COM – ockquote>

C a T a T a N: Mohammad Nasaruddin

------------------------------------------------------

Bisnis minyak dan gas (Migas), nyaris tak pernah sepi dengan gosip. Ada saja yang menjadi sorotan oknum tertentu dalam bisnis yang menggiurkan ini. Yang paling anyar gosip pada PT Gasuma Federal Indonesia (GFI) Tuban yang bermarkas di Jakarta. Perusahaan ini meski tidak ada larangan dari pemerintah untuk ekspor, tapi digosipkan ekspor ke Singapura dan Thailand. Benarkan demikian ? Berikut hasil penelusuran  pada  sejumlah sumber yang berkaitan dengan eksport kondensat tersebut. 

BISNIS minyak dan gas (Migas), nyaris tak pernah sepi dengan gosip. Ada saja yang menjadi sorotan oknum tertentu dalam bisnis yang menggiurkan ini. Yang paling terbaru adalah gosip pada PT Gasuma Federal Indonesia (GFI) Tuban yang bermarkas di Jakarta.

Perusahaan ini meski tidak ada larangan dari pemerintah untuk ekspor, tapi digosipkan ekspor ke Singapura dan Thailand. Benarkan demikian?

Berikut hasil penelusuran  pada  sejumlah sumber yang berkaitan dengan eksport kondensat tersebut. 

Bisnis minyak dan gas, bukan lagi monopoli Petamina. Swasta pun bebas untuk menjual migas secara bebas. Bahkan pemerintah ikut mendorong swasta agar bersaing dengan perusahaan pelat merah itu. Tujuannya, agar masyarakat bias mendapatkan harga murah dan pelayanan yang terbaik.

Pekan lalu saya sempat berkunjung ke PT Gasuma, sebuah perusahaan swasta yang memproduksi gas di Tuban. Perusahaan ini, tiap hari memproduksi 50 ton LPG dan kondensat 450 barel perhari. Perusahaan tersebut memperoleh sumber flare gas dari JOB PetroChina. Istilahnya, dari pada gas itu mencemarkan lingkungan, maka diproduksilah oleh PT Gasuma. Ini pun melalui tender yang ketat.

gas-tuban-1cowasrhlxL.jpg

Lantas kenapa perusahaan ini dituduh ekspor. Direktur PT Gasuma Federal Indonesia (GFI) Pudjianto menegaskan perusahaannya tidak pernah mengekspor kondesat. Sebab, perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini menjual hasil produksinya pada perusahaan lokal PT Kimia Yasa dan PT Chandra Asri. Hanya saja, Chandra Asri memberikan PT Surya Mandala Sakti untuk memasarkannya.

Pudjianto mengatakan, sejak awal hasil produksinya dijual oleh dua perusahaan tersebut. "Kami tidak pernah mengeksport kondensat. Sebab, sudah menjual pada PT Kimia Yasa dan PT Surya Mandala Sakti," ujar Pudjianto, menjawab tuduhan orang kalau pihaknya melakukan eksport.

Pudji, sapaan akrab Pudjianto mengaku terkejut membaca media yang menuduh perusaannya mengeksport kondensat.

"Saya perlu tegaskan, kalau perusahaan kami hanya menjual pada Kimia Yasa dan PT Chandra Asri. PT Tjandra Asri memberikan PT Surya Mandala Sakti untuk menjualnya. "Dari mana info itu kalau kami yang eksport kondensat," kelakarnya sembari tertawa lebar, Kamis pagi kemarin.

Sebelum itu Direktur  Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menuding PT Gasuma Indonesia Federal mengekspor kondesat ke Singapura dan Thailand setelah mendapatkan  izin dari Ditjen Migas Kementerian ESDM. Bahkan Yusri Usman menuduh rekomendasi ekspor kondesat itu bermasalah, dengan alasan melanggar UU No 22/2001. 

Dihubungi terpisah, praktisi industri hulu migas yang enggan disebutkan namanya menilai tudingan yang dilontarkan Yusri Usman  pada PT Gasuma bisa membahayakan kelangsungan industri hulu migas.

Menurutnya, pada saat harga Elpiji rendah, PT Gasuma pastilah mengandalkan pendapatan dari kondensat. Mereka juga harus tumbuh agar industri migas juga bisa punya pembeli, khususnya yang punya gas buang besar seperti yang terjadi di Blok Tuban.

Ditambahkan, Keberadaan Gasuma sangat penting untuk mengurangi emisi gas buang, sehingga gas flare tidak melampui ambang batas. Jadi selain membantu penyediaan elpiji nasional, Gasuma juga berperan dalam perbaikan kualitas lingkungan di sekitar wilayah Blok Tuban.

gas-tuban3P3XR.jpg

"Kalau PT Gasuma hanya boleh menjual pada industri tertentu, pastilah harganya akan jatuh. Padahal, saat harga elpiji jatuh, pendapatan dari Kondensat itulah yang menjadi andalan. Karena itu, jangan melihat keberadaan PT Gasuma sepotong-sepotong, lihat juga manfaatnya untuk lingkungan, penambahan produksi elpiji dan membantu industri hulu migas yang memiliki gas buang tinggi," katanya.

Senang Pasar Dalam Negeri

Ditemui terpisah, juru bicara PT Kimia Yasa, M. Nasaruddin membenarkan bahwa pihaknya telah mengantongi izin untuk melakukan ekspor kondesat. Meski begitu, Nasaruddin menegaskan, PT Kimia Yasa siap menjual kondesat itu untuk pasar dalam negeri selama spesifikasi dan harganya cocok.

“Kalau ada konsumen yang membutuhkan kondensat, silakan menghubungi kami. Prinsip Kimia Yasa, lebih senang menjual di pasar domestik dari pada ekspor. Kalau spesifikasi dan harganya cocok, pasti kami layani,” tegasnya saat ditemui wartawan di Surabaya, Kamis (3/11/2016).

Nasaruddin menegaskan, PT Kimia Yasa mendapatkan izin ekspor kondesat  sesuai prosedur yang berlaku. Dan untuk mendapatkan izin itu tidak mudah, prosesnya panjang karena itu butuh waktu berbulan-bulan. Ditjen Migas Kementerian ESDM sangat berhati-hati mengeluarkan rekomendasi.

gas-tuban-2id5JC.jpg

Sebagai pengusaha yang merasakan suka-dukanya mengurus perizinan, membaca kritikan dari oknum-oknum tertentu, rasanya prihatin juga. “Rasanya jadi pejabat itu susah juga. Meski telah bekerja sesuai dengan prosedur, tapi masih juga dikritik,” komentar ayah empat anak ini.

Ada Keluhan

Sementara itu, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Jatim, Said Sutomo menyampaikan selama ini belum ada konsumen yang mengeluh kekurangan kondesat sebagai bahan baku untuk pabrik cat, thiner maupun perusahaan lainnya. “Saya kok belum pernah dengar keluhan dari konsumen, kalau Kondensat langka. Atau mungkin konsumen mengeluh karena Kondensat mahal akibat ekspor,” tutur Said, sapaan akrab Said Sutomo.

Menurut dia paling tidak ada tiga indikator kalau Kondensat itu kurang. Pertama harga akan naik. Berikutnya barang langka dan sulit didapat. Tapi, sekarang ini tak terjadi indikator itu.

Kalau pun Yusri Usman berpendapat ekspor kondesat merugikan industri dalam negeri, kata Said, hal itu tidak berdasar pada kondisi obyektif di lapangan. Said justru khawatir, pendapat Yusri Usman justru bisa menguntungkan perusahaan tertentu yang ingin menguasai pasar alias monopoli.

Karena itu, pejabat terkait yang telah memberikan izin ekpor tidak perlu risih dengan manuver manuver yang tidak berdasar. “Sepanjang tidak ada regulasi yang dilanggar dan tidak ada keluhan konsumen, pejabat tidak perlu hiraukan,” tegasnya.

Apalagi yang berpendapat demikian, kapasitasnya juga bukan sebagai konsumen. Juga bukan sebagai regulator. Lantas pendapat itu sebagai apa. “Jangan-jangan ada udang di balik batu,” duga Said, sembari tertawa lebar.

Di berbagai media, juga tidak ada yang memberitakan kalau konsumen mengeluh dengan Kondensat.

Apalagi PT Gasuma Federal Indonesia (GFI) berada di Tuban Jawa Timur, juga tidak pernah ada konsumen yang mempermasalahkan.

“Kalau konsumen merasa kekuarangan bahan baku, pastilah mengeluh. Tapi ini tidak pernah terdengar sama sekali,” ucap ayah dua anak kelahiran Pasuruan ini serius.," katanya.(*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda