Sosialisasi Bank Sampah Lewatkan Ajakan Makan Siang

Nonton Pameran…. Eh… Ada Ecobricks. Tapi kok?

SMP PUNYA BANK: Penulis bersama para pengurus OSIS SMPN 3 Berbah di depan stan pameran sekolah tersebut. (Foto: Erwan W/CowasJP)

COWASJP.COM – style="text-align: center;">Catatan: Erwan Widyarto

PAMERAN Potensi Daerah (PPD) memeriahkan Satu Abad Kabupaten Sleman yang berlangsung di Denggung memang menarik dilihat. Usai pertemuan membahas AD/ART Paguyuban Green and Clean DIY untuk pengurusan badan hukum, saya dan sejumlah penggiat Bank Sampah menuju lokasi pameran.

Tidak hanya desa-desa se-Sleman yang menampilkan potensi yang dimilikinya, sejumlah lembaga pendidikan formal pun unjuk kebolehan. Beberapa di antaranya sekolah tingkat SMP. Sejumlah Bank Sampah juga menampilkan kinerjanya. Ada yang membuka stan sendiri mewakili desanya ada yang disediakan di stan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman.

TERTARIK : Seorang bocah mengamati bunga daur ulang tas kresek di stan BLH Sleman. (Erwan W/CowasJP)

Di saat para pegiat Bank Sampah menuju stan BLH Sleman, saya mampir dulu ke sejumlah stan SMP. Dari sejumlah stan milik SMP di Sleman ini, ada beberapa yang menarik perhatian saya. Karena apa? Benar. Karena sekolah ini memajang berbagai produk daur ulang. Di antaranya SMPN 5 Depok dan SMPN 3 Berbah.

DOMINAN DAUR ULANG: Siswa SMPN 5 Depok menjaga stan pameran sekolahnya. (Erwan W/CowasJP)

Bahkan, yang ditampilkan di stan SMPN 5 Depok hampir semuanya berupa produk daur ulang karya siswa. Mulai dari daur ulang kertas koran, sendok plastik hingga tutup botol air mineral dan tas kresek. Kertas koran dibuat aneka produk seperti tempat tisu, tatakan gelas, sandal, tas, tempat pensil dan sebagainya. Tutup botol air mineral dibuat vas bunga, tong sampah, dan sebagainya. Bekas sendok plastik dibuat kap lampu. Tas kresek dibuat aneka bunga.

Menariknya, produk-produk daur ulang ini bukan hasil Bank Sampah atau sistem pengelolaan sampah di sekolah tersebut. ‘’Ini semua hasil karya anak-anak dalam pelajaran Prakarya,’’ jelas  Martinah S.Pd guru pengampu pelajaran Prakarya. ‘’Kami belum punya Bank Sampah,’’ lanjutnya.

CIAMIK: Aneka kreasi daur ulang tutup botol bekas karya siswa SMPN 5 Depok yang dipamerkan. (Erwan W/CowasJP)

Saya minta waktu untuk ngobrol dengan para siswi dan guru yang menjagi stan waktu itu. Kebetulan saya membawa brosur Profil Bank Sampah Griya Sapu Lidi. Saya bagikan pada mereka. Lalu saya jelaskan sistem pengelolaan sampah dengan model Bank Sampah yang bisa diterapkan di sekolah. Mereka pun tertarik. ‘’Suatu saat kami undang Bapak,’’ ujar sang guru.

Persis di sebelah Barat SMPN 5 Depok, ada stan SMPN 3 Berbah. Saya juga berhenti di stan ini. Tertarik dengan gapura stan yang dibuat dari bekas botol air mineral. Di dalam botol terlihat ‘’pating kerlip’’ karena diisi dengan guntingan bekas bungkus permen, kopi dan aneka bungkus berbentuk sachet. Warna-warni bungkus berpadu dengan mengkilapnya sisi sebalik sachet. Guntingan-guntingan sachet ini disebut kawul.

PRAKARYA : Seorang guru SMPN 5 Depok menjaga stan sambil membaca brosur Bank Sampah Griya Sapu Lidi. (Erwan W/CowasJP)

Saya membatin. Alhamdulillah, ecobricks sudah masuk ke sekolah di Sleman. Ecobricks adalah semacam model pengelolaan sampah plastik dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Botol plastik bekas tersebut diisi penuh dengan sampah-sampah plastik.  Sampai padat. Keras. Isinya bisa tas kresek, sedotan, bungkus sachet, dan berbagai sampah plastik lainnya. Bukan kertas, kaca atau logam. Lihat www.ecobricks.org.

Saya mendekat ke gapura. Saya perhatikan gapura itu. Saya pencet botolnya. Hehehe…. Ternyata isinya tidak penuh. Botol-botol itu hanya diisi setengah bahkan ada yang hanya sepertiganya. Maka saat saya pencet pun, botolnya kempes.

Saya pun mendekat ke empat siswa yang menjagi stan. Saya katakan salut dan mengapresiasi karya mereka. ‘’Siapa yang ngajari buat gapura dari botol bekas diisi sampah dan berbagai produk daur ulang ini,’’ tanya saya.

Mereka malu-malu menjawab. Salah satu dari mereka mengatakan kalau semua ini karya teman-teman OSIS yang mengelola Bank Sampah. ‘’Wah kalian hebat? Kecil-kecil sudah punya Bank!’’ seloroh saya. Lalu, saya jelaskan kekurangan-kekurangan yang ada dalam pembuatan gapura. Terutama soal isian botolnya.

Lalu saya tinggalkan stan ini untuk salat Dhuhur. Tempat salat tak jauh dari stan ini. Usai salat, saat mau menyusul teman-teman ke stan BLH, saya melewati stan SMPN 3 Berbah ini. Kali ini terlihat ada dua guru di dalam stan. Saya pun kembali masuk. Mengatakan kalau tadi sudah ke stan ini dan ngobrol dengan anak-anak.

CANTIK BUNGANYA : Pengunjung memperhatikan kreasi yang dipamerkan Bank Sampah. (Erwan W/CowasJP)

Kepada guru tersebut saya mengingatkan agar proses pengelolaan sampah dengan model Bank Sampah terus dilanjutkan. Dan kalau mau melihat hasil-hasil produksi Bank Sampah, saya persilakan untuk melihat stan Bank Sampah Griya Sapu Lidi yang ada ‘’dibalik’’ stan SMPN 3 Berbah ini. ‘’Panjenengan siap jika kami undang ke sekolah?’’ tanya Bu Haryati.

‘’Insya Allah Bu! Untuk berbagi soal Bank Sampah dengan senang hati kami akan hadir,’’ kata saya. Mohon doa saja semoga selalu diberi kesehatan dan kesempatan untuk terus berbagi.

Alhamdulillah, sebentar di pameran, bisa berbagi seputar pengelolaan sampah di dua sekolah. Mohon maaf untuk teman dari Jakarta yang menelepon mengajak makan siang di Mbah Cemplung.  ‘’Waktunya tidak nyandak Dab! Hehehe….’’ (erwan w)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda