Surabaya Darurat Empal Brewok (1)

Kemasan dan isi dendeng ragi Empal Brewok

Empal Brewok (Foto: CoWasJP.com)

COWASJP.COM – ockquote>

O L E H: M Hakim 

--------------------------------------------

Bakul dendeng ragi Empal Brewok

SUDAH saya duga merek Empal Brewok akan membuat heboh. Sejak saya me-‘launching’ (pura-puranya, maksudnya meng-up load) dendeng ragi, menu tradisional Jawa Timur, dengan merek Empal Brewok di Grup Kuliner Surabaya (GKS) di Facebook, saya langsung ‘diserbu’. 

FB, WhatsApp, dan BBM saya terus berbunyi. Banyak yang add minta menjadi teman saya di ketiga media sosial tersebut. Karena pembeli adalah raja, saya sebagai bakul Empal Brewok dengan setia melayani. Semua saya konfirmasi. Semua saya jawab. 

Akibatnya, hari pertama saya hanya tidur dua jam dalam 24 jam. Hari kedua hanya tidur tiga jam. Badan lemas, tapi asyik. Risiko jualan setengah online. Pertanyaan sesepele pun saya jawab. Bagi saya menjawab pertanyaan adalah penting, karena mengomunikasikan Empal Brewok.

Ratusan orang memberikan like kepada status tentang Empal Brewok. Puluhan membagikannya di Facebook. Pesanan via medsos pun mengalir. Banyak juga yang sedikit ‘kecewa’ karena mengira produk ini bisa COD (cash on delivery). 

Dikira Empal Brewok dibuat di Surabaya lalu bisa dipesan, diantar, dibayar setelah barang diterima. Namun saya informasikan kepada semua teman di FB, WA, maupun BBM bahwa produk ini dibuat di Pare, Kediri. Di rumah saya, kokinya adalah istriku.

Pesanan pun ramai mengalir deras sampai ratusan besek, kemasan yang aku pilih untuk Empal Brewok. Akhirnya beberapa teman yang mengelola situs online menghubungiku agar menulis tentang Empal Brewok, menu yang aku produksi. 

Sebenarnya dendeng ragi Empal Brewok ini adalah side job-ku.  Awalnya istriku ingin mencoba menjual dendeng ragi yang merupakan menu warisan leluhurku. Nenek dan emakku (istilah di desaku menyebut ibu) adalah penjual dendeng ragi (belum ada merek Empal Brewok-nya, ya waktu itu). Mereka berjualan keliling, menggendong rinjing, keliling Kota Pare, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Kediri.

Setiap hari kira-kira jarak 4-5 km ditempuh. Namun, saya masih ingat betul ketika seusia SD-SMP, banyak pelanggan antre membeli dendeng ragi di rumahku. Ada tetangga. Ada juga orang dari luar desa, bahkan luar kecamatan. 

hakimkyCjZ.jpg

Masakan dendeng ragi emakku memang mantab rasanya. Aku juga sering disuruh mengantarkan pesanan ke orang di Kota Pare. Dendeng ragi yang waktu itu dikemas dengan dibungkus daun pisang lalu ‘dikunci’ dengan biting (lidi) itu jadi oleh-oleh andalan mereka bila berkunjung ke saudara di luar kota. 

Apa sih dendeng ragi? Dendeng ragi adalah daging sapi yang diiris tipis-tipis, kemudian dibumbu sedemikian rupa, lalu di-ongkep (direbus dengan wajan yang ditutup rapat). Setelah matang, dipadu srondeng (parutan) kelapa muda yang juga sudah dibumbu sedemikian rupa. 

Yang patut digarisbawahi, menu dendeng ragi Empal Brewok aku kreasi dengan tanpa vetsin, tanpa pengawet, tanpa gula pasir, dan tanpa minyak goreng. Memang emakku dulu juga mengoseng srondeng tanpa migor. Gulanya pakai gula kelapa. Dengan demikian, makanan ini lebih sehat dan bergizi.

Kembali ke merek Empal Brewok, rupanya kosa kata itu sangat kuat di otak-otak warga Surabaya. Konotasinya di Surabaya memang ‘miring’, ke arah (maaf) alat kelamin perempuan. Tak heran kalau begitu merek ini saya  up load di Grup Kuliner Surabaya yang anggotanya ratusan ribu orang, langsung banyak yang respons.

Ada juga yang mengirimkan pesan ke FB-ku. “Terlepas rasanya, Empal Brewok itu di Surabaya sangat vulgar,” kata seorang teman FB. 

Bukan itu saja, aku juga sempat di-bully tapi bukan di Medsos. Hanya rerasan yang disampaikan oleh orang dekat kepadaku. “Aku kira  Pak Hakim ini santri, ternyata kok pasang iklan Empal Brewok dengan gambar perempuan,” begitu rerasan itu.

Ada juga beberapa pria yang menggoda dalam comment-nya di akun FB-ku. “Kapan bikin menu pistol gombyok Bos…!” Saya tersenyum membacanya. Pistol gombyok di Surabaya juga berkonotasi miring, (maaf) alat kelamin pria. (bersambung)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda