COWASJP.COM – Saya mungkin termasuk ketinggalan dalam dunia medis. Buktinya, ketika datang mendaftar untuk periksa PET Scan (Positron Emissiin Tomography) di Rumah Sakit (RS) Depkes Surabaya, baru tahu, kalau ada dokter spesialis nuklir.
Yang saya tahu, seperti senjata nuklir, yang membahayakan umat manusia itu. Atau pembangkit listrik tenaga nuklir.
Tapi, dokter spesialis nuklir, belum pernah dengar. Karena itu, saya tertarik menanyakan dokter spesialis nuklir, pada dr Sadham Sp KN-MT, saat konsultasi kemarin.
Di Indonesia memang belum populer. Bahkan bisa dikata, masih langka.
Apalagi di Jawa Timur. Baru ada 3 orang dokter spesialis nuklir.
Dua di antaranya praktik di Rumah Sakit Depkes, Jalan Indrapura. Rumah sakit yang baru beroperasi beberapa waktu lalu. Dan masih sangat sepi dengan pasien. Namun, peralatannya canggih.
Satu lagi ada di RSUD dr Soetomo. Di luarJawa hanya ada satu, di Bali.
Sedangkan di Jakarta sudah banyak. Namun, masih bisa dihitung dengan jari.
Merekalah yang mengoperasi alat PAT Scan. Yang di Jatim, baru ada satu. Yaitu di RS Depkes itu. Di RSUD dr Soetomo, belum ada.
Dua dokter spesialis di RS Kemenkes itu, dr Kadhafi Sp KN-MT dan dr Tri Pera Sp KN-TM.
"Di Surabaya baru ada 3 dokter spesialis nuklir. Dua di antaranya ada di rumah sakit ini," kata dr Kadhafi, ketika saya datang konsultasi di ruangannya.
FOTO: Istimewa.
dr Kadhafi lulus spesilisasinya di Bandung pada 2023 lalu. Termasuk baru.
Langkanya dokter nuklir ini, karena belum banyak rumah sakit yang memiliki PET Scan. Sebuah alat untuk melihat internal organ tubuh secara detail.
Saya ingin mengetahui keberadaan kanker di dalam tubuhku. Apakah hanya di usus besar bawah itu saja. Atau ada juga di tempat lain?
Bahkan dengan PAT Scan ini, bisa mengetahui secara detail. Misalnya, ukuran kanker, besar atau kecil. Posisinya di mana. Apakah sudah menjalar atau masih kondisi tidur, dan sebagainya.
Dengan demikian, bisa membantu dokter mendiagnosis penyakit lebih tepat. Sehingga pengobatannya pun, bisa lebih tepat.
Sebelum dilaksanakan PET Scan, terlebih dahulu dokter mengadakan wawancara yang mendetail dengan pasien.
Saya ditanya oleh dr Kadhafi, sejak kapan kanker itu terdeteksi. Apa saja pengobatan yang telah dilakukan.
Hasil pengobatan seperti kemoterapy dan sinar seperti apa?
Hasil laboraturium pengecekan besarnya tumor (CEA) dan keadaan kanker atau CA 19-9, harus dibawa.
Kapan terakhir kemo dan sinar? Semuanya harus disampaikan pada dokter.
Saya rencananya tanggal 10 Maret 2026 melaksanakan PAT Scan.
Biayanya lumayan mahal. Tapi, namanya sakit, kalau uang, sepertinya tidak ada nilainya.
Sekali periksa Rp 13 juta. Tapi, karena masih promosi, saya dapat diskon menjadi Rp 9 juta. Lumayan, diskon Rp 4 juta.(*)