Reuni Ala Pak Bos

Foto: Taofan Mahdi/CoWasJP

COWASJP.COM – Ini bukan reuni 212 ala Habib Rizieq yang sudah bikin heboh meski masih rencana.

Ini bukan reuni puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan yang bisa bikin rezim meriang.

Ini hanya reuni kecil beberapa orang, tidak sampai selusin, tidak pakai kopdar, kopi darat, dan cukup pakai daring via zoom. 

Sabtu malam (14/11) Pak Bos Dahlan Iskan, founder Jawa Pos Group yang sekarang merintis harian DI'sWay (bukan koran), mengundang beberapa mantan wartawan lawas Jawa Pos (JP) untuk kumpul-kumpul melalui aplikasi Zoom.

Yang ikut kumpul ngariung adalah Arif Afandi dan saya, yang sama-sama pernah merasakan jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Ada Agus Mustofa mantan redaktur teknologi JP yang sekarang menjadi dai kondang dan penulis puluhan buku serial tasawuf modern.

Ada Djono W. Oesman yang dikenal dengan inisial dwo. Dia penulis features paling jempolan di JP dan sekarang menjadi penulis novel dan skenario film. Bukunya "Kisah Nyata 728 Hari" sudah difilmkan menjadi "Terima Kasih Cinta" dibintangi Cut Mini Teo dan Garry Ishak.

Ada juga dua wartawan dari generasi yang lebih muda, Tofan Mahdi, pernah menjadi Wakil Pemred JP, sekarang menjadi eksekutif di perusahaan agroindustri PT Astra Agro Lestari. Imron Mawardi, santri Kediri, sekarang menjadi doktor ekonomi syariah di Unair. Kedua-duanya reporter dan redaktur ekonomi yang tangguh, dan menjadi kesayangan Pak Bos.

Ada Joko Intarto, jto, kepala biro JP Jakarta yang setelah pensiun sekarang mendirikan perusahaan IT Jagaters, melayani live streaming apa saja mulai dari hajat sunatan, mantenan, sampai hajatan politik nasional. Jto yang mempunyai ide membuat personal blog Pak Bos DI'sWay yang dibaca jutaan orang tiap subuh.

Masih ada lagi generasi yang lebih muda lagi, Tomy C. Gutomo yang sekarang menjadi pemred DI'sWay dan Taufik Lamade, sekarang direktur utama di harian bukan koran itu.

Sebagai reuni kecil pertemuan itu biasa-biasa saja. Rata-rata sudah pada meninggalkan almamater JP selama 15 tahun atau malah 20 tahun. Selama ini masih sesekali bertemu di ajang silaturrahim mantan JP yang tergabung dalam Cowas, konco lawas JP.

Tapi ada yang istimewa dan terasa lebih gayeng, karena untuk kali pertama sejak tidak lagi di JP kami bertemu, membicarakan redaksi, bicara deadline, dan juga soal pembagian tugas redaksional.

Rasanya seperti menembus lorong waktu, napak tilas, kembali ke masa-masa ketika masih sama-sama membangun JP, mulai dari era Kembang Jepun 1980-an sampai era Graha Pena 2000 ke atas.

Ada rasa kangen yang dalam yang tidak terucapkan lewat kata-kata. Hanya tawa dan canda yang mengalir tanpa henti melampiaskan kerinduan pada keterputusan masa silam.

Pak Bos, seperti biasa, punctual dan on time, selalu tepat waktu dan disiplin memulai rapat. Tepat 19:30 tet seperti yang dijanjikan sudah stand by di depan kamera.

Rapat dimulai. Tapi dwo belum kelihatan di layar. Alasannya masih cari makan. Tapi, kami semua maklum atas kelakuan lawas dwo yang suka lelet ketika dikejar deadline.

Risiko menulis bagus ala dwo. Kami sering meledeknya, "Ngetik apa mbatik", mengetik apa membuat batik. Agak lemot, tapi hasil tulisan dwo selalu seperti batik Solo yang halus, berkualitas, dan bercitarasa tinggi.

Pak Bos membuka rapat. Menyapa kami satu persatu. Arif Afandi menyapa saya, "Jenggot tambah panjang," katanya.
"Ini bukti lockdown total, tidak ke mana-mana selama enam bulan," sergah saya.

Saya ceritakan guyonan di kalangan aktivis salaf. Ada prinsip "tawasuth" keseimbangan, kalau atasnya panjang bawahnya harus cingkrang. Kalau jenggot sudah panjang, celana harus cingkrang. Pak Bos tertawa.

Lalu kami membicarakan perkembangan redaksi harian DI'sWay bukan koran yang sekarang berusia empat bulan. 

Kami semua diberi tugas untuk menjadi guest editor, redaktur tamu dengan spesialisasi masing-masing. 

reuni.jpgReuni Cowas JP ke 8 di Markas Jawa Pos Kembang Jepun, 21 Desember 2017. (FOTO: Cowas JP)

Agus Mustofa yang menulis setiap Jumat, oleh Pak Bos, disebut sudah punya jamaah sendiri di DI'sWay. "Kalau koran telat di hari Jumat ada pembaca yang datang ke kantor ambil koran karena ingin baca kolom Agus Mustofa," kata Pak Bos.

Arif dan Abror, lanjut Pak Bos, silakan bagi kapling antara politik nasional dan politik lokal. "Mungkin Arif di politik regional, Abror politik nasional." Instruksi Pak Bos ini seperti echo di rapat redaksi pada akhir 1990-an.

Tofan dan Imron juga harus berbagi kapling. Sejak dulu media di Jatim selalu mengalami kesulitan untuk mencari komentar ahli ekonomi, bisnis, dan keuangan. 

Di Unair selalu sulit cari narasumber ekonomi. Ternyata penyakit itu menahun sampai sekarang. "Nah, Imron kita desain untuk menjadi ahli ekokomi regional, dan Tofan ahli pasar modal," kata Pak Bos.

Bagaiama dengan dwo? Dia menulis setiap hari. Spesialisasinya analisis kriminal, sekelas kriminolog UI Prof. Adrianus Meliala. Dwo juga layak dapat gelar "Prof", provokator, karena analisisnya yang provokatif.

Tiba-tiba dwo muncul di layar. Senyumnya khas cengengesan, memakai headset sebesar bakpao di telinganya. Mungkin biar dikira canggih dan update teknologi, padahal waktu di Kembang Jepun dwo paling gaptek. 

Kalau sudah kena piket jaga mesin faks dwo berkeringat dingin dan selalu saja cari alasan untuk menghindar. Waktu itu mesin faks ukurannya seperti kulkas dua pintu. Untuk menerima kiriman harus teriak-teriak dulu lewat telepon lalu tekan tombol "menrex".

Ternyata dwo baru menyelesaikan tulisannya padahal sudah jam 20 00. Deadline DI'sWay pukul 19 00. Tomy sebagai pemred cuma bisa garuk-garuk kepala kalau sudah berhadapan dengan dwo.

Tapi, tulisan dwo ditunggu pembaca tiap hari. Dia gaspol tidak pernah libur menulis. Pernah dua hari blank karena berada di ketinggian gunung Jayawijaya, Papua, cari proyek.

Pak Bos tertawa-tawa, "Dwo, stamina Anda kuat ya untuk menulis setiap hari". "Siap, Bos. Saya senang bisa menulis tiap hari, selama tulisan saya bisa dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain saya senang," dwo menukas penuh filosofi.

Pak Bos bercerita bahwa anak dwo, Danang Wikanto, sekarang menjadi reviewer spesialis BMW. Reviewnya mengenai mobil mewah Jerman itu dibaca puluhan ribu atau ratusan ribu follower di medsos. Danang bisa mendapatkan kontrak endorsement belasan juta, belum termasuk monetisasi dari Google Ads.

Sementara itu jto diberi tugas menulis masalah-masalah teknologi. Jto yang terkantuk-kantuk menggumam, "Siap". Maklum, dia masih "nguri-nguri" kebiasaan lama di JP, ngelowo alias menjadi kelelawar, melek malam tidur bakda subuh.

Omset Jagaters mencapai Rp 1,8 miliar sebulan. "Labanya 80 persen karena tidak pakai HPP (harga pokok produksi). Jagaters lebih hebat dari DI'sWay," kata Pak Bos.

DI'sWay memang lagi berjuang menembus pasar yang sulit karena pandemi. Program untuk mengundang pembaca dan pengiklan jadi terhambat karena kondisi.

Perjuangan berat. Tapi, konsolidasi jalan terus. Pembenahan mesin cetak juga jalan terus. Seperti biasa, dalam kamus hidup Pak Bos tidak ada kata menyerah. Dia merasa punya utang kepada jurnalisme dan akan melunasinya.

Pak Bos yakin setelah pandemi berakhir pasar akan berangsur pulih dan koran cetak akan menemukan kembali kekuatannya. Rapat reuni selesai sesuai jadwal satu jam.

Rapat ditutup dengan keputusan aklamasi untuk mengadakan rapat lanjutan di rumah Pak Bos di Sakura Regency, dengan menu gule kepala ikan khas Umik Dahlan yang paling enak se-Asia Tenggara. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda