Upaya Redam Covid-19

Kisah Sukses Ketua RT 06 Sidoklumpuk, Sidoarjo

Gerbang RT 06 RW 03 Kelurahan Sidoklumpuk, Sidoarjo. (FOTO-FOTO: Mochamad Makruf/Cowas JP)

COWASJP.COM – Aktif menyemprot disinfektan meski kampungnya tak berlabel Kampung Tangguh. 

Adalah Koesdarmanto (56), Ketua RT 06, RW 02, Kelurahan Sidoklumpuk, Kecamatan Kota Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Beliau adalah pensiunan pengawas perbankan BRI Sidoarjo.

Kelurahan-Sidoklumpuk-2.jpgKetua RT 06 Koesdarmanto.

Pak Koes - sapaan akrab Koesdarmanto - sukses memimpin RT yang berpenduduk 81 KK di era pandemi. Lima  warganya terpapar Covid-19 dan sembuh. Ketika RT lain surut melawan Covid-19, RT ini masih aktif semprot disinfektan seminggu sekali. Padahal  status RT bukan Kampung Tangguh. Berikut ceritanya:

SORE itu, Kamis 15 Oktober 2020, sekitar pukul 15.00, langit Sidoarjo terlihat cerah  meski udara panas. Saya langkahkan kaki menuju ke rumah Koesdarmanto. Saya memanggilnya Pak Koes. Rumah saya ada di RT.05. Hanya 300 meter dari rumah Pak RT 06. 

Sekitar lima menit saya sudah tiba di rumah Pak Koes. Halaman rumah terlihat asri. Ada 10 pot bunga besar yang didominasi oleh bunga anturium. Ada juga lima pot bunga aglonema. Di rumah itu juga terlihat pohon mangga apel lebat berbuah. Disebut  buah mangga apel karena buahnya bulat-bulat seperti buah apel. Sepertinya sudah waktunya dipanen. 

Terlihat juga ada kucing berbulu coklat tebal rebahan di lantai. Kucing jenis Siam ini biasanya di dalam rumah, dimanja, diberi makanan kucing khusus. Tapi entah kenapa, kucing ini dibiarkan keluyuran seperti kucing kampung umumnya. 

Di sisi kanan rumahnya ada rumah tua minimalis. Ini juga rumah Pak Koes yang akan diperuntukkan bisnis kos-kosan di masa pensiun. Rumah sudah direnovasi old classic. Perabotan didominasi kayu jati berplitur coklat tua. Penataan perabotan cukup rapi dan unik. Gak salah, bila rumah itu kerap dibuat foto pre wedding tetangga.

Di rumah tua, terlihat Pak Koes tengah menemani dua pemuda yang  menyiapkan kegiatan semprotan disinfektan   di lingkungan RT 06. Padahal, kampung atau RT lain sudah mulai surut aksinya.

''Semprotan ini kami lakukan seminggu sekali. Dananya swadaya warga RT 06 sendiri. Bila cairan disinfektan habis, kaleng sumbangan sukarela keliling ke rumah-rumah warga,'' kata Pak Koes.

Pak Koes lantas mempersilakan penulis menuju ke teras rumahnya. Dia ditemani dua pemuda yang ternyata Satgas Covid-19 RT 06.  Jhony Kristian, ketua Satgas dan seorang dari lima anggota, Leski. Kami berempat dengan tetap  memakai masker duduk di teras sambil menikmati kicauan burung dari rumah kuno di sebelahnya. 

Pak Koes lantas menceritakan kisah sukses sebagai RT  di era pandemi. Lima warganya terpapar Covid-19 bisa sembuh. Dan, pihaknya tetap aktif melakukan semprotan disinfektan seminggu sekali di lingkungannya. 

Dia mengaku menjabat RT 06 pada pertengahan 2018. Total warga RT 06, 81 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar warga karyawan swasta dan ASN (Aparatur Sipil Negara).

Semula kehidupan warga RT 06 normal saja. Namun ketika memasuki masa pandemi Maret 2020, kehidupan tidak normal lagi. "Kami takut terpapar Covid-19. Kami saat itu belum ada program aksi penanganannya," katanya

Pada Pertengahan April 2020, pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19, mengintruksikan diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Tahap Pertama. Para ketua RT se-Kelurahan Sidoklumpuk dikumpulkan di balai desa. Di situ ada satgas Pemkab Sidoarjo, kepolisian, dan kelurahan menjelaskan soal bahaya pandemi Covid-19. Bagaimana memutus mata rantai sebarannya. 

 "Karena itu, perlu social distancing, yakni menghindari kerumunan, menggunakan masker, dan cuci tangan. Selain itu, warga juga diinstruksikan tinggal di rumah. Pemkab Sidoarjo kemudian memberlakukan PSBB I. 

"Keluar masuk warga di lingkungan RT harus dibatasi. Bila keluar ditanya mau ke mana. Bila tidak ada keperluan urgent dilarang keluar rumah," kata Pak Koes.

Kelurahan-Sidoklumpuk-3.jpgPersiapan menyemprot disinfektan.

Maka, semua RT se-Kabupaten Sidoarjo termasuk RT-nya harus menerapkan PSBB lokal di lingkungan RT masing-masing. Sekilas info, Sidoarjo adalah dataran delta (diapit Kali Surabaya dan Kali Porong) dengan luas 19.006 Ha. 29,99 persen kawasan tambak di wilayah timur.

Sidoarjo terdiri dari 18 kecamatan, 31 kelurahan, dan 322 desa. Total penduduknya sesuai data BPS Sidoarjo pada 2019 sebanyak 2.266.533 orang. Yang 1.142.655 laki-laki dan 1.123.878 perempuan.

Penduduk terpadat di Kecamatan Waru 240.674, diikuti Taman 235.238, dan Sidoarjo Kota 228.713. Candi 168.779, Krian 140.183, Gedangan 134.787, dan Sukodono 132.644. Daerah-daerah padat penduduk semula sebaran Covid-19 tinggi, kini agak melandai. 

Data terbaru sebaran Covid-19 Sidoarjo per 17 Oktober 2020, sesui data Provinsi Jawa Timur, total konfirmasi 6.927, suspect 4.132, sembuh 6.080, dan meninggal 455. 

Kini  Sidoarjo berjuang dari zona oranye menuju zona kuning. 

Balik ke PSBB I, Sidoklumpuk yang terdiri dari 18 RT dan 6 RW masuk wilayah Kecamatan Kota Sidoarjo,  penduduk terpadat ketiga.   Jalan masuk ke RT 06, RW 02 Sidoklumpuk melalui Jalan Untung Suropati,  Kartini, dan Gang Wisma. Dua jalan masuk diportal. Yang dibuka hanya Jalan masuk melalui Untung Suropati dan dijaga. 

Pada PSBB I, Pak Koes menempatkan  enam penjaga yang terbagi tiga shift jaga. Setiap shift dua orang penjaga. Dan ada tambahan dua orang penjaga dari RT 05.

"Kami saat itu jaga pintu utama ke RT 06.  Warga yang masuk harus di-thermogun dan bermasker. Kami  pun pasang banner Wilayah Wajib Pakai Masker. Bila tidak bermasker, kami tolak.  Gojek bila antar barang hanya sampai di pintu gerbang," katanya. 

Warga yang keluar masuk ditanyai kepentingannya. Bila tidak urgent, kami sarankan  diam di rumah saja.  

"Cek KTP. Bila ada warga datang dari luar kota, harus cek detail keperluan dan kesehatannya," katanya. 

Berapa biaya penjaga? ''Dana penjaga dari kelurahan. Pokoknya Rp 50.000 per shift. Total dana Rp 150.000 per hari  (3 shift kerja).  Saat PSBB I, warga hanya dimintai kontribusi konsumsi untuk penjaga," kata Pak Koes.

PSBB Bisa 1 DAN  2, EMPAT WARGA TERPAPAR COVID-19

Ketika masa PSBB I baru ada masalah. Empat warga RT 06 terdiri 2 KK terpapar Covid-19 yang semuanya masih keluarga. Empat warga ini semula terpapar dari ibunya sendiri, warga RT 04.  

Si ibu punya penyakit bawaan. Sebelum masuk rumah sakit, dia tidak terpapar. Tapi ketika dirawat inap karena sakit  bawaannya, dia akhirnya terpapar.  Karena usianya sudah lanjut, si ibu akhirnya meninggal karena Covid.

Bagaimana dengan empat warganya yang terpapar? Pak Koes memperoleh info dari Puskesmas Kecamatan Kota Sidoarjo dan pihak kelurahan. 

Info berupa WA, empat warga RT 06 terpapar Covid dan harus isolasi mandiri selama 14 hari. Pesan lainnya, warga tersebut jangan dikucilkan. 

Kelurahan-Sidoklumpuk-4.jpgBantuan sembako untuk warga yang isolasi mandiri.

Komunikasinya:  maksimalkan memakai HP. Bila  RT menyumbang bahan makanan dan vitamin dipersilakan. 

"Setelah baca info ini saya kaget dan takut. Tapi kami tidak boleh ketakutan karena kalau takut imunitas akan turun," katanya.

Pak Koes lantas menggelar rapat dengan pengurus RT dan warga untuk menggali dana swadaya untuk membeli bahan makanan bagi empat warganya yang terpapar Covid. ''Alhamdulilah, dana swadaya ada. Kami belikan bahan makanan setengah jadi. Telur, mie instant, beras, minyak goreng, teh, pasta gigi, sabun mandi, kopi sachet, buah-buahan, susu dan vitamin," ujarnya.

Distribusi bantuan diserahkan kepada Tim Satgas Covid-19 RT 06 untuk disampaikan ke rumah empat warga terpapar. Mereka  berterima kasih sekali atas bantuan warga. 

Warga RT memberikan bantuan logistik itu setiap lima hari sekali. Empat warga terpapar itu ternyata kemudian dirawat RSUD Sidoarjo selama dua periode isolasi. 

"Bantuan logistik tetap kami berikan sampai  tiga kali. Dan, swab terakhir, empat warga itu dinyatakan negatif dan bisa pulang. Ada surat keterangan sehat dari pihak rumah sakit," katanya.

Namun, ada sedikit kendala. Seorang warga sebut saja Tono termasuk keluarga empat warga terpapar yang agak bandel. Dia sebenarnya nonreaktif, tapi Puskesmas memerintahkan untuk melakukan pengawasaan ketat dan isolasi mandiri. Tapi dia menolak karena harus bekerja dan membayar tagihan bank.

Tim satgas RT 06 tetap mengawasi gerak-gerik Tono. Ketika dia mencoba keluar rumah, ada laporan  masuk ke HP Pak Koes, agar menghentikan Tono untuk tidak keluar. "Saya telpon dia agar jangan keluar rumah. Dia patuh," kata Pak Koes.

Tapi lama kelamaan, Tono tidak bisa berdiam di rumah terus. Dia keluyuran di sekitar lingkungan RT.  Warga pun resah dan mau demo. "Untungnya setelah saya beri pengertian warga tidak jadi demo. Tono pun saya tegur agar kontrol diri karena masa karantina. Ketika 4 saudaranya pulang dari rumah sakit, Tono baru bisa bebas interaksi," kata Pak Koes.

PSBB I pun berlanjut ke PSBB 2. Saat itu, honor para penjaga masih ditanggung pihak kelurahan. "Pihak RT hanya menyumbang konsumsi. Kami juga tetap aktif menjaga portal masuk RT. Dan, seminggu sekali tetap menerapkan penyemprotan disinfektan,'' katanya 

LAGI, 1 WARGA TERPAPAR DI PSBB 3

PSBB 2 berlanjut ke PSBB 3. Memasuki PSBB 3, satu warga lagi terpapar. Sebut saja Andi. Dia driver online. Istri dan dua anaknya nonreaktif dan diungsikan ke rumah mertuanya. Andi karena tuntutan biaya keluarga terkadang harus keluar rumah malam hari untuk nge-driver online. 

''Bila ada warga yang melarang, apa mereka mau membiayai keluarga saya. Saya usulkan kepada pemerintah, bila ada warga harus menjalani isolasi mandiri selain diberi bantuan makanan juga mendapatkan bantuan langsung tunai BLT, Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per hari," kata Andi. 

Andi menjalani isolasi mandiri sampai 1,5 bulan dan akhirnya sembuh dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari Puskesmas Kecamatan Kota Sidoarjo. 

Pada masa PSBB 3, murni biayanya swadaya warga RT 06 sendiri. Warga urunan untuk membayar tiga penjaga portal total Rp 150.000 per hari. Selain itu, warga juga  menyediakan konsumsi.  

"Kami tidak keberatan meski biaya mandiri. Yang penting warga sehat semua," katanya.

JAMAAH MUSHOLA FREE SEMBAKO

Dalam era pandemi, jamaah mushola RT 06 juga diaktifkan. Ada sajian bahan sembako yang diletakkan di dekat kas mushola. Sajian itu terdiri mie instant, minyak goreng kecil, beras dikemasi 250 gram. Ada tulisan: bila Anda membutuhkan silakan diambil. ''Namun program ini hanya berlangsung satu bulan," kata Pak Koes yang putri tunggalnya duduk di Fakultas Kedokteran Unair di semester akhir.

Lingkungan RT juga pernah dimasuki tiga mahasiswa Unair untuk bagi-bagi hand sanitizer dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan bagi warga. ''Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini dan seharusnya diaktifkan lagi. Supaya warga terus sadar," ujarnya. 

Kini Sidoarjo bergerak ke zona kuning. Bisnis mulai menggeliat. Namun dia mengingatkan agar warga tidak lengah. Tetap waspada karena Covid-19 masih mengancam. 

''Saya  berharap warga tetap menerapkan protokol kesehatan. Tetap bermasker, hindari kerumunan, dan jangan lupa cuci tangan. Saya berdoa, agar Allah SWT segera mengangkat penyakit Covid-19 ini. Sehingga kita bisa beraktivitas normal kembali. Amin!," ujarnya.

Setelah perbincangan usai, Pak Koes ditemani dua pemuda Satgas Covid-19 RT.06 pamit meneruskan pekerjaannya melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan RT. 

Meski RT tidak berlabel Kampung Tangguh, tapi RT ini sudah tangguh sejak dari "akarnya". (*)

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda