Sengsara karena Lubang Mangicuah

FOTO ILUSTRASI: Istimewa

COWASJP.COM – Setelah melewati Provinsi Jambi, kami seolah sudah merasa seperti di Ranah Minang. Dikarenakan rindu kampung yang sudah begitu rupa. Dikarenakan sudah begitu lama tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Bahagia sekali rasanya bila saatnya kami memasuki ranah yang terkenal dengan sebutan ranah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. 

Ranah yang sangat dirindukan setiap perantau Minang. 

Tapi ternyata, perjalanan itu tidaklah mudah. Sewaktu menginap di Jambi pun sudah ada kawan yang mengingatkan. Mengirim pesat via Whats App Messenger. “Hati-hati! Memasuki jalan lintas nanti banyak ‘lubang mangicuah’,” tulisnya. Artinya, lubang yang tidak kelihatan. Yang secara tiba-tiba bisa membuat mobil terbanting dan rusak. 

Kebetulan kami memasuki kawasan berlubang-lubang itu ketika matahari sudah tenggelam. Sudah malam hari. Dan benar saja, lubang-lubang mangicuah itu begitu banyaknya. Bahkan di antara lubang-lubang itu ada juga lubang yang sejatinya sudah dalam proses perbaikan. Yang sudah dicongkel dengan alat berat. Karena sudah dipotong lurus-lurus seperti kue talam. Tapi ternyata tidak dilanjutkan pengerjaannya. Sehingga tak ayal sangat mengganggu para pengguna jalan. 

BACA JUGA: Mafia Migas di Desa Kita

Beragam perkiraan berkecamuk di benak kami, tentu saja. Apakah lubang-lubang ini dibiarkan menganga begitu rupa, karena pemerintah tidak punya dana untuk perbaikannya? Atau, apakah tidak mungkin ini merupakan hukuman buat Provinsi Sumatera Barat, di mana Jokowi mengalami kalah super telak dalam Pilpres yang lalu? Dan pertanyaan lainnya: Apakah Gubernur Sumbar Prof. Dr. Irwan Prayitno sudah tidak peduli lagi dengan kondisi ini? Karena dia sudah jadi gubernur dua periode dan tidak akan bertanding lagi dalam Pilkada Sumbar 2020 nanti? 

NASMAY2.jpg

Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggu, ketika lubang-lubang besar dan begitu banyak dibiarkan tanpa perbaikan. Sementara Pilkada Sumbar yang akan dilangsungkan  dalam waktu dekat hanya memperlihatkan pertarungan antar calon. Terutama antara calon dari PKS dan Gerindra yang sekarang menduduki posisi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. 

Konon, setelah adanya pernyataan janji dari Gubernur Irwan Prayitno. Bahwa dalam Pilkada yang akan datang ini mereka akan berbagi posisi. 

Pilkada Sumbar tampaknya kini seperti menciptakan ajang pencitraan masing-masing calon. Spanduk-spanduk mereka bertebaran di sepanjang jalan. Mulai dari daerah Padang Pariaman sampai ke Kabupaten 50 Kota. Melewati Padang Panjang (Kab. Tanah Datar) dan Bukittinggi (Kab. Agam). Hampir  semuanya menunjukkan  pencitraan masing-masing orang. 

Artinya, tidak satu pun yang memperlihatkan kepedulian terhadap persoalan masyarakat banyak. Persoalan pengentasan kemiskinan, misalnya. Masalah pendidikan. Problematika hukum. Persoalan narkotika. Dan banyak persoalan lain yang jadi konsen masyarakat Minang. 

Termasuk persoalan infrastruktur jalan yang dibiarkan tak terurus.

Kepulangan kami kembali ke Pulau Jawa, Selasa (04/08) tak terhindarkan mesti melewati kembali “lubang-lubang mangicuah” itu. Karenanya kami harus ekstra hati-hati. 

NASMAY3.jpg

Malam pun sudah larut ketika kami sampai di Lubuk Linggau. Kami mencari hotel tempat menginap. Untuk melepaskan lelah, setelah seharian menempuh perjalanan jauh. Dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang. Dan di beberapa tempat harus bertarung menerobos hujan lebat dan semburan lumpur di beberapa tempat. 

Kami sudah meninggalkan Provinsi Sumatera Barat. 

Jalur selanjutnya adalah Sekayu dan Kabupaten Banyu Asin. Dan ternyata, situasi dan kondisi jalan tidak jauh berbeda. Di beberapa lokasi bahkan terdapat lubang-lubang jalan yang lebih buruk dari pada lubang-lubang jalan di Provinsi Sumbar. 

Dengan kondisi ini, tentu kita tidak dapat hanya menyalahkan Pemda Sumbar. Yang membiarkan jalan-jalan di daerahnya berlubang-lubang. Karena di Sekayu dan Kab. Banyuasin kondisi jalannya pun tidak kalah buruknya. 

Ada penyesalan sebetulnya. Mengapa kami mengubah peta jalan ke daerah ini dari rencana awal lewat Tebing Tinggi, Lahat, Baturaja dan Martapura. Padahal ada kawan yang mengatakan jalan di sana bagus. 

NASMAY4.jpg

Karena sudah terlanjur lewat jalur ini, apa boleh buat, kami harus memupuk kesabaran. Persoalannya ternyata tidak hanya kondisi jalan yang berlubang-lubang. Tapi juga karena begitu banyak truk yang lewat. 

Truk-truk besar dengan tonase yang super besar. Overload pula. Yang menyebabkan kendaraan di beberapa lokasi terjebak macet dan jalan gampang rusak. 

Jumlah kendaraan yang melintas begitu banyak. Sementara yang di belakang truk harus sabar menunggu truk-truk besar itu meraung tinggi dan terengah-engah mengangkut beban di pendakian. Dan tidaklah mudah untuk menyalipnya satu demi satu. 

Lagi-lagi, persoalan yang dihadapi masyarakat setempat, utamanya para pengguna jalan, adalah rusaknya jalan yang tidak tertangani. Kalau dibandingkan dengan jalan tol Palembang-Bakauheni, perbedaannya sungguh seperti siang dengan malam. Sangat bertolak belakang. 

Pembangunan jalan tol yang halus mulus sejauh 538 km itu tak bisa dipungkiri sudah jadi ajang pencitraan selama ini. Tapi jalan-jalan lama itu dibiarkan tak terawat. Karenanya, kita ingin mengetuk hati para pejabat berwenang. Agar mereka peduli terhadap keluhan masyarakat pengguna jalan itu.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda