Frankfurt Book Fair (6-Habis)

Tamu Kehormatan FBF 2015, Indonesia Sabet the Best of Lounge

Goenawan Mohamad (nomor 2 dari kanan) Ketua Delegasi Indonesia di FBF 2015. (FOTO: Frederik Von Erichsen/EPA)

COWASJP.COM – Indonesia pernah menjadi guest of honor dalam FBF (Frankfurt Book Fair) 2015. Saat itu, delegasi Indonesia diketuai oleh penulis dan sastrawan Goenawan Mohamad. 

Ada sekitar 70 penulis  Indonesia didatangkan ke FBF 2015 dengan biaya pemerintah. Mereka mempresentasikan karyanya  yang dirilis dalam bahasa Jerman. Termasuk di antaranya adalah Ayu Utami, Andrea Hirata, Laksmi Pamuntjak, dan Nh. Dini.

Selain itu ada Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, Franz Magnis Suseno, Taufiq ismail, hingga Sapardi Djoko Damono. Namun, beberapa  penulis cenderung menyajikan karyanya dengan membuka luka lama Indonesia, yakni tragedi G30S PKI pada 1965. 

Leila S. Chudori, yang menulis novel berjudul “Pulang”. Ia bercerita, saat kuliah di Kanada ia berkesempatan pergi ke Paris dan bertemu dengan beberapa eksil politik asal Indonesia. Mereka terlibat dalam peristiwa 1965. Pertemuan tersebut memotivasinya untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka dan menuliskan kisahnya. Maka lahirlah novel Pulang.

Penulis muda Laksmi Pamuntjak juga bersinar. Ia memamerkan bukunya Amba yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman berjudul Alle Forben Rot dan dalam Bahasa Inggris dengan judul The Question of Red.

Laksmi mengungkapkan latar belakang mengapa ia menerbitkan buku tersebut. Menurutnya, pada 2009 sebuah survei yang dimuat di salah satu media menyebutkan lebih dari separuh responden yang berasal dari kalangan mahasiswa Jakarta mengaku tidak tahu-menahu tentang 1965. 

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Laksmi menerbitkan novel Amba yang berlatar 1965. Novel pertamanya ini terbit pada 2012.

Malahan, dalam FBF 2015 digelar diskusi mengenai rekonsiliasi korban tragedi 1965. Dalam sesi diskusi, sempat ada perdebatan panjang mengenai haruskah Indonesia melakukan rekonsiliasi tragedi 1965 atau melupakan dan memaafkan masa lalu?

Kedua penulis, Leila dan Laksmi, berharap ada pengungkapan kasus untuk korban tragedi 1965. Namun penyair Taufiq Ismail berbeda pendapat.

“Kalau terus menerus saling menyalahkan tidak akan ada rekonsiliasi. Kedua belah pihak sama-sama punya dan membuat kesalahan. Sekarang semuanya harus dilupakan dan dikubur dalam-dalam,” kata Taufiq.

SENI PATUNG

Seniman Indonesia Jompet Kuswidananto memeriahkan acara pameran buku terbesar di dunia tersebut dengan menghadirkan karya berjudul Power Unit.

Karyanya dipajang di galeri seni Kunstverein, Frankfut.

KULINER INDONESIA

Dalam FBF 2015, Indonesia juga mengenalkan bumbu rempah yang diawetkan sejak setahun.  Ada sekitar 25 juru masak dan tokoh kuliner ternama yang bergabung dalam Tim Kuliner Indonesia untuk Frankfurt Book Fair 2015. Mereka antara lain William Wongso, Sisca Soewitomo, Bondan Winarno, dan Bara Pattiradjawane.

Beberapa kuliner Indonesia yang disajikan antara lain rendang, sate lilit, nasi kuning, sate ayam, nasi goreng, sayur kapau, dan minuman khas Indonesia seperti kunyit asam, teh, dan kopi.

Untuk menyajikan makanan tersebut, tim Indonesia membawa 62 jenis bumbu dasar yang dikumpulkan sejak satu tahun lalu. Bahkan panitia dikabarkan membawa bumbu ekstra seberat 400 kilogram dari tanah air. Hasilnya: peserta pergelaran antri untuk mencicipi masakan asli Indonesia. Ini seperi dikutip di Rappler.com

ANGGARAN INDONESIA DI FBF 2015 Rp 172 M 

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelontorkan dana senilai 10 juta Euro atau setara Rp 172,5 miliar. Selama di Jerman, pemerintah  telah melakukan efisiensi anggaran semaksimal mungkin. Bahkan penunjukan budayawan Goenawan Mohamad sebagai Ketua Panitia Paviliun Indonesia juga berdasarkan seleksi yang diadakan komite yang ditunjuk Kementerian. 

“Anggaran yang kami keluarkan jauh lebih kecil dibanding negara lain saat menjadi tamu kehormatan,” tutur Sekretaris Jenderal Kementerian Didik Suhardi, Rabu, 28 Oktober 2015 seperti dikutip dari Tempo.co. “Tidak semua anggaran terserap, masih tersisa,” tambahnya.

RENDANG.jpgBuku resep makanan Indonesia laris di FBF 2015. (FOTO: istimewa/beritagar. id)

Hasilnya, selama 10 tahun terakhir Indonesia berhasil menyabet penghargaan the best of lounge, bahkan dipuji oleh penyelenggara Frankfurt Book Fair. Untuk mendapatkan penghargaan itu biasanya sejumlah negara mengeluarkan anggaran yang jauh lebih besar.

Karena itu, ia menepis anggapan sejumlah pihak yang menilai bahwa anggaran senilai Rp 172,5 miliar adalah bentuk pemborosan. Menurut dia, anggaran tersebut jauh lebih kecil dibanding dengan apa yang didapat Indonesia. Sebab, peradaban dan berbagai hal tentang Indonesia, khususnya terkait dengan budaya, mulai dikenal oleh mancanegara.

FBF 2020 DENGAN SEMI DIGITAL PROGRAMME

Bagaimana kabar FBF 2020? FBF atau Frankfurt Buchmesse 2020 tetap digelar pada 14 - 18 Oktober 2020 mendatang. Formatnya dimodifikasi semi digital programme. Ini menyesuaikan kondisi pandemi Covid-19 yang menerapkan protokol kesehatan. 

Penulis dan penerbit  bisa tampil sebagai pembicara atau presentasi produknya secara streaming video dan bisa disaksikan para pengunjung.

BOOK.jpgStan Indonesia di FBF 2015. (FOTO: mamarantau.com)

Kehadiran para pengunjung tetap harus sesuai protokol kesehatan anti Covid-19. Kehadiran mereka tetap dikonsultasikan kepada pengawas kesehatan. Ini semua untuk  menjamin keamanan kesehatan bagi delegasi dan pengunjung umum. 

Nanti bisa jadi pembelian tiket tanpa kontak. Kerumunan massa harus disesuaikan dengan tempat yang digunakan, memastikan semua stan memenuhi standar social distancing yang diterapkan pemerintah. 

Bila menghadirkan penulis top yang memungkinkan hadir, ratusan pengunjung akan dipelajari lagi oleh panitia. Akankah sesi ini digelar secara online atau digelar di ruang tertutup dengan keamanan kesehatan tinggi? Kita tunggu saja bagaimana nanti keputusan panitia. 

FBF 2020 tetap hadir di era pandemic. Sudah diumumkan Rabu 27 Mei 2020 oleh German Publishers and Booksellers Association. 

Ini merupakan kabar baik bagi  international publishing industry yang sengsara di era pandemi. Demikian seperti dikutip dari www.thenational.ae pada 29 Mei 2020.

Gara-gara pandemi Covid-19, pameran-pameran buku internasional batal digelar. Termasuk di antaranya  London Book Fair ( 10-12 Maret), Paris Book Fair (20-23 Maret), Bologna Children’s Book Fair (12-15 April), Abu Dhabi International Book Fair ( 15-21 April), dan Indonesia Book Fair (9-13 September).

Pada awal Juli 2020, penerbit-penerbit besar menyatakan mundur sebagai peserta FBF 2020.  Namun panitia tetap menggelar event ini dengan membatasi hanya 20.000 pengunjung yang bisa masuk per hari, dan stan akan disebar dengan penerapan social distancing.  

Tahun lalu, total 302.000 pengunjung selama lima hari pameran.

Kanada tetap menjadi tamu kehormatan (guest of honor) namun akan hadir secara virtual. (Habis)

Penulis: Mochamad Makruf, Wartawan Senior di Surabaya dan mantan staf JP Books.

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda