Kecewa dengan Nadiem (1)

Mau Jadi Apa Bangsa Kita ke Depan?

COWASJP.COM – Nadiem Makarim. Anak muda milenial yang sukses. Di saat usianya belum genap 40 dia sudah berhasil mencatat prestasi gemilang. Menjadi pengusaha sukses yang berbasis online. Sekarang kita familier dengan istilah daring.

Ketika mengajar, saya sering mencontohkan sosok Nadiem kepada mahasiswa. Biasanya,  fenomena Nadiem saya gunakan untuk memberikan ilustrasi soal perubahan zaman yang harus dipahami mahasiswa. Khususnya pergeseran dari dunia offline ke dunia online. Mereka dituntut harus responsif, terampil, kreatif, inovatif dan kompetitif.

Sebagai pengajar yang juga sekaligus mengelola usaha, saya memahami bahwa perubahan dari offline ke online ini memang tidak bisa dihindari. Dan saya, sudah memposisikan diri di dalam gelombang perubahan itu, meski masih tertatih-tatih dan sering tertinggal. 

Karena itu, saya melihat Nadiem adalah anak muda hebat yang layak jadi contoh mahasiswa atau pelajar Indonesia.

Namun, meski saya mengagumi prestasi Nadiem, tapi begitu Presiden Jokowi mengangkat dia sebagai menteri pendidikan, keraguan sempat menghantui saya. Ini terobosan terlalu berani. Orang yang masih muda, tidak ada pengalaman mengelola pendidikan ditunjuk sebagai menteri pendidikan. Di tangan dia, arah pendidikan anak bangsa akan ditentukan. Tapi, saya mencoba berbaik sangka. "Siapa tahu nanti akan menjadi penjembatan antara anak-anak Indonesia dalam memasuki revolusi industri 4.0," pikir saya.

Selain itu, saya juga masih mencoba menunggu ketajaman insting Jokowi. Sebagai orang yang telah sukses mengelola perusahaan, tentu Jokowi punya insting hebat. Juga keberanian dalam  melakukan terobosan yang tdk lazim. Karena itu, saya tetap menunggu hasil loncatan berani yang tidak lazim dilakukan orang kebanyakan ini.

Posisi saya menunggu. Wait and see. Menunggu gebrakan apa saja yang akan dia lakukan. 

Apresiasi saya berikan ketika dia melontarkan gagasan untuk menghapus Ujian Nasional. Saya setuju. Sejak awal UN dilaksanakan, saya sudah melihat banyak sisi negatif yang ditimbulkannya. Saya juga mendukung ketika dia melontarkan gagasan Belajar Merdeka. "Itu ide visioner!" kata saya.

Namun, begitu covid-19 mengacaukan kehidupan kita, saya mulai dihinggapi perasaan kecewa. Saya kecewa ketika dia menetapkan zonasi untuk boleh tidaknya sekolah mengadakan tatap muka berbasis kabupaten. Padahal kabupaten di Indonesia itu luas. Sama dengan satu negara Brunei Darussalam. Harusnya, zonasi itu dipersempit lagi. Sehingga kecamatan atau desa yang tidak ada kasus dan diyakini aman (zona hijau) boleh menyelenggarakan tatap muka. 

Saya percaya covid. Saya menghargai upaya pemerintah mencegah penyebaran covid. Tapi fakta lain harus dilihat. Pembelajaran online (daring) sama sekali tidak efektif. Pembelajaran ini juga menimbulkan banyak masalah bagi orang tua dan anak. 

Jangankan orang tidak mampu. Ortu yang mampu saja pontang panting. Belum lagi dampak negatif untuk anak-anak yang setiap hari mulai bermesraan dengan Smart Phone.

Sampai sekarang, Nadiem tidak juga memahami problem-problem yang muncul akibat kebijakannya. Daring tetap jalan. Tidak ada solusi yang ditawarkan ketika jeritan dan rintihan masyarakat mulai terdengar. Dia hanya berpikir searah. Pembelajaran jarak jauh adalah solusi terbaik untuk menjaga keamanan anak-anak
 Dia sepertinya tidak terlalu memahami, kalau daring juga bisa membikin anak stres karena harus dikurung di rumah.

Kekecewaan saya menjadi lebih lengkap ketika belakangan geger soal program POP. Di mana, NU, Muhammadiyah dan PGRI memutuskan untuk tidak ikut program tersebut karena dianggap banyak masalah. Dia mengikutkan yayasan-yayasan milik konglomerat untuk mendapatkan dana dari APBN.

Dari sikap dan kebijakan yang diambil, akhirnya saya menyimpulkan bahwa Nadiem gagal memahami bangsanya sendiri. Dia sepertinya asing dengan kehidupan rakyat di negeri ini. 

Nadiem, kelihatannya lupa kalau negeri ini sangat luas. Tidak hanya Jakarta dan kota-kota besar yang pernah dikunjungi. Tidak hanya ada di google map. Dia rupanya tidak tahu kalau di seluruh pelosok negeri ini masih banyak daerah terisolir. Jangankan luar Jawa. Jawa yang dikatakan paling maju saja, masih ada daerah yang masih belum "terhubung" dengan dunia luar.

Yah...pemahaman Nadiem atas bangsanya sepertinya memang minim. Sejarah bangsanya juga belum banyak dia baca. Buktinya dia tidak terlalu kenal NU dan Muhammadiyah. Dua ormas besar yang menjadi ibu kandung republik ini.

Asumsi saya mungkin tidak benar 100 persen. Saya hanya khawatir, bila asumsi saya benar, maka ke depan akan bermunculan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tidak nyambung dengan kondisi bangsa ini. Terus mau jadi apa bangsa ini ke depan?

Saya berharap, Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma'ruf Amin yang saya yakin lebih memahami bangsanya daripada Nadiem segera mengambil langkah-langkah strategis. Kalau perlu ya segera diadakan evaluasi. Ganti dengan sosok yang paham pendidikan dan paham bangsanya. Sangat beresiko bila pendidikan di negeri ini didesain oleh orang yang tidak mengerti betul bangsanya. (Bersambung) 

Penulis adalah eks jurnalis Jawa Pos, kini jadi khadam pendidikan.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda