Kirab Budaya Rutin

Bisa Menghidupkan Homestay di Kawasan Borobudur

COWASJP.COMMASYARAKAT sangat antusias menyaksikan Kirab Budaya  yang digelar sebagai puncak acara 14 Tahun Ruwat Rawat Borobudur. Sepanjang jalan yang dilalui Kirab Budaya ini -- dari Halaman TIC (Tourism Information Center) Brojonalan menuju halaman Candi Borobudur-- penuh dengan warga dan wisatawan. 

Semua ini menunjukkan Kirab Budaya Ruwat Rawat Borobudur telah menjadi promosi yang luar biasa bagi World Cultural Masterpiece, Candi Budha terbesar ini.

kirab5ATaGD.jpgFoto-foto: istimewa

"Ke depan, kegiatan budaya semacam ini juga harus terus difokuskan untuk mengembangkan kepariwisataan  di sekitar Magelang sehingga masyarakat merasakan manfaat langsung dari kegiatan budaya dalam  konteks pariwisata," ujar Staf Ahli Menpar Bidang Multikultural Hari  Untoro Drajat yang bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melepas peserta Kirab Budaya 14 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Minggu (21/5).

kirab-borobudurJObPD.jpg

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menutup rangkaian Ruwat Rawat Borobudur 2017 ini dengan pemukulan gong. Tampak pula Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, Perwakilan Kemenpar Hari Untoro Drajat dan Watie Moerani, Camat Borobudur Nanda Cahya Pribadi, PLT. Kadisparpora Magelang Iwan Sutiarso, Kepala Balai Konservasi Borobudur Marsis Sutopo, GM Taman Wisata Borobudur, unsur TNI - Polri serta perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Trenggono dan Kasubid Wisata Sejarah dan Religi serta staf. 

Acara Karnaval diikuti 109 rombongan atau secara keseluruhan sekitar 7.000 orang. Mereka mengenakan atribut pakaian khas daerah dan etnik.

Hari Untoro menjelaskan, Borobudur memiliki tidak kurang dari 126 kelompok kesenian tradisional. Terbukti dari banyaknya peserta Ruwat Rawat Borobudur yang sudah dilaksanakan dari tanggal 9 Maret - 21 Mei 2017. Puncak acara Minggu (21/5) menunjukkan bagaimana antusiasme masyarakat yang semakin meningkat.

kirab2Jy9ci.jpg

Hari lebih lanjut menegaskan, modal budaya yang berupa living culture untuk ke depan akan menjadi acara rutin. "Dan sudah saatnya dikembangkan dalam bentuk yang lebih terintegrasi guyub rukun lintas 20 desa di kecamatan Borobudur. Utamanya dalam mengisi kesenian pada pintu gerbang memasuki kawasan Borobudur yaitu di TIC, Tourism Informaton Center, secara rutin. Bisa dilakukan pada setiap minggu ataupun saat tertentu terkait  dengan ekspresi budaya juga saat kedatangan wisatawan," tegas Hari Untoro.

Ruwat Rawat Borobudur yang telah berlangsung 14 tahun menunjukkan bahwa masyarakat pelaku kesenian di Borobudur telah melakukan pelestarian budaya. Telah "nguri uri"  dengan penuh kesadaran bahwa budaya semakin dilestarikan semakin mendatangkan kesejahteraan.

Dengan kehadiran pengunjung dari luar kota, kontak lintas budaya berlangsung. Dan saat inilah mulai berkembang wisatawan bukan saja hadir untuk sekedar melihat namun juga ingin tahu dan ingin mendapatkan pengalaman experience dari kunjungannya sebagai wisatawan. Oleh karena komunitas di Borobudur terus berkembang, kebutuhan akan penginapan atau homestay pun akan berkembang. 

kirab5ATaGD.jpg

"Jika kesenian berkembang, atraksi kultural bertambah hidup, akan semakin banyak pengunjung yang datang dan tertarik untuk tinggal di rumah-rumah warga. Wisatawan yang tinggal bersama keluarga di lingkungan sekitar Borobudur akan mendapatkan pengalaman kultural yang lebih," tandas Hari.

kirab35J0xw.jpg

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan mendukung penuh Ruwat Rawat Borobudur ini. "Tahun-tahun mendatang harus lebih banyak peserta dan lebih meriah," tegasnya.

Kirab diisi penampilan penyaji terbaik Festival Kesenian Rakyat Pasedhuluran 2017 , atraksi seni tradisi Brayat Penangkaran. Mereka datang dari sejumlah kota seperti Bandung, Purworejo, Temanggung, Wonosobo. Bahkan ada yang dari luar Jawa yakni dari Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Bali.

Peserta kirab mengenakan pakaian berbagai tarian tradisional. Berbagai tetabuhan tarian mereka bunyikan sepanjang jalur kirab. Para pelaku kirab budaya, antara lain rombongan kesenian tarian Soreng, Kuda Lumping, Jatilan, Kubro Siswo, Topeng Ireng, Lengger, dan pemain sendratari Kidung Karmawibangga.

kirab48i5Dc.jpg

Mereka juga mengusung gunungan cukup besar berisi aneka hasil pertanian di daerah itu. Puncak kirab dilakukan dengan penyalaan lilin perdamaian dan renungan budaya. 

Ketua Komunitas Warung Info Jagat Cleguk Borobudur Sucoro menegaskan Ruwat-Rawat Borobudur merupakan wujud komitmen bersama masyarakat untuk ikut serta melestarikan warisan budaya dunia tersebut.

Dikatakannya, rangkaian kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini untuk mendukung pengembangan destinasi wisata Candi Borobudur dengan kawasannya yang berbasis tradisi budaya. "Butuh sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola kepariwisataan Candi Borobudur," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda