Bahasa Lisan dan Tulisan Seorang Dhea

Alma Putri Dhiafira, yang akrab dipanggil Dhea (Foto: istimewa/Grafis CoWasJP)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Djoko Pitono 

----------------------------------------

ralfEO3mA.jpg

SEBUAH tulisan pendek berbahasa Inggris terpasang di sebuah situs internet belum lama ini. Dari beberapa kalimat awalnya, pembaca kiranya dapat menyimpulkan kualitas penulisnya. Percaya diri, asertif, dan bangga pada budaya bangsanya:

As a former Rotary Youth Exchange Student, I would like to say, “Sometimes if we seek outside too much, we forget how rich we are at home”.

A couple of weeks ago, somebody invited me to watch Srimulat, a traditional comedy show from Surabaya. It was a very famous show but these days it seems the popularity gets beaten by TV Shows or Telenovelas. There’s a reason why somethings trend while others do not and I wanted to know what is going on with Srimulat. But before I made up my opinion, I had to watch the show.

Meskipun pendek, tulisan tersebut multipesan. Penulisnya tidak hanya mempromosikan kelompok seni Srimulat dari Surabaya itu, tetapi juga melontarkan kritik secara halus tapi tajam. Betapa kita kadang terlalu memuja dan mengidolakan hal-hal dari luar (negeri), tetapi lupa betapa kita sebenarnya kaya raya. Sometimes if we seek outside too much, we forget how rich we are at home.

Tulisan berjudul Srimulat: a Traditional Comedy Show from Indonesia itu pun ditutup dengan kalimat yang manis.  In the end, comedy is created based on each region’s culture so every country has their own style of comedy. A good and smart comedy makes people happy. Happy citizen makes a happy country. Akhirnya, komedi diciptakan berdasar budaya masing-masing wilayah sehingga setiap negeri memiliki komedinya sendiri-sendiri yang khas. Komedi yang baik dan cerdas membuat masyarakatnya bahagia. Warga yang bahagia membuat negeri juga bahagia (http://www.voicesofyouth.org/en/posts/srimulat-a-traditional-comedy-show-from-indonesia)

Siapakah penulisnya? Apakah seorang mahasiswa? Bukan. Alma Putri Dhiafira, akrab dipanggil Dhea, sekarang masih duduk di kelas XII SMAN 5 Surabaya. Peserta Program Pertukaran Siswa Rotary (Rotary Youth Exchange Program,YEP) 2015-2016 di Michigan, Amerika Serikat, ini baru akan menjadi mahasiswa tahun ajaran mendatang. Dalam SMNPTN yang hasilnya diumumkan pekan lalu, Dhea diterima di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, yang memang jadi impiannya.

Tetapi kemampuan menulis Dhea tak hanya terlihat dari sepotong tulisan tentang Srimulat tersebut. Gadis imut ini, begitu pulang dari Amerika Serikat tahun lalu, juga telah menerbitkan buku yang ditulisnya, Kisahku sebagai Exchange Student.  Dalam bukunya itu, Dhea menulis semua pengalamannya selama mengikuti Rotary Youth Exchange Program.

Namun jelas, tidak ada sesuatu yang diperoleh secara instan dalam kemampuan menulis. Sejak kecil, Dhea telah dibiasakan oleh keluarganya untuk akrab dengan buku-buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Kebiasaannya membaca buku-buku pun berlanjut dengan kesukaan menulis. Berbagai macam pikirannya terekam dalam beragam tulisan yang tersimpan rapi hingga kini.

Tidak hanya itu. Kemampuan Dhea dalam berkomunikasi ternyata juga unggul secara lisan, alias pintar berbicara di depan publik. Menurut ibunda Dhea, Enny Ambarsari, sejak kecil Dhea diikutsertakan dalam program Public Speaking di Lembaga Kursus Natasa Surabaya. Awalnya, Dhea mengikuti workshop anak dari 9 hingga 11 Juli 2007, kemudian meneruskan program Basic Public Speaking Anak, lulus 16 Desember 2007. Berikutnya, tingkat Intermediate lulus 6 Juli 2008, dan Advanced selesai 12 April 2009.

dea-1q2L7x.jpg

Dirasa masih kurang, Dhea meningkatkan kemampuannya dalam mengolah kata dengan mengikuti kelas Basic Public Speaking pada Desember 2011 dan Intermediate Public Speaking pada tahun berikutnya. Tidak percuma semua usahanya tersebut. Terbukti, Dhea menjadi Juara Ning Cilik 2009, Juara I Ning Surabaya Tingkat SMP 2011, dan menjadi presenter untuk program anak di Space Toon TV Kabel Anak Surabaya.

Keberhasilan Dhea dalam mengikuti Program Pertukaran Rotary adalah juga berkat kemampuannya berkomunikasi. Dhea mengatakan, dirinya sangat berterimakasih dalam Rotary Club Surabaya Darmo yang telah mensponsorinya dalam program tersebut. Namun terlepas dari peran Rotary, Dhea jelas dapat mengikuti program tersebut berkat kemampuannya. Dia lolos dari seleksi yang ketat.

Bahasa Lisan dan Tulisan

Kisah tentang Dhea menunjukkan betapa ketrampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, amat penting. Orang-orang terpelajar, apalagi kelompok mahasiswa atau sarjana, seharusnya melakukan selalu aktif dalam kegiatan itu untuk berkomunikasi. Mereka perlu menyampaikan gagasan-gagasannya, selain juga melakukan persuasi serta hiburan. Namun ketrampilan itu tidak bisa jatuh dari langit. Anak-anak sekolah harus dilatih sedini mungkin.

 Teramat banyak untuk mendaftar apa saja manfaat menulis. Maju tidaknya suatu bangsa dapat dilihat antara lain dari jumlah karya tulis yang diciptakan dan dibaca oleh anggota masyarakat. Karya-karya itu dapat berupa buku, tulisan-tulisan di jurnal-jurnal ilmiah, dan juga artikel-artikel ilmiah populer di media massa lainnya. Berbagai karya tulis itu dibutuhkan untuk mencerdaskan masyarakat.

Manfaat menulis untuk pribadi juga banyak. Menulis merupakan aktivitas yang paling tinggi nilainya bagi manusia terpelajar. Ini wajar karena menulis merupakan ketrampilan berbahasa paling tinggi setelah ketrampilan mendengar, berbicara dan membaca.

Dalam buku otobiografinya, Lee Iaccoca, Presiden Direktur Ford Corporation di era 1970-an, selalu menekankan pentingnya ketrampilan komunikasi, termasuk menulis, bagi karyawan pabrik mobil tersebut. Kepada seorang putrinya, Iacocca juga menekankan pentingnya hal tersebut.

“Kamu bisa belajar apa saja. Tetapi yang paling penting, bahasamu harus baik, lisan maupun tulisan” kata Iacocca. (Iacocca: An Autobiography. With William Novak: 1983). 

Banyak orang besar atau tokoh yang berhasil dalam bidangnya mengawali kariernya dengan menulis dengan baik. Banyak presiden Amerika yang pintar menulis, di antaranya John F. Kennedy, Bill Clinton, dan Barack Obama. Selain kehebatannya dalam menjalin perkawanan, Bill Clinton yang berasal dari keluarga sederhana pun dapat terpilih menjadi Presiden AS berkat kemampuannya berkomunikasi. Tulisan-tulisannya bagus, juga pidato-pidatonya. Bahasanya indah.

Mantan Presiden Barrack Obama juga piawai berkomunikasi, lisan maupun tulisan. Bayangkan, orang kulit hitam dapat terpilih menjadi Presiden AS selama dua masa jabatan. Rahasianya? Antara lain berkat ketrampilan komunikasinya secara lisan maupun tulisan. “Kalau Anda menulis, Anda tidak akan pernah kalah karena Andalah yang menentukan segalanya,” kata Obama dalam sebuah buku karyanya.

dea3QjTHr.jpg

Mereka yang mampu menulis dengan baik memang pantas bersyukur karena penelitian di sejumlah negara menunjukkan bahwa masyarakat terdidik “semakin sulit” menulis dengan baik. Mantan Menteri Pendidikan Amerika Serikat William Bennett era 1980-an, misalnya, mengakui hal itu. Bennett menunjukkan, kurang dari 40 persen siswa SMA di Amerika saat itu dapat membaca surat kabar dengan baik, sementara hanya 2 persen yang dapat menulis dengan jelas,  “detailed and coherent narrative.” Para ahli pendidikan menduga kecenderungan itu adalah akibat makin dominannya media elektronik. Apalagi di era digital sekarang ini, di mana unsur games dan hiburan lebih menonjol.

Berbagai gambaran di atas pentingnya upaya untuk menggugah minat para siswa sekolah dalam tulis-menulis. Bila anak berminat menjadi penulis yang baik, anak itu dapat mencapainya. Bila anak mempunyai motivasi yang kuat, dia cukup  ucapkan niat untuk itu dan belajar! Kisah tentang Alma Putri Dhiafira alias Dhea hanyalah satu di antaranya.

Baca Buku

Dari uraian di atas, ada beberapa kunci pokok yang perlu digarisbawahi untuk membimbing anak-anak kita piawai berkomunikasi. Beberapa kunci pokok yang sering disebut para pakar bahasa adalah sebagai berikut:

Pertama, ketrampilan menulis tak bisa dipisahkan dari kebiasaan membaca. Dalam kaitan ini, tak ada penulis yang muncul tanpa kebiasaan membaca. Kebiasaan ini mutlak dimiliki bila seseorang ingin menjadi penulis. Kebiasaan membaca akan banyak menentukan dalam membentuk kemampuan mengorganisasi pikiran dan disiplinnya. Ada ungkapan penulis terkemuka, Raph Waldo Emerson, yang menyebutkan: “Talent alone cannot make a writer; there must be a man behind the books.”

ea-2OFBq0.jpg

Kedua, kebiasaan membaca perlu didukung dengan kebiasaan mengamati dan mempelajari tulisan-tulisan orang lain. Kemampuan semua orang pada hal tertentu berasal dari hasil pengamatannya pada orang lain. Di Jepang, kata 'maneru' -- yang berarti 'meniru'  -- bukanlah sesuatu yang rendah. Manusia sejak bayi meniru orang-orang di keluarga dan lingkungannya. Bila Anda ingin menjadi novelis, maka Anda tentu harus banyak membaca dan mengamati novel karya orang lain. Bila ingin menjadi kolumnis, tentu juga harus banyak membaca dan mengamati kolom tulisan orang lain, khususnya mereka yang telah dipandang berhasil.

Ketiga, mulailah menulis begitu Anda mendapat ide atau gagasan. Tulislah di mana saja dan kapan saja bila ide itu muncul, bisa di kertas-kertas sobekan, buku-buku notes atau harian, tidak perlu adanya laptop atau komputer. Baca berkali-kali, renungkan isinya, bahasanya dan lain-lain. Perbaiki, rombak, perbaiki dan rombak, bila perlu. Begitu seterusnya.

Keempat, pelajari bahasa asing. Para pakar bahasa menganjurkan, pelajari salah satu bahasa asing yang telah mapan, misalnya, bahasa Inggris, Arab, Prancis, Jepang dan sebagainya. Kemampuan berbahasa asing akan sangat membantu Anda dalam memperbaiki bahasa Anda, di samping hal-hal lain seperti menambah wawasan dan pengetahuan Anda. Pasalnya, akses Anda  pada sumber informasi lebih besar.

Kelima, jaga keyakinan Anda bahwa Anda dapat berhasil dalam cita-cita Anda menulis dengan baik. Berhasil tidaknya Anda menulis dengan baik sebagian besar ditentukan oleh Anda sendiri, bukan orang lain.

Anda ingin menjadi penulis atau pengarang buku? “Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah,” kata Pramoedya Ananta Toer, pengarang besar Indonesia, dalam tetralogi keempatnya Rumah Kaca (2001:352).

Mungkin pula Anda ingin menjadi jurnalis? Ini juga sangat menarik. Journalism is history on the run. It's a great way of seeing events, of being there, of being part of history. (*)
 
Djoko Pitono, jurnalis dan editor buku.

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda