Bung Karno dan Seorang Cucunya di Jepang

Foto Dan Ilustrasi CoWasJP

COWASJP.COMWARTAWAN CoWasJP Roso Daras melaporkan dari Tokyo, Puti Guntur Soekarno diundang ke Universitas Kokushikan, Tokyo, Jepang, untuk kedua kalinya guna berbicara tentang pemikiran kakeknya, Bung Karno. Pertengahan tahun lalu, Puti juga diundang  oleh universitas yang sama dan menyampaikan pidato berjudul “Pancasila Bintang Penuntun”. 

Putri tunggal Guntur Soekarnoputra itu dijadwalkan memberikan kuliah umum di Kampus Satagaya Universitas Kokushikan, Pusat Studi Asia-Jepang, Kamis (3/11) ini. Profesor Tamu Universitas Kokushikan yang juga Anggota Komisi X DPR RI tersebut  hadir atas undangan Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universias Kokushikan, Pusat Studi Asia-Jepang. Kuliah umum yang ia sampaikan pada kesempatan kedua ini berjudul “Pancasila Menuju Tata Dunia Baru”.  Simposium internasonal ke-2 mengenai Sukarno itu sendiri bertajuk “Merefleksikan Pemikiran Soekarno”.

Roso Daras juga menyebutkan, Puti didampingi dua pemateri lain dari Indonesia. Mereka adalah Bonnie Triyana (Majalah Historia) yang akan berbicara “Mencari Soekarno Sejati”, dan Prof Dr Dadan Umar Daihani membawakan kajian “Bung Karno: Dunia Pendidikan dan Peradaban Bangsa”.

Sedangkan, pihak Universias Kokushikan juga menghadirkan dua pembicara. Masing-masing Prof Masakatsu Tozu yang berbicara “Politik Nasionalisme Soekarno dan Batik”, serta Kaoru Kochi dengan topik “Hubungan Indonesia-Jepang dan Kajian Mengenai Soekarno di Jepang”.

BACA JUGA: Puti Guntur ke Jepang Bawa Pemikiran Bung Karno

Di akhir laporannya, Roso Daras, yang juga dikenal sebagai penulis “spesialis” buku-buku Bung Karno, menyebut bahwa yang menarik adalah, Universitas Kokushikan memiliki “Soekarno Research Center”. Pusat Riset Soekarno. “Di pusat riset mengenai Sukarno itu, mahasiswa mendalami ajaran-ajaran Presiden Indonesia pertama. Dari waktu ke waktu, peminat Sukarnoisme makin besar jumlahnya,” tulisnya.

Orang-orang mungkin bertanya, mengapa Puti yang diundang di antara banyak anggota keluarga Bung Karno? Tentang ini yang paling tahu tentu saja pihak Universitas Kokushikan. Tetapi kita bisa meraba. Puti Guntur sebenarnya adalah “meteor” dari keluarga Bung Karno.

puti-sukarnotBJlM.jpg

Puti Guntur Soekarno. (Foto: istimewa)

Alumnus Universitas Indonesia ini adalah anggota keluarga Bung Karno “paling intelek”. Sebagai politikus, tulisan-tulisan Puti di media bagus. Sikap dan gaya bicaranya di depan publik menarik. Selalu santun dan tidak emosional, serta selalu menunjukkan simpati dan apresiasi pada kalangan tertentu yang relevan dengan acaranya.

Namun kalau ada yang bertanya, mengapa “meteor” yang cemerlang ini tidak pernah disinggung oleh yang punya kuasa di partainya untuk punya peran yang maksimal? Jadi calon gubernur, misalnya? Tulisan ini memang tidak membicarakan hal itu.

Kembali ke Bung Karno. Mengapa Universitas Kokushikan mendirikan Pusat Riset Soekarno? Mengapa peminat studi Soekarnoisme di Jepang meningkat? Mari kita melihat bersama di Tanah Air.

Sebagai pendiri Republik ini, nama Soekarno sudah jelas tempat dan jasanya. Tetapi Bung Karno sendiri mengatakan, “Saya dipuja bak dewa, tapi juga dikutuk sebagai bajingan.”

Tetapi kita pada umumnya melihat, betapa Soekarno masih tetap menjadi idola jutaan warga negeri ini, baik di Jawa maupun luar Jawa. Jangankan bagi banyak orang yang usianya di atas 50 atau 60 tahun. Tidak sedikit anak muda yang tak pernah bertemu Soekarno pun mengidolakannya. Mereka mengoleksi foto-foto, asesori bergambar Soekarno, maupun buku-buku tentang tokoh itu. Foto-foto berbagai ukuran masih sering terpasang baik di tembok-tembok rumah perkotaan maupun dinding gedek warga pedesaan. Lihat misalnya mural Proklamator itu di Jakarta dan kota-kota besar yang sering terlihat di mana-mana. Tulisan Puti Guntur Soekarno, Bung Karno dalam Ingatan (Kompas, 13 Juni 2012, hlm 7) rasanya juga tak berlebihan dalam melukiskan kehebatan kakeknya itu.

Selama puluhan tahun sejak awal Orde Baru, berbagai upaya dilakukan untuk mengecilkan Soekarno. Buku-buku ‘Si Bung’ dilarang beredar. Buku-buku sejarah yang digunakan di sekolah-sekolah tak memberi informasi yang jujur dan memadai tentang pendiri republik itu. Puluhan juta anak belajar Pancasila dan jutaan pegawai ditatar P4. Tetapi nama Soekarno nyaris out. Tidak perlu heran bila hingga kini jutaan warga negeri ini, termasuk para sarjana, tidak pernah tahu teks pidato masterpiece Soekarno tentang Pancasila yang diucapkannya pada 1 Juni 1945. Padahal, pidato itulah yang menjadi babon dasar negara.

Simposium di Tokyo kali ini disebut membahas pula peran Bung Karno dalam pendidikan dan peradaban bangsa. Saya tidak tahu apa yang disampaikan oleh Prof Dr Dadan Umar Daihani. Tetapi tentu perlu diingat bagaimana Bung Karno, antara lain, mengirimkan ratusan bahwa ribuan lulusan SMA dan sarjana untuk belajar di luar negeri. Visi Bung Karno, merekalah nanti yang akan memimpin negeri ini membangun bangsa, mengolah sumber daya alam secara mandiri. Tetapi yang terjadi adalah bencana bagi anak-anak muda cerdas tersebut. Setelah pergolakan politik 1965, banyak mahasiswa itu tak bisa pulang, terlunta-lunta karena perlakuan pemerintah Orde Baru. Mereka yang pulang pun, banyak yang mengenaskan hidupnya. “Satu generasi cendikiawan terbaik Indonesia lenyap bersama jatuhnya Bung Karno,” kata Dede Oetomo, sosiolog lulusan Universitas Cornell, Amerika Serikat.

djoko-pitonoNrjz7.jpg

Djoko Pitono Hadiputro (paling kiri) bersama Cowasers: DR Imron Mawardi, Herman Rivai, dan Yamin Akhmad. (Foto: CoWasJP)

“Topik ini saja akan bisa jadi buku-buku yang menarik,” tambah Dede, yang mengajar di beberapa perguruan tinggi di Surabaya.

Pelukisan tentang Soekarno sebagai idola rakyat pernah jadi laporan utama Majalah Asiaweek terbitan Hongkong edisi 23 Juni 1994. Saat itu masih kuatnya kekuasaan Orde Baru. Keith Loveard, wartawan majalah itu, mengawali laporannya dengan menunjukkan potret Bung Karno melekat di dashboard sebuah taksi. Saat sang sopir ditolehnya, ia tersenyum penuh arti. Loveard tak merasa heran mengapa sopir itu memasang potret itu, bukan tokoh lain. 

“Di seluruh wilayah Indonesia yang membentang 5.000 km, tulisnya, satu nama  sinonim dengan nasionalisme Indonesia: Soekarno, pendiri negara dan arsitek kemerdekaan,” kata Loveard dalam laporan berjudul Sukarno, Where Does He Stand Today?.

Loveard juga menulis, kenangan atas Bung Karno adalah kenangan tentang nasionalisme, tentang wawasan kebangsaannya, tentang perjuangan fisik, pikirannya, tentang apresiasinya yang tinggi dalam seni dan lain-lain. Orang tidak akan lupa pada penderitaannya keluar masuk penjara selama bertahun-tahun. Orang tidak akan lupa pada semangatnya yang berkobar-kobar dalam menggugah bangsanya yang sedang terlelap tidur. Dan orang pun tak mungkin lupa bahwa ia adalah satu dari sedikit tokoh sejarah yang mampu mempersatukan bangsanya yang besar dan beragam budaya ini dengan pena dan lidahnya. Praktis tanpa darah yang tumpah.

Bakat bahasa yang dimiliki Bung Karno adalah senjata utamanya. Mendiang Prof. Dr. Sudjoko, pengamat bahasa dan guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, pernah menuliskannya sebagai berikut: ''... Lalu muncul ahli bahasa yang bernama Ir. Soekarno. Bahasa-bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Sunda, Jawa, dan tentu saja bahasa Indonesia menyembur dari lidahnya dan penanya secara meyakinkan. Bahasa Latin, Sansekerta, dan Arab diketahuinya ala kadarnya...'' (Kompas , 20 Mei 1987, hlm 1)

Dari Bung Karno, anak-anak bangsa ini sebenarnya bisa belajar banyak hal, mulai ketrampilan berbahasa, kejujuran, keberanian, kesederhanaan hidup, wawasan kebangsaan, keluasan ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Ketika banyak orang -- mulai anak-anak sekolah hingga tokoh-tokoh bangsa -- seolah bisu tak mampu berkomunikasi dengan baik, Bung Karno adalah guru bahasa yang luar biasa. Tulisan-tulisan dan orasi-orasinya memang istimewa.

Tak Ada Tanah, Tak Ada Simpanan

Sebagai pemimpin. Soekarno juga terkenal sederhana, tak pernah memikirkan harta. Jangan bandingkan dengan pejabat sekarang. Simak misalnya kata-katanya tentang harta yang dimilikinya setelah menjadi Presiden RI sekitar 15 tahun.

“Ke mana aku pergi? Aku tak punya rumah untuk diriku sendiri. Tidak ada tanah, tidak ada simpanan. Bukan sekali dua kali aku tak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di satu negeri, seorang dutabesar kami terpaksa membelikanku sepasang piyama. Satu-satunya piyama. Presiden sudah sobek. Akulah satu-satunya Presiden di dunia yang tidak rumah sendiri.” (Sukarno,An Autobigraphy as Told to Cindy Adams, 1966, dan telah diterjemahkan menjadi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Meski miskin harta, Bung Karno amat kaya buku-buku dan koleksi karya  seni, yang semuanya diberikan pada negara. Sejak kecil hingga jadi Presiden, ia adalah pembaca buku yang luar biasa.

Tragisnya, tak lama setelah “Kudeta Merangkak” 1965 hingga wafatnya 21 Juni 1970, Bung Karno diisolasi militer dan praktis tak boleh membaca buku-buku dan media massa. Betapa primitifnya larangan itu, penguasa kolonial Belanda pun tak melakukannya.

Meskipun begitu, semua perlakuan buruk tak menghapusnya sebagai pemimpin yang  paling kaya visi dan inspirasi bagi bangsanya. Si Bung tetap jadi idola.(*)
 

Djoko Pitono, Veteran jurnalis editor buku. Penulis buku Soekarno: Obor yang Tak Pernah Padam.

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda