Grebek Pancasila Acara Fenomenal di Blitar

Pawai Grebek Pancasila di Blitar. (Foto: Kusnin/CoWasJP.com)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Imam Kusnin Ahmad

--------------------------------------------

SETIAP tanggal 1 Juni sejak tahun 2001 digelar Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar. Kegiatan ini merupakan acara untuk memperingati hari Lahir Pancasila yang didesain menjadi peristiwa budaya.

Pada awalnya acara ini dilaksanakankan oleh seniman-seniman Blitar dengan sentuhan dan piranti etik dan estetika tanpa meninggalkan kekhidmadan dan makna sebuah upacara. Namun belakangan Grebeg Pancasila langsung ditangani oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar. Upacara ini dilaksanakan di Aloon-Aloon Kota Blitar.

Sebelum kirab lebih dulu diadakan upacara dengan pola dan model adat Jawa. Setelah itu dilakukan Kirab Gunungan Limo (Lima Gunung ) dilaksanakan dengan rute Aloon-Aloon Kota Blitar,  Jalan Timur Aloon-Aloon Kota Blitar, Jalan Merdeka, Jalan A. Yani, Gedung DPR ke utara Jalan Ir. Soekarno, Jalan Slamet Riyadi dan rute terakhir Makam Bung Karno untuk Selamatan yang biasa disebut Kenduri Pancasila.

Semuanya ini adalah untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang terkandung pada tiap-tiap acara pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila. Yakni rela berkorban tanpa pamrih, Kesetiaan kepada Bangsa dan Negara, kesatuan dan kerukunan, semangat membangun kesadaran berbangsa dan bernegara, mencintai warisan budaya lokal.

kusnin-satu79sFX.jpg

Foto: Kusnin CoWasJP.com

Seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara Grebeg Pancasila tahun 2016 pada1 Juni minggu lalu tetap meriah dan mempesona. Meski tidak semeriah tahun 2015 karena sempat dihadiri Presiden Joko Widodo dan anggota-anggota MPR RI, sehingga menyedot perhatian masyarakat di seantero tanah air.

“Kurang lebih peserta (petugas inti yang terlibat di acara Grebeg Pancasila, red) 700-an orang. Terdiri dari Muspida Kabupaten dan Kota Blitar, SKPD, anak-anak pelajar dan warga dari 22 kelurahan di 3 wilayah kecamatan Kota Blitar,” ungkap Wisnu Hananta Dewa, budayawan muda Kota Blitar. Wisnu dikenal juga sebagai pengajar di SMPN 2, Kota Blitar.

Tanggapan serupa juga diungkapkan oleh Cahyo, pengamat budaya dari kota tahu Kediri yang sempat hadir pada kesempatan tersebut. Menurut Cahyo, Grebeg Pancasila sangat istimewa. “Luar biasa mas, kami rombongan dari Kediri dapat kontak dari teman-teman di Malang, bahwa 1 Juni di Blitar ada upacara gaya seniman. Wah, setelah menyaksikan sendiri kami jadi ketawa, lucu mas. Tapi sekaligus bisa bikin menangis terharu.”

“Betapa hebat warga pecinta Bung Karno di Blitar ini menghargai Bung Karno sebagai Pencetus dan Penggagas Pancasila, sebagai Falsafah Bangsa Besar seperti Bangsa Kita Indonesia”, katanya.

 “Ini namanya baru benar ! Masak Orde Baru mencantumkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, tapi tidak mengakui Bung Karno sebagai
Pencetus Pancasila! Ingat dong Pidato Bung Karno, 1 Juni 1945. Baca sejarah yang benar ya, anak anak muda?! hehehe…” kata tokoh Nasionalis gaek berusia 65 an tahun dari Kediri ini.

kusnin-tigaCgp4.jpg

Foto: Kusnin CoWasJP.com

Grebeg Pancasila, lanjut dia, sudah ada sejak masa pemerintahan Walikota Blitar Djarot Syaiful Hidayat (sekarang Wagub DKI). Kemudian dilanjutkan penggantinya H.Samanhudi Anwar, SH dan dijadikan agenda rutin daerah. Dana penyelenggaraannya masuk Mata Anggaran APBD Kota Blitar.  

“Jadi wajar kalau meriah dan isyu gebyarnya luar biasa jika dibanding era tahun tahun 2001. Karena pada Masa Walikota Djarot Syaiful Hidayat, hanya dibiayai
dari kocek kantong pribadi Walikota ketika itu dan hasil urunan teman- teman seniman dan budayawan Kabupaten dan Kota Blitar,” tambah Pujianto panitia
 lainnya.

”JASMERAH”. Memang tepat sekali penggalan kalimat monumental Bung Karno tersebut untuk kita generasi penerusnya. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,’’ tambahnya.

 “Kesuksesan Grebeg Pancasila 2016 kali ini berawal dari sejarah panjang dan berdarah darah …” saut Ki Raban Yuwono, pinisepuh budaya dari Blitar.

Menurutnya acara ini dirintis oleh para para seniman yang di pandegani oleh Bagus Putu Parto sebagai Ketua Dewan Kesenian Blitar. Merekaa menggagas Grebek Pancasila dan berjalan hingga saat ini.” Dulu, wah… soro! Rekoso banget!”

“Itu mas Jontor Siswanto dan Mbak Christin dan teman temannya model di Delavega Modelling Club Blitar, sama mas Jontor di plokotho (dirayu, dipaksa) untuk mau menjadi Pasukan Pengibar Bendera, dari Istana Gebang berjalan tanpa alas kaki menuju Makam Bung Karno. Lecet mas, berdarah-darah. Tapi tidak cengeng, tidak nangis, walaupun tidak punya duit, punya gagasan dijalankan! Apalagi gagasan yang punya nilai budaya tinggi seperti ini”.

kusnin-dua62Hr.jpg

Foto: Kusnin CoWasJP.com

“Karena mereka tahu diri, tahu menghargai betapa dulu Bung Karno lebih soro dalam menggali Pancasila sehingga menjadi falsafah suci bangsa kita ini” cerita Ki Raban Yuwono, menggebu-gebu.

Di dalam tulisannya ”Membangun Tradisi Kesenian Baru”, dalam Buku Di Bawah Panggung/Kesenian Blitar 2012, Bagus Putu Parto menjelaskan: “Konsep awal Grebeg Pancasila dibagi menjadi 3 Ritus budaya. 

Ritus 1 Upacara Budaya (pelaksanaan upacara tidak gaya militer tapi gaya seniman, red). 

Ritus 2 Kirap Gunungan Lima (dari Istana Gebang menuju Makam Bung Karno). Ritus 3 Kenduri Pancasila (slametan tumpengan dan doa bersama lintas agama) di Makam Bung Karno. 

Masih kata Bagus Putu Parto, “Melalui proses latihan dan ide ide penyempurnaan tersusunlah pelaku pelaku Pelaksana Grebeg Pancasila dulu yang pertama sbb: 

1.Susanto WS (alm) dan Bagus Putu Parto, Penata laku. 

2.Ki Wandono, penggarap iringan gamelan, yang oleh Ki Susanto WS di pedan gending “Ibu Pertiwi” kesukaan Bung Karno, ciptaan Ki Narto Sabdo. Juga ditembangkan mocopat Hari Lahirnya Pancasila, oleh almarhum Ki Sugito.

3. Drs. Suwardjo (alm), pembaca teks Pancasila. 

4. Jontor Siswanto dkk (modelling dari Delavega Modelling Club, red) sebagai pengibar bendera. 5. Ki Sukowiyono, penata tari. 

6. Susanto WS (alm) pembaca naskah gara-gara. 

7. Lik Her dan Jayeng Sutrisno, pembuat gunungan lima.  (menggambarkan Hari Lahir Pancasila, 1-6- 45). 

8. Ki Mujiono, werkudara, manggala (komandan upacara). 

9. Drs. Pratiknyo YS (mantan Kakandiknas Kota Blitar, red) sebagai pembina upacara”.

Saat pemerintahaan Joko Widodo - Yusuf Kalla, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari Lahir Pancasila. Semangat dan gelora peringatan hari lahir Pancasila bergemuruh seantero Nusantara. Semua komponen masyarakat memperingati lahirnya Pancasila. Tidak ketinggalan beberapa Ormas pemuda juga ikut ambil bagian dalam peristiwa bersejarah ini. 

Semoga dengan semangat Pancasila ini negara kita Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur.Negara yang gemah ripah loh jinawi, tentrem karto raharjo di bawah lindungan dan ampunan Allah SWT.Aamiin. *

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda