Ide Bisnis Travel

Umrah Planner, Sebuah Pengalaman

Keluarga saya saat beribadah umroh secara mandiri berpose dengan latar belakang tugu Jabal Rahmah.(Foto: CowasJP.com)

COWASJP.COM – ockquote>

CaTaTaN

JOKO INTARTO

Konsultan dan Praktisi Bisnis Media

 

BERIBADAH umrah ramai-ramai sudah biasa. Tapi, umrah mandiri masih belum lazim. Meski demikian, berangkat umrah tanpa rombongan bukan tidak mungkin. Saya sudah membuktikannya.

Ada pengalaman menarik ketika memberangkatkan empat orang anggota keluarga saya untuk beribadah umrah pada tahun 2013 yang lalu. Ternyata, berangkat umrah tidak harus dengan Pak Kyai atau Ustadz dalam rombongan besar.

Perjalanan umrah bisa dilakukan secara mandiri, baik sendirian maupun bersama rombongan keluarga dalam jumlah kecil. Paket umrah juga bisa dibuat sendiri: waktunya, lamanya, hotelnya, transportasi daratnya, menu makannya dan wisatanya.

Itulah pengalaman pertama saya menjadi umrah planner atau perencana perjalanan umrah.

Ide merencanakan perjalanan umrah unik itu berawal dari banyaknya keluhan yang saya dengar dari beberapa kawan sepulang umrah. Mereka mengeluh kurang puas dengan pelayanan yang diberikan biro travel umrah yang dipilihnya.

Dari penjelasan kawan-kawan itu, saya menyimpulkan bahwa yang dikeluhkan adalah manajemen perjalanannya. Soal ibadahnya, menurut saya fine! Hanya manajemen perjalanannya saja.

Ketika ibu saya dan ibu mertua saya mengutarakan niatnya untuk berangkat umrah, saya pun berpikir keras. Saya mencoba mencari jalan agar kedua ibu saya yang sudah sepuh itu bisa menikmati perjalanan umrah dengan nyaman.

Maklum, keduanya sudah tergolong jamaah berisiko tinggi. Untuk berjalan saja sudah tidak lincah. Betapa sulitnya kalau harus umrah bersama rombongan besar dengan usia jamaah masih muda-muda, jalannya cepat dan kemana-mana naik bus yang tinggi.

Kebetulan, saat itu saya membuat sebuah perusahaan jasa meeting, incentive, conference dan exhibition (MICE) berkongsi dengan Ekies, owner Lily Tours yang berspesialisasi mengelola paket wisata sport tour, khususnya F-1 tour, MotoGP tour dan bicycling tour. Kepada Ekies, saya berkonsultasi apakah mungkin memberangkatkan umrah untuk ibu dan ibu mertua saya secara mandiri.

Menurut Ekies, mengelola perjalanan umrah secara mandiri bukanlah sesuatu yang sulit. Dalam pandangan Ekies, manajemen perjalanan umrah sama saja dengan manajemen perjalanan wisata F-1, motoGP dan bersepeda. ‘’Yang berbeda hanya objektifnya,’’ kata Ekies.

Ekies kemudian menyusun rencana perjalanan umrah mandiri itu. Dimulai dari mencari pesawat terbang yang akan digunakan hingga memilih hotel tempat menginap, kendaraan yang digunakan di Makkah dan Madinah, guide yang mendampingi selama di Tanah Suci sampai menu makan siang dan makan malam selama ibadah.

Untuk pesawat terbang, ibu dan ibu mertua saya minta yang pramugarinya bisa berbahasa Indonesia. Garuda Indonesia menjadi pilihan terbaik, karena ada business class. Bisa tidur selonjoran selama perjalanan sehingga kaki tidak bengkak karena kelamaan duduk.

Untuk hotel, dipilihlah yang paling dekat dengan Masjidil Haram, baik di Makkah maupun Madinah. Dipilih kamar yang menghadap ke Masjidil Haram. Bila kepepet, bisa salat berjamaah di kamar hotel.

Kamar hotel dipilih yang punya dua ruangan: satu kamar tidur dan satu kamar tamu. Ibu dan ibu mertua dan guide wanita di satu kamar. Adik laki-laki, adik ipar laki-laki, guide laki-laki dan sopir laki-laki di kamar lainnya. Kedua kamar bersebelahan.

Keluarga penulis saat berada di Madinah. (Foto: CowasJP.com)

Guide dan sopir semuanya bisa berbahasa Indonesia, karena mereka berasal dari Indonesia tetapi sudah bertahun-tahun tinggal di Arab Saudi. Mereka menemani keluarga saya 24 jam sehari. Jam berapa pun dan kemana pun rombongan ingin pergi, mobil dan guide selalu siap.

Karena rombongan kecil, Ekies menawarkan sewa mobil jenis MPV kapasitas 7 penumpang. Dengan MPV, ibu saya tidak sulit keluar dan masuk mobil. Tidak harus naik tangga seperti naik  bus besar.

Untuk makan siang dan makan malam, Ekies memilihkan beberapa restoran di Makkah dan Madinah. Makan pagi prasmanan di hotel.

Untuk acara wisata diberi kebebasan penuh. Sebab sudah ada guide, sopir dan mobil yang stand by 24 jam.

Ibu dan ibu mertua saya mengaku senang dengan perjalanan umrah tersebut. Menurut mereka, perjalanan itu bisa disebut istimewa karena bisa kemana-mana kapan saja. Juga tidak merepotkan jamaah lain.

Dari pengalaman mengelola umrah keluarga saya itulah, Lily Tour sekarang punya paket umrah yang unik. Lily Tour mulai melayani permintaan calon jamaah yang ingin umrah hanya sendirian (laki-laki), atau berdua (suami dan istri atau orang tua dan anak). Lama paketnya pun tidak 9 hari. Ada yang hanya umrah memanfaatkan long week end dan libur bersama.

‘’Banyak eksekutif yang sudah biasa pergi ke luar negeri atau mengikuti tour ke luar negeri. Merekalah yang menjadi pasar potensial umrah model ini,’’ kata Ekies yang baru memperoleh penghargaan dari Pemerintah Malaysia sebagai penjual tiket Sepang Stadion yang terbanyak di luar negeri itu.

Bila Anda ingin memiliki pengalaman umrah yang berbeda, Anda bisa merencanakan sendiri perjalanan wisata rohani itu bersama keluarga. Paling tidak, Anda bisa menjadi umrah planner-nya.

 

 

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda