Menjadi TA Ramadhan Pohan

Penulis ngopi di sela perjalanan panjang di Georgia, USA. (Foto: Dok cowasjp.com)

COWASJP.COM – ockquote>

C a T a T a N: Bambang Indra K

---------------------------------------------

SEPULANG dari Amerika Serikat, saya langsung mendapat pekerjaan istimewa. Menjadi Tenaga Ahli (TA) anggota DPR RI. TA menempati strata kedua, setelah anggota DPR itu sendiri dalam lingkungan kantor wakil rakyat.

 Karena itu, saya selalu pasang keplek (ID Card) yang diterbitkan dari Sekjen DPR RI itu di dada kiri. Termasuk, saat masuk ke jalur busway, menerobos kemacetan lalu lintas Jakarta. 
Jika distop polisi, tunjukkan keplek tadi, dan disuruh bablas. ‘’Sakti juga keplek ini,’’ kenang saya. Begitu masuk di lingkungan kantor DPR Senayan, semua Pamdal juga hormat dengan sikap sempurna.

Begitu lah posisi TA, sungguh terhormat. Bahwa kemudian ada ungkapan, the real congressman is TA, adalah nyata. Sebagian besar anggota DPR pasrah bongkokan pada TA.
Tetapi, tidak pada tokoh satu ini. Drs Ramadhan Poham MIS, seorang ‘’GOP’’ dari Partai Demokrat ketika itu. Saya menjadi TA -nya. Dia memang the real congressman. Selama dua tahun sejak Oktober 2012 menjadi TA kawan yang paling suka sop Sipirok dan makanan Tapsel ini. 

Ramadhan berbeda dengan anggota lain. Stafnya banyak, ada 22 orang kala itu, termasuk yang di dapil (Pacitan, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Trenggalek). Ia mempraktikkan apa yang dilihat dan dipelajarinya di Amerika Serikat saat kuliah dan bertugas sebagai wartawan Jawa Pos di Washington DC. Kala itu, yang berstatus TA hanya tiga orang (maksimal sebagaimana ketentuan di DPR RI waktu itu). Dua lainnya, berpendidikan master. Bahkan, seorang rekan saya masih mengambil program Doktor di ITB.

Menjadi TA seorang Ramadhan bukan tugas mudah. Ia mantan wartawan, yang melek berita. Ia tokoh partai papan atas (great of party/GOP) yang vokal dan kritis. Bayangkan, satu hari bisa tampil di televisi empat sampai lima kali. Pagi-pagi sekali, sudah nyanggong di gedung Nusantara (Bundaran HI) untuk tampil di Selamat Pagi Indonesia (TVOne). Beberapa jam kemudian, harus ke Kebun Jeruk ke MetroTV dan seterusnya hingga malam.

TA bertugas menyiapkan talking point (TP). Nah, sehari empat sampai lima kali tampil di televisi dengan topik berbeda, Opo ora mumet? Beruntung, Ramadhan adalah anggota DPR yang tergolong sangat piawai dan cerdas. Improvisasi statemen, pengayaan komunike, ia gagas dengan cermat sehingga menggetarkan dan laku keras di media. 

Cara bertutur, intonasi kalimat per kalimat, menjadikan lawan bicara mudah mencerna tanpa mengesampingkan subtansi dan arah pembicaraan. 

Selain TP, saya juga sering menyiapkan press release. Hampir semua media online melahap statemen kawan yang selalu membawa bungkusan nasi merah di tasnya ini. Kemudian, masih harus mencatat, memotret semua kegiatannya untuk dimuat di majalah Garasi (Gardu Aspirasi) yang diterbitkan olehnya. Di majalah ini, saya didapuk menjadi pemred.

Kesibukan anak Pematang Siantar ini juga luar biasa. Bukan hanya aktivitas di Senayan, tetapi juga di Dapil-nya. Setiap reses juga harus ikut dengannya mendampingi. Begitu pula ketika sosialisasi ke Dapil berikutnya, Medan, Serdang Bedagai, Deli Serdang dan Tebing Tinggi.

Hampir setiap akhir pekan saya ke Medan, menyiapkan program di sana bersama tim. Bertolak hari Jumat pagi, pulang Minggu malam selama dua tahun. Ia mengunjungi masyarakat sampai ke desa terpencil di wilayah tadi. 

Tercatat, Ramadhan yang gemar minum jamu pahitan ini, mengunjungi 650 lebih titik di empat wilayah tadi. 

Bertatap muka langsung, mendengar aspirasi dengan turba (turun ke bawah) adalah gaya Ramadhan. Dalam benak saya, jika semua angggota DPR seperti ini, majulah bangsa ini. Bukan, hanya datang sosialisasi hanya satu atau dua bulan sebelum pileg, kemudian tebar uang, maka ‘’masuk itu barang.’’

Karena itu, sampai sekarang, saya masih terheran-heran. Dengan sosialisasi selama 2 tahun yang juge menelan biaya cukup besar, kenapa sosok Ramadhan tidak terpilih lagi? Wakil rakyat seperti apa lagi yang dikehendaki Medan dan sekitarnya? Barangkali, ada yang keliru dalam sistem pemilu kita.

Inilah pengalaman baru saya ketika itu, yang banyak membuat saya belajar. Politik dan sejenisnya.

Setidaknya, bagaimana menjadi pendamping seorang VIP yang begitu mobile dan kritis.
Pasca menjadi TA Ramadhan, saya mendapat tawaran menjadi TA anggota yang baru terpilih lainnya. Dia yakni Yayuk Basuki dari PAN. Tetapi, keburu mendapat panggilan lain sebagai TA di sebuah kementerian.

Thank you bro, telah memberikan pengalaman istimewa buat saya. Horas !!!

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda