92 Tahun GP Ansor

Dari Semangat Perjuangan Bersenjata Menuju Organisasi yang Tangguh secara Ekonomi dan Intelektual

Penulis (kiri) saat menghadiri Inagurasi PW GP Ansor Jatim, di Surabaya. (FOTO: Kusnin)

COWASJP.COM – Tanggal 24 April 2026 menjadi tanggal bersejarah bagi jutaan pemuda Nahdlatul Ulama di seluruh Nusantara. Gerakan Pemuda (GP) Ansor genap berusia 92 tahun. 

Sembilan dekade lebih. Perjalanan panjang organisasi kepemudaan ini bukan sekadar hitungan waktu. Ini merupakan catatan panjang tentang pengabdian, perjuangan, dan keteguhan dalam menjaga dua cinta: Agama dan Negara.
 
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Addin Jauharuddin, peringatan Harlah ke-92 ini mengusung semangat baru dengan tema "Energi Perjuangan". 

Fokusnya jelas: membangun kemandirian kader, ketahanan pangan nasional, dan penguasaan teknologi digital. Sebuah transisi yang luar biasa dari organisasi yang lahir dari semangat perjuangan bersenjata menuju organisasi yang tangguh secara ekonomi dan intelektual.
 
Lahir dari Rahim Perjuangan: Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan
 
Kelahiran GP Ansor pada 24 April 1934 silam di Banyuwangi bukanlah kebetulan. Organisasi ini lahir dari rahim NU yang besar, melalui proses panjang yang dimulai sejak berdirinya Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada tahun 1924.
 
Nama "Ansor" sendiri memiliki makna yang sangat dalam. Disarankan langsung oleh pendiri NU, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Nama ini diambil dari gelar mulia Ansharul Haq atau Ansharullah —yaitu para pembela agama. Sama seperti penduduk Madinah yang setia membantu Nabi Muhammad SAW, maka pemuda NU pun berikrar menjadi pembela kebenaran, pembela ulama, dan pembela tanah air.
 
Selama 92 tahun, Ansor telah dipimpin oleh 13 tokoh besar. Dimulai dari KH. M. Thohir Bakri, KH. Chamid Wijaya, KH. Yahya Ubaid, KH. Slamet Effendi Yusuf, H. Iqbal Assegaf, H. Saifullah Yusuf, H. Nusron Wahid, H. Yaqut Cholil Qoumas, hingga kini dipegang oleh H. Addin Jauharudin. Nama-nama ini adalah bukti bahwa tongkat estafet kepemimpinan selalu diisi oleh orang-orang terbaik yang mengerti jiwa Ansor: santun, namun berani. Lembut, namun tegas.
 
Di masa lalu, peran Ansor sangat sentral dalam medan pertempuran. Para kader Ansor adalah garda terdepan yang mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan RI dari agresi militer. Mereka adalah benteng pertahanan rakyat ketika negara belum sekuat sekarang.
 
- Peran: Penegak kedaulatan, pelindung ulama, dan pejuang kemerdekaan.
- Jati Diri: Berani karena benar, takut karena salah.
 
Peran Masa Kini: Pengayom Masyarakat dan Aktor Sosial
 
Memasuki era modern, perjuangan berubah wajah. Ansor tidak lagi bertempur dengan senjata api, tapi dengan karya dan pengabdian.
 
Di Harlah ke-92 ini, wajah Ansor terlihat jelas melalui kegiatan sosial: donor darah, aksi bersih lingkungan seperti "SAPA Temanggung", hingga program pemberdayaan masyarakat.
 
Di bawah kepemimpinan Addin Jauharudin, Ansor mulai merambah ke ranah strategis:

Ketahanan Pangan: Memastikan Indonesia tidak rapuh dari sisi makanan.

Teknologi Digital: Mampu bersaing di era informasi dan industri 4.0.

Ekonomi Mandiri: Membangun kader yang tidak hanya kuat iman dan fisik, tapi juga kuat secara ekonomi.
 
Logo Harlah ke-92 yang menggambarkan angka 92 dengan pita tak terputus menjadi simbol bahwa khidmah Ansor kepada NKRI dan NU tidak akan pernah putus, sepanjang masa.

Masa Depan

 Menatap masa depan, Ansor dituntut untuk semakin adaptif, namun tetap memegang teguh akar budaya.

Masukan konstruktif untuk Ansor ke depan:
 
1. Penguasaan Ilmu Pengetahuan & Teknologi. 
Kader Ansor harus melek digital, paham teknologi, dan bisa bersaing di kancah global tanpa kehilangan identitas keislaman dan ke-NU-an.

2. Kemandirian Ekonomi
Ansor harus bergerak dari sekadar organisasi sosial menjadi organisasi yang mandiri secara ekonomi. Koperasi, UMKM, dan badan usaha milik Ansor harus digalakkan agar kader sejahtera.

3. Penjaga Kerukunan. 
Di tengah hiruk pikuk perbedaan, Ansor harus tetap menjadi garda terdepan yang menjaga kedamaian, menolak radikalisme, dan menjadi pelopor toleransi sesuai khittah NU.

4. Konsistensi pada Nilai
Modernisasi tidak boleh melunturkan nilai Wara', sopan santun, dan penghormatan kepada ulama yang menjadi DNA Ansor sejak awal.
 
Harlah ke-92 GP Ansor adalah momentum refleksi dan evaluasi. Dari sejarah yang heroik, hingga karya nyata di masa kini, Ansor telah membuktikan diri sebagai organisasi yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Wallahu A'lam Bisshawab.(*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda