Silaturahmi Waro': Memperkuat Jalan Wara'i dan Ideologi Aswaja

Suasana silaturrahmi dan halal bihalal Banser Waro' Kabupaten Kediri. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Lebih dari 100 anggota komunitas Propesor (Protolan Pengurus Ansor dan Banser) yang tergabung dalam anggota Waro' Kabupaten Kediri menggelar acara Silaturahmi dan Halal Bihalal yang penuh makna. 

Acara berlangsung di Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an Nurul Hufadz, Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, pada Ahad Legi, 19 April 2026, mulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

Acara ini menjadi pertemuan lintas generasi, menyatukan para senior yang pernah mengabdi sejak era kepemimpinan KH. Wahab Hasbullah, Ketua  Ansor Pasca Tragedi 1965 hingga masa kepemimpinan Gus H. Rusmi Haitami 2020. 

Di tengah kehangatan suasana, acara tidak hanya menjadi ajang reuni, tetapi juga wadah penguatan spiritual dan ideologis bagi kader Ansor-Banser.

Suasana terasa sangat haru dan bersahabat dengan hadirnya para tokoh legendaris. Di antara yang hadir adalah Ustadz H. Maskup Fauzi, mantan Sekretaris Ansor Kabupaten Kediri era 1980-an dan mantan anggota DPRD, serta KH. Syaifuddin Zuhri, Ketua PC Ansor periode 1980-an saat PW Ansor Jatim dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi.

Hadir pula perwakilan dari PCNU Kabupaten Kediri, Kiai Muda Bahruddin El Hadi, S.H.I. 

Kehadiran para sesepuh ini membuktikan bahwa ikatan persaudaraan di tubuh Ansor dan Banser tidak pernah putus oleh waktu.

Acara dibuka dengan doa bersama dan tahlil untuk para pendiri dan pendahulu. Suasana semakin khidmat dengan berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul lagu Subhanul Waton, Mars Ansor, dan Mars Banser yang membakar semangat.

Dalam sambutannya, Ustadz H. Abu Muslich, B.A. selaku Ketua  Waro' memberikan penjelasan mendalam mengenai nama komunitas ini. Ia menegaskan bahwa istilah "Waro'" bukanlah konotasi hal-hal mistis seperti "Waro' Ponorogo" yang sering dikaitkan dengan hal-hal di luar nalar.

"Waro' yang kami maksud adalah berasal dari kata Wira'i atau Wara'. Ini adalah istilah agama yang sangat mulia," jelas Abu Muslich.

Ia menuturkan pemahaman ini sesuai dengan penjelasan ulama besar, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Secara ringkas, Wara' adalah:

 Sikap Berhati-hati: Selalu waspada dalam menjalani syariat, membedakan dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram.

Menjauhi Syubhat: Meninggalkan hal-hal yang meragukan demi menjaga kehormatan diri dan iman.

Kecerdasan Batin: Bukan berarti kaku, melainkan cerdas dalam menjaga hubungan dengan Allah agar tidak mudah terjerumus maksiat meski punya kesempatan.

Fase Kedewasaan: Menjadi tanda kedewasaan seseorang dalam beragama dan bermasyarakat.

Materi penting lainnya disampaikan oleh perwakilan PCNU, Kiai Muda Bahruddin El Hadi. Ia mengajak seluruh hadirin untuk kembali membumikan Qonun Asasi, pedoman dasar yang ditetapkan oleh pendiri NU, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 31 Januari 1926.

Menurutnya, menjadi kader NU tidak boleh hanya sekadar nama, tapi harus paham landasan ideologinya. Inti dari Qonun Asasi yang disampaikan meliputi:

1. Ahlussunnah wal Jamaah: Berpegang teguh pada Al-Qur'an, Hadits, dan kesepakatan ulama salaf.

2. Mengikuti 4 Madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali sebagai sarana mempersatukan dan memudahkan pemahaman fikih.

3. Menjaga Ukhuwah: Mengamalkan persaudaraan Islamiyah (sesama Muslim) dan Wathaniyah (cinta tanah air).

4. Toleransi: Hidup rukun dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan.

5. Menghormati Ulama & Tradisi: Menjaga nilai-nilai luhur yang tidak bertentangan dengan syariat.

6. Taklid & Tafaqquh: Belajar terus dan bertanya pada ahlinya.

7. Waspada: Menjaga diri dari paham yang menyimpang dari jalan yang benar.

 "Qonun Asasi adalah jiwa NU. Ini yang membuat kita kokoh, moderat, dan relevan hingga sekarang," tegasnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi testimoni dari para sesepuh. H. Maskup Fauzi, KH. Syaifuddin Zuhri, hingga H. Imam Kusnin Ahmad berbagi pengalaman dan nasihat berharga.

Salah satu usulan konstruktif yang muncul dan disepakati bersama datang dari Dalfiri. Ia mengusulkan pembentukan semangat kepedulian sosial yang lebih kuat antar anggota Waro', yaitu:

1. Mendoakan saudara yang meninggal dunia.

2. Melakukan Takziah ke rumah duka sebagai bentuk empati.

3. Bersedekah ikhlas untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.

Untuk mewujudkan poin ketiga, diusulkan pembentukan "Tim Aksi Sosial" agar program kepedulian ini bisa berjalan terstruktur dan maksimal.

Acara Silaturahmi Jam'iyah Waro' ini ditutup dengan harapan agar seluruh kader tidak hanya kuat fisiknya sebagai Banser, tetapi juga kuat iman, ilmu, dan pemahaman ideologinya.

Menjadi anggota Waro' berarti berkomitmen menjadi pribadi yang Wara': bersih hatinya, lurus jalannya, kuat ukhuwahnya, dan setia pada nilai-nilai luhur Ahlussunnah wal Jamaah.(*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda