Berkat Pasrah kepada Allah, Akhirnya Kami Divaksin

Minggu 8 Agustus 2021. Tergesa-gesa kami menaiki eskalator di sebuah Mall di Kota Bekasi. Dari lantai dasar, tempat kami parkir ke lantai 1 tempat vaksinasi Covid-19. Dari jauh tampak banyaknya peserta vaksin yang mengantri.

***

COWASJP.COM – Di hall plaza yang luas, nyaman dan sejuk ini, berbaris kursi-kursi berjarak 1 meter, dengan satu baris berisi 6 kursi. Memanjang dari depan ke belakang sekitar 50 meter. Di depan jajaran kursi para peserta, sebaris kursi panitia pendaftaran juga berisi  6 kursi, menjadi pembatas antara peserta dan proses pelaksanaan vaksin.

Isteri dan anak perempuan saya mencari tempat duduk yang kosong. Sementara saya, menuju ke meja panitia untuk mendaftar.  Sayang,  setelah ketemu seorang panitia,  jawaban yang diberikan membuat semangat 45-ku sontak buyar.

’’Maaf pak, pendaftaran sudah ditutup,’’ jawabnya singkat.

’’Lho ... bukankah pendaftarannya sampai jam empat sore,’’ tanyaku lagi mencoba mendesak.

’’Iya Pak, tapi kuotanya sudah jauh melebihi batas. Batasnya 4.000 peserta, yang  daftar 4.500 peserta,’’ jawabnya tegas.

’’Apa enggak bisa disisipkan tiga orang, Pak,’’ saya masih coba mencari celah.

’’Maaf Pak. Sekali lagi maaf,’’ ungkapnya sembari meninggalkan saya.

Tubuhku mendadak lemas.

Saya  menghampiri istriku dengan lunglai.

’’Gak bisa?!’’ tanyanya menohok melihat jidatku berkerut.

Saya cuma bisa menggelengkan kepala.

Tiba-tiba istriku berdiri dan berjalan ke arah meja panitia. Berbicara dengan salah seorang petugas yang sedang berdiri. Saya lihat gaya bicaranya ngotot. Dia coba mencari alasan agar bisa mendaftar. 

Melihat gelagat kurang baik, saya menghampiri mereka dan menyudahi perdebatan kecil tersebut.

nyonya.jpgNy Heri Priyono (kanan) dan puterinya. (FOTO: Heri Priyono)

Saya gandeng isteriku yang lagi sewot kembali ke tempat duduknya.

Rasa tak berdaya, jengkel, marah, sedikit sedih, juga nelangsa menyatu jadi adonan ketidakberdayaan di dalam hati.

Saya tak tahu lagi, harus bagaimana. Setiap kali mau vaksin selalu saja kesiangan.

Sebenarnya, bangun saya juga tidak terlalu siang. Tadi malam, tidak seperti biasanya, saya merasa lelah berkutat di depan komputer dengan koding program. Saya segera menyusul isteri, yang kebetulan belum tidur. Sempat bercanda ria dan akhirnya tertidur pulas. 

Jam 8 pagi saya bangun,  isteriku sudah memasak di dapur.

Saya hampiri dan saya peluk dari belakang sambil mencium rambutnya yang harum.

’’Kok udah bangun,’’ kata isteriku mesra dan menolehkan wajahnya ke arah saya.

’’Heem....,’’ jawabku singkat.

Belum jauh  menggoda, HP isteriku berdering. Dari percakapan di selular, temannya memberitahukan bahwa ada vaksin di sebuah mall di Kota Bekasi. Dimulai jam 08:00 pagi hingga jam 16:00. Dibuka untuk umum, usia 12 - dewasa/lansia, jenis vaksin Sinovac.

Semangat 17 Agustus 45 menggelora. Exited untuk divaksin. Saya minta isteriku untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dapur. Saya ajak isteri dan anak untuk divaksin. Agar tidak terlambat lagi, seperti niat vaksin sebelumnya, saya rela membantu pekerjaan isteri, menyapu, ngepel dan nyuci baju. Kalau untuk nyuci baju, kebetulan  mesin cucinya tinggal masukkan baju kotor, tekan tombol on dan start. Ditinggal nyapu dan ngepel, selesailah kerjaan. 

Akhirnya,  jam 12.05 WIB kami berangkat bertiga untuk vaksin.

Sejak menulis catatan di kolom Cowas JP,  ’Di Persimpangan, Antara Vaksin atau Tidak’’,  (https://m.cowasjp.com/read/6360/20210719/141000/di-persimpangan-ikut-vaksin-atau-tidak/) banyak teman-teman yang japri memberikan saran untuk divaksin dengan berbagai diskripsinya. Terlebih saya mendengar satu pernyataan dari dr Moh Indro Cahyono yang sempat viral dengan larutan garam (NaCl). Di video tersebut dr Indro menyatakan, bila saya tidak salah persepsi,  bahwa vaksin yang bagus adalah dari virus utuh yang sudah inactivated. Dan, acara vaksin ini menggunakan jenis vaksin dari virus utuh. Persimpangan yang ada dalam diri  akhirnya menguap, menjadi satu tekad bulat, wajib vaksin.

Sayangnya, pada saat tekad sudah bulat, di tempat vaksin umum ini, saya sekeluarga mendapatkan kenyataan yang di luar dugaan. Unexpected. 

===

Saya duduk terdiam sambil melamun, isteri sibuk mengutik-atik HP, mencari tempat vaksin  lain yang hari itu mungkin ada. Sedangkan anak saya asyik bermain HP.

SETELAH MERENUNG DAN PASRAH

Dalam lamunan di tengah kegalauan dan rasa jengkel, juga marah, saya coba untuk mengalihkannya ke hal-hal yang lebih positif. Saya coba menikmatinya dengan berandai-andai bahwa saya adalah salah seorang manusia yang seharusnya bersyukur. Sebab, saya menjadi hamba yang ‘difavoritkan’ oleh Sang Pencipta. Bagaimana tidak? Di tengah maraknya paparan Covid, saya adalah salah seorang yang terlewat dari musibah Covid. 

Masalah terganjalnya saya dan keluarga untuk vaksin, harus disikapi dengan berpasrah dan berpikir: mungkin Tuhan belum mengizinkan saat ini. 

Atau, mungkin lebih tepatnya, diwajibkan berikhtiar lebih kuat lagi, agar bisa vaksin. 

Asyik-asyiknya melamun, seorang pemuda berbaju putih dengan menenteng beberapa lembar kertas menegur isteri saya, ’’Ibu nomor antrian berapa?’’ tanyanya.

’’Lha .... saya belum mendaftar, katanya sudah ditutup oendaftarannya,’’ kata isteriku ketus.

’’Oh..., sebentar ya bu,’’ pemuda itu langsung ngeloyor ke meja panitia di depan.

Saya spontan, mengikutinya dari belakang.

Di meja panitia tersebut terjadi dialog dengan panitia lainnya.

’’Ya sudah, langsung masuk saja. Kasihkan formulirnya,’’ begitu kalimat terakhir yang saya dengar dari lawan bicara pemuda tadi.

’’Ibu tadi keluarga Bapak?’’ tanya pemuda tersebut.

Tentu saja jawabannya sangat tegas, ’’Ya! Sama anak saya juga’’. 

Dan, tiga formulir yang dikasihkan cepat-cepat saya bawa ke istri dan anak untuk diisi.

Lembar formulir vaksin yang sudah terisi langsung dibawa ke meja panitia, dani di sana langsung diarahkan untuk ke ruang vaksin.

Berbeda dengan hall untuk antrean pendaftaran, ruang vaksinasi yang sejuk ini ditata melebar. Barisan meja depan berjarak sekitar 2 meter ada sekitar 10 meja. Setiap meja berisi dua orang petugas dan dua tempat duduk kosong untuk peserta. 

Masuk ke dalam, barisan kursi berjarak sekitar 1 meter, ditata melebar sekitar 25 kursi dalam satu baris, sampai ke depan seketar 10 deret. Setelah itu, sekitar 2 meter dari jejeran kursi peserta vaksin, meja petugas vaksin yang setiap mejanya ada dua orang petugas, plus 2 kursi kosong untuk peserta. Kalau tidak salah hitung ada 5 meja. 

Paling belakang, jajaran petugas yang meng-input data peserta setelah menerima vaksin. Dan terakhir, sebelum pintu keluar terdapat backdrop yang berisikan kalimat besar dan mencolok: ’’Aku Sudah Vaksin’’. 

Ternyata, backdrop tersebut dimanfaatkan untuk foto selfie setelah vaksin.

Begitu kami masuk ruangan vaksinasi, diarahkan pada meja yang kosong di barisan pertama. Mereka bertugas untuk validasi data, ngecek tekanan darah dan memberikan pertanyaan seputar kesehatan peserta untuk menjamin bahwa peserta memang layak divaksin. Kemudian menyerahkan kembali formulir ke peserta, setelah divalidasi.

Lepas dari deretan meja pertama,  dilanjutkan antri dan  duduk di barisan kursi yang kosong menunggu peserta lain yang sedang divaksin. 

Tidak sampai lima menit, kami sudah berhadapan dengan petugas vaksin yang siap dengan jarum suntik dan vaksin Sinovac-nya.

Agar tidak terlewatkan,  saya sempatkan untuk mem-video-kan momen tertancapnya jarum vaksin ke bahu kiri . 

Selesai. 

Berdiri dari bangku vaksin, dan menyerahkan formulir ke meja petugas di belakangnya untuk di-input di aplikasi PeduliLindungi. Normalnya, sertifikat vaksin bisa di-download di aplikasi tersebut, esok harinya.

Usai sudah. Hanya sekejap. 

Sebelum pulang, tak lupa menyempatkan diri ber-selfie di depan backdrop sebelum pintu keluar.

Ada nasihat teman yang kuingat, ’’Vaksin itu, ibarat naik motor dengan memakai helm untuk keamanan”.

Kini saya dan keluarga sudah divaksin. Artinya sudah memakai helm. So exited.

Syukurlah, selain difavoritkan, ternyata juga dijaga oleh Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga begitu adanya. Aamiin.(*)

Penulis: Heri Priyono, Mantan Karyawan Pracetak Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda