Laporan Okky dari Portugal (101)

Ngurus Visa ke Afrika Selatan Njelimetnya Setengah Mati

Antrian Imigrasi di Bandara Cape Town super lancar. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

COWASJP.COMHAI, aku Okky seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal merantau di Portugal. Dengan paspor ijo bergambar garuda jelas tetap harus mengurus visa ke South Africa (SA) dong. 

Banyak berseliweran berita terkait izin masuk ke SA. Melalui Regular Visa (Traditional Visa), Electronic Travel Authorization Visa (ETA Visa), Electronic Visa (E-Visa) atau bahkan free Visa karena beberapa waktu lalu sempat digodog peraturannya oleh kedua belah pihak negara. 

BACA JUGA: Cape Town adalah Salah Satu Kota di Afrika Selatan yang Jadi Jujukan Para Pelancong dari Berbagai Benua

Jalur manakah yang kamu tempuh melalui Portugal ke South Africa?

Sebulan sebelum perjalanan kami sudah mulai menyiapkan syarat-syarat pengajuan visa turis ke South Africa. Dari Portugal ada dua cara yang bisa ditempuh. Pertama melalui jalur tradisional, yaitu regular visa. Dan kedua melalui Electronic Visa (E-Visa) secara online. 

"Saat membuka website, begitu buuanyaaaaaak sekali persyaratan untuk pengajuan e-visa ini," begitu ujar Papi Fariz. Kami memilih mengajukan E-Visa karena menurut informasi butuh 1 minggu untuk approved. Sedangkan secara regular butuh waktu 30 hari. 

oki1.jpgPaspor Ijo Garuda tetep buat E-Visa ke South Africa

Jujur, setiap pindah negara dari Indonesia ke Swiss dan lanjut ke Portugal semua dokumen imigrasi diurus total oleh suami. Kami bertiga hanya duduk manis dan support melalui doa. 

Masya Allah. Selama trip ke negara lain di Eropa (Schengen Country) kami cukup memakai Temporary Residence Card (TRC) dan Paspor Indonesia. TRC yang masih berlaku ini sangat penting karena di situlah kunci untuk bisa kembali ke “rumah” setelah jalan-jalan. 

Namun kali ini cukup membuat emosi dan geleng-geleng kepala. Hahaha. Selain dokumen yang diisi banyak, website yang digunakan untuk memasukkan data dan meng-upload dokumen ini sering log-out dengan sendirinya. Meskipun sistemnya sudah auto-save tetapi tetap membuat jengkel. Karena sudah serius mengisi, eeeh ternyata ditutup sendiri sama websitenya. 

Gemeeezzzz kaaaannn!!! 

Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain: aplikasi formulir online, paspor, foto, booking pesawat, rencana perjalanan, bukti penginapan, 3 bulan rekening bank, statement letter terkait apa tujuan perjalanan dan berapa lama waktu liburan. Akte kelahiran, buku nikah, surat keterangan bahwa si anak akan melakukan perjalanan bersama orang tuanya. Melampirkan bukti pekerjaan sekarang, ijazah terakhir, dan TRC Portugal. 

oki2.jpgSuasana Kota di Cape Town banyak gedung besar

Dokumen tersebut dikali 4 orang dan semuanya diatasi oleh Papi Fariz. Coba tebak apa tugas istrinya dong?

Untuk perjalanan kemarin kami butuh 3x submit E-Visa, kok bisa??? Saat pertama kali submit, 2 hari kemudian mereka membalas bahwa “nama yang tertera tidak sesuai paspor”! Kaget banget dong ya. 

Akhirnya kami mencoba jalur banding, karena masih tidak percaya begitu saja. Sudah seminggu tidak ada kabar, maka kami coba mendaftar ulang “lagi”. Para Youtubers berkata bahwa hati-hati pihak embassy akan menerima record mengapa aplikasi sebelumnya ditolak.

Pengajuan visa kedua, setelah melewati banyaknya drama submit pastinya, Alhamdulillah dapat respon super cepat. Hanya butuh 1 hari untuk menerima jawaban “DITOLAK”!! Ya Tuhan, apalagi kali ini alasannya? Ternyata rekening koran 3 bulan ditolak karena tidak ada stempel dari bank. Well, akhirnya keesokan harinya kami perlu pergi ke bank untuk meminta legalisir rekening koran. 

Sudah standby sebelum bank buka untuk menghindari antrian panjang karena Papi Fariz pun harus pergi kerja. Dulu dari Swiss ke PT tidak perlu legalisir seperti ini lho.

Akhirnya Alhamdulillah pengajuan ke-3 kami diterima dong!! 

E-Visa sudah beres, pesawat dan hotel sudah dibooking. Tinggal menyiapkan seluruh fisik dokumen karena bisa jadi akan dipertanyakan di pintu imigrasi bandara SA. Semangaaaattt berpetualang!!!!

Setelah sampai di Bandara International Cape Town (11/02/2026), terlihat antrian pintu imigrasi tidak begitu ramai. Turun dari pesawat langsung dipandu untuk naik bus bandara. Namun suasana antrian imigrasi langsung berubah drastis selama 3 menit. Saat masih mengantri tiba-tiba langsung banyaaak penumpang baru yang datang rombongan. Dalam hati, kalau ini datang telat 1 menit aja, mungkin aku sudah ada di antrian paling belakang nih.

Dokumen fisik yang telah disiapkan dari Portugal ternyata tidak ditanyakan oleh pihak imigrasi. Karena kami masuk melalui E-Visa, maka sudah disiapkan antrian khusus. So far proses berjalan cepat. 

Sekitar 15 menit sudah beres imigrasi kedatangan Cape Town. Wow!!! 

HATI-HATI DENGAN TAXI DI CAPE TOWN

Penerbangan selama 1 hari membuat kami tak punya energi lagi. Keluar bandara langsung menuju hotel. Papi Fariz dengan sigap sudah order pick up service dari hotel. FYI, hati-hati dengan taksi di Cape Town. Banyak scam dan tidak direkomendasikan. Lebih baik naik Uber pesan dari aplikasi. 

oki3.jpgMakan siang setengah sore di Mall V&A Waterfront

Sekilas perjalanan menuju hotel tuh kawasan perkotaan variatif. Ada daerah kumuh dengan rumah-rumah tidak layak huni, ada kawasan perumahan elite, ada central perkantoran, dan akhirnya menuju ke area turis pantai (tempat kami menginap).

Coba tebak, sesampai di Cape Town tempat apa yang kami kunjungi pertama kali setelah mandi dan beristirahat sejenak? Kalau yang sering ngikuti cerita petualangan kami pasti paham. Yap!!!! Betul sekali, kami langsung pergi ke Shopping Mall. Bukan untuk shopping, tapi untuk makan siang yang sebenarnya sudah sore. 

Portugal dan Cape Town (CPT) selisih waktu 2 jam lebih lambat di Portugal (PT). Sehingga kalau orang lokal CPT sudah memasuki waktu makan siang, kami merasa masih belum terlalu lapar. 

Beberapa kali traveling jam tubuh biologis kami juga masih membawa jam PT. 

oki4.jpgMakanan Cape Town supeeer enak.

Beberapa teman bilang kalau daging di CPT tuh enak dan masakannya tuh uenaak! Dan benar dong, kerandoman kami memilih restoran ternyata membawa berkah, hahaha. Daging steak, ayam grill, dan salad kepiting rasanya mantap semua. 

Karena di CPT cukup banyak umat muslim, beberapa restoran banyak menyediakan cocktail non-alcohol alias mocktail. Yeey, akhirnya aku bisa membeli minuman warna-warni yang biasanya dijumpai di PT tetapi tidak bisa membelinya, hihi.

Rata-rata untuk 1 porsi makanan di resto casual dining sekitar 180 – 300 ZAR (Rand Afrika Selatan) atau setara dengan 10 – 18 Euros atau Rp 190.000 – 330.000. Kalau ke tempat economy restaurant atau fast food restaurant, maka harganya bisa lebih murah. 

oki5.jpgSetelah terbang hampir 1 hari, akhirnya mau landing juga.

Beda lagi kalau ke Fine Dining atau Premium, maka harganya juga premium lah ya. Sedikit tips dari aku untuk kulineran bersama anak yaitu pastikan dalam satu hari ada waktu mencoba kulineran (sesuai keinginan istri), dan ada jatah membeli fast food atau makanan yang disukai anak. Dijamin esok harinya mereka akan semangat diajak kulineran lagi, hehe. Selain itu langkah ini juga mendukung isi dompet si paksu, YTTA!!! 

Enaknya kulineran ke mana lagi ya mumpung di CPT. Ikuti petualangan DoubleZ goes to South Africa di edisi selanjutnya ya.(Bersambung)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda