COWASJP.COM – LUMPUR yang mengering telah lama mengeras di dinding rumah. Menyelimuti sudut jalanan, dan bahkan menempel pada tembok-tembok tempat anak-anak belajar mengaji.
Meskipun empat bulan telah berlalu sejak banjir bandang menghantam Kabupaten Aceh Tamiang pada November 2025, denyut kehidupan masyarakat di sana belum mampu berdetak seperti dulu.
Pada Kamis, 19 Februari 2026, memasuki hari kedua misi lapangan 12 hari yang digelar relawan PCNU Kabupaten Blitar, kondisi nyata masyarakat terdampak di sana terkuak dengan jelas. Bukan hanya kerusakan fisik yang harus mereka hadapi, tetapi juga beban emosional yang masih mengikat hati dan pikiran. Terutama bagi anak-anak dan kaum muda.
Melalui berbagai upaya mulai dari perbaikan infrastruktur, penyediaan pangan, hingga pendampingan psikososial, relawan berusaha menjadi ujung tombak harapan bagi saudara-saudara mereka yang tengah merintis langkah untuk bangkit kembali.
Luka yang Masih Terasa di Setiap Sudut
Keadaan di Kabupaten Aceh Tamiang jauh dari kata pulih total. Di Desa Menanggini, Kecamatan Karang Baru – yang kini menjadi pusat posko relawan NU Peduli PCNU Blitar – bekas-bekas kehancuran masih terpampang nyata.
Sulkhan Zuhdi, relawan dari Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN), menceritakan bagaimana sisa-sisa lumpur dari banjir masih menjadi saksi bisu atas dahsyatnya bencana yang melanda.
Relawan PCNU Blitar dan ibu-ibu warga terdampak bencana gotong royong kelola dapur umum. (FOTO: Istimewa)
"Bahkan sampai sekarang, setiap kita berjalan di jalan desa, bisa melihat bekas lumpur yang mengering seperti lapisan abu yang tidak bisa hilang dengan sendirinya," ujarnya dengan nada menyentuh.
Masyarakat lokal yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan harus menghadapi kenyataan bahwa lahan pertanian mereka masih tergenang lumpur. Sementara perahu-perahu nelayan yang menjadi mata pencaharian utama banyak yang rusak tak berdaya di tepi sungai.
Banyak keluarga yang masih tinggal di tempat pengungsian. Atau harus berbagi ruang dengan kerabat, karena rumah mereka tidak layak huni lagi. Di tengah kesulitan itu, datangnya bulan Ramadan membuat beban tambahan. Bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan makan untuk berbuka dan sahur.
Di TPQ An-Nasihah, kondisi yang sama menyakitkan hati. Instalasi listrik yang terganggu membuat aktivitas belajar mengaji harus terhenti saat malam tiba. Sementara tembok dan lantai rumah ibadah masih menampakkan bekas genangan air yang pernah membanjiri ruangan tersebut.
Bagi para santri, tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua untuk mencari ilmu kini terasa sunyi dan kurang aman.
Perbaikan Infrastruktur: Menanamkan Fundasi Kembali untuk Hidup
Untuk membangun kembali harapan, tim relawan memulai dari hal yang paling dasar. Memperbaiki infrastruktur yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat.
Dua personel Banser berkeahlian teknis, Eko Hari Setyawan dan Mohammad Khoirul Huda, dengan tangan terampil dan hati yang penuh kasih, melakukan pemasangan ulang kabel serta penataan jaringan listrik di TPQ An-Nasihah.
"Kita tahu bahwa tanpa penerangan yang layak, anak-anak tidak bisa belajar dengan nyaman. Terutama di sore dan malam hari. Lebih dari itu, sarana ibadah dan pendidikan adalah bagian dari jiwa masyarakat kita. Kalau jiwanya belum pulih, bagaimana bisa bangkit secara utuh?" jelas Eko dengan suara yang penuh tekad.
Khoirul menambahkan bahwa setiap sambungan kabel yang mereka pasang bukan hanya tentang listrik, tetapi juga tentang keamanan dan kepercayaan bahwa tempat tersebut bisa menjadi ruang yang aman bagi generasi muda.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen relawan yang tidak hanya fokus pada bantuan sementara, tetapi juga pada pemulihan jangka panjang.
"Kami tidak datang hanya untuk memberikan barang dan pergi. Kami ingin memastikan bahwa apa yang kami bangun bisa bermanfaat untuk masa depan mereka," ucap Khoirul sambil membersihkan debu dari panel listrik yang baru dipasang.
Dapur Umum Ramadan: Semangat Kebersamaan di Tengah Keterbatasan
Di Dayah Al-Musthafa, aroma masakan rempah yang menggugah selera menjadi simbol harapan baru di tengah kesulitan. Dapur umum yang dikelola secara kolaboratif antara relawan PCNU Blitar dan ibu-ibu warga sekitar menjadi bukti bahwa solidaritas masyarakat tidak pernah padam, meskipun cobaan datang bergulir.
Para ibu warga, sebagian di antaranya juga merupakan korban bencana, dengan tangan yang terlatih mengolah makanan, bekerja sama dengan penuh semangat. Mereka mengiris bawang merah, menumis bumbu, dan memasak nasi dengan hati-hati, sambil berbagi cerita tentang bagaimana mereka saling membantu sejak hari bencana melanda.
"Meskipun kita kehilangan banyak hal, kita tidak akan kehilangan rasa ingin membantu sesama," ujar salah satu ibu warga sambil mengaduk bubur yang sedang matang.
Setiap hari, dapur umum ini menghasilkan 400 porsi makanan – 200 untuk berbuka puasa dan 200 untuk sahur – yang didistribusikan kepada keluarga terdampak dan para relawan.
Bagi banyak orang, hidangan tersebut selain mengisi perut kosong, juga menghangatkan hati dengan rasa kebersamaan yang tak ternilai harganya.
Dongeng sebagai Obat: Menyembuhkan Luka Batin Anak-Anak dan Santri
Di antara kondisi yang masih berat, senyuman anak-anak menjadi momen paling menyentuh. Atmi Hapsari, kader Fatayat sekaligus pendongeng profesional dari tim relawan, menghadirkan warna baru bagi puluhan anak penyintas bencana. Melalui sesi Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang dikemas dengan seni dongeng.
Dengan suara yang merdu dan gerakan tubuh yang penuh ekspresi, Atmi membawa anak-anak masuk ke dunia imajinasi yang penuh dengan harapan. Ia bercerita tentang burung yang mampu terbang tinggi, meskipun sayapnya pernah terluka. Tentang pohon yang tumbuh kuat, meskipun tanahnya pernah longsor.
Setiap cerita yang disampaikan membawa pesan yang dalam – bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segalanya, dan mereka memiliki kekuatan untuk bangkit kembali.
"Anak-anak ini melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh mata mereka yang masih murni. Mereka melihat rumah mereka hanyut terbawa air, melihat orang tua mereka menangis, bahkan terpisah dari keluarga tanpa kabar. Lewat dongeng, saya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan masa depan mereka masih cerah," ujar Atmi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca saat melihat anak-anak tertawa lepas.
Kisah perjuangan 18 santri menjadi salah satu alasan mengapa pendampingan psikososial ini sangat penting. Para santri tersebut harus melangkah melalui lumpur setinggi pinggang. Tanpa alas kaki, tanpa makanan, dan terpisah dari keluarga selama berhari-hari.
"Mereka kuat karena mereka harus kuat, tapi di dalam hati mereka masih menyimpan ketakutan yang dalam. Kita harus merangkul mereka dengan penuh kasih, agar rasa takut itu bisa digantikan dengan keberanian," jelas Atmi.
Aceh Tamiang masih dalam perjalanan panjang menuju pemulihan yang sebenarnya. Lumpur yang mengering mungkin akan hilang seiring waktu, tetapi luka batin yang tertinggal membutuhkan waktu dan perhatian ekstra untuk menyembuhkan.
Kehadiran relawan PCNU Kabupaten Blitar bukan hanya sebagai bantuan dari luar, tetapi juga sebagai bukti bahwa di tengah keragaman bangsa ini, kita satu darah dan satu hati dalam menghadapi cobaan.
Setiap langkah yang diambil – dari memperbaiki kabel listrik hingga bercerita untuk anak-anak – adalah investasi bagi masa depan yang lebih baik. Masyarakat Aceh Tamiang tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga dukungan emosional dan keyakinan bahwa mereka layak untuk hidup dengan lebih baik.
Semoga setiap percikan harapan yang dibawa oleh relawan dapat tumbuh menjadi pohon yang kokoh, membawa napas baru bagi wilayah yang sedang berjuang bangkit dari reruntuhan bencana.(*)