COWASJP.COM – Awal tahun 2026 menjadi titik kehancuran bagi dua pemain Liga 4 Indonesia (kompetisi sepakbola amatir, baru dua musim ini). Yaitu Muhammad Hilmi Gimnastiar (Putra Jaya Pasuruan) dan Dwi Pilihanto (KAFI FC Jogja).
Dalam dua hari beruntun, kedua pemain tersebut dijatuhi sanksi larangan beraktivitas sepakbola seumur hidup. Ini akibat aksi kekerasan yang viral di media sosial.
Kasus ini tidak hanya mengakhiri karier mereka secara prematur, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa PSSI tidak lagi menoleransi pelanggaran berat dalam kompetisi, bahkan di level akar rumput.
Kasus Muhammad Hilmi Gimnastiar
Pada 5 Januari 2026, dalam laga Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026 antara Putra Jaya Pasuruan vs Perseta 1970 Tulungagung, Hilmi melakukan tendangan keras ke dada pemain lawan, Firman Nugraha Ardhiansyah. Disebut sebagai "aksi kungfu".
Cedera yang ditimbulkan cukup serius hingga Firman memerlukan perawatan medis dan mengajukan permintaan ganti rugi material untuk biaya pengobatan. Namun, hingga kini Hilmi hanya menyampaikan maaf, sesaat setelah pertandingan tanpa komunikasi lanjutan.
Komite Disiplin PSSI Asprov Jatim menjatuhkan sanksi berdasarkan Pelanggaran Pasal 48 juncto Pasal 49, serta Pasal 10 dan Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025. Selain larangan bermain seumur hidup, Hilmi juga didenda Rp2,5 juta dan telah dikeluarkan dari klubnya sebelum keputusan resmi diumumkan.
Kasus Dwi Pilihanto
Sehari kemudian, pada 6 Januari 2026, dalam laga Liga 4 DIY antara KAFI FC vs UAD FC, Dwi menendang kepala pemain lawan, Amirul.
Dwi Pilihanto oleh wasit hanya diganjar kartu kuning.
Akan halnya Amirul, dia harus ditarik keluar lapangan untuk mendapatkan perawatan.
Panitia Disiplin PSSI Asprov DIY mengeluarkan keputusan serupa melalui Surat Keputusan Nomor 005/PANDIS_LIGA4 DIY_PSSI DIY/1/2026, dengan dasar pelanggaran yang sama seperti Hilmi.
Manajemen KAFI FC juga segera memutus kontrak dengan Dwi sebagai bentuk tanggung jawab klub.
Pengaruh Sanksi bagi Pelaku
1. Akhir Karier Sepakbola: Sanksi seumur hidup berarti kedua pemain tidak dapat lagi berkecimpung dalam segala bentuk aktivitas sepakbola di bawah naungan PSSI, baik sebagai pemain, pelatih, maupun pengurus.
Karier yang mungkin telah dibangun bertahun-tahun pun berakhir secara tiba-tiba.
2. Konsekuensi Hukum dan Sosial: Selain kehilangan mata pencaharian, mereka juga harus menghadapi kritikan publik dan potensi tuntutan hukum dari korban terkait ganti rugi.
3. Contoh bagi Masyarakat Sepakbola: Keputusan ini memberikan efek jera yang kuat bagi seluruh pemain, terutama di level kompetisi bawah, bahwa tindakan kekerasan tidak akan diterima dan memiliki konsekuensi yang sangat berat.
Perlunya Sportivitas dan Disiplin bagi Pemain Muda
Selain memberikan sanksi tegas kepada pelaku, pencegahan dari tingkat akar rumput juga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Pelatihan khusus tentang sportivitas dan disiplin perlu diberikan sejak dini pada pemain muda di akademi atau klub sepakbola.
1.Membentuk Karakter dari Awal: Pemain muda yang diajarkan rasa hormat, kontrol emosi, dan kepatuhan pada aturan akan membawa nilai-nilai tersebut hingga memasuki kompetisi tingkat tinggi. Mereka tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dalam bermain.
2.Memahami Makna Sebenarnya Olahraga: Melalui pelatihan ini, mereka akan belajar bahwa sepakbola bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana berlomba dengan sportif dan menghargai setiap pihak yang terlibat, mulai dari lawan, wasit, hingga pendukung.
3.Mencegah Perilaku Negatif: Dengan pemahaman yang mendalam tentang disiplin, pemain muda dapat menghindari tindakan yang tidak pantas seperti kekerasan, kecurangan, atau pelanggaran aturan lainnya.
Pelatihan ini bisa dipadukan dengan materi teknis dan taktis, serta melibatkan pembinaan karakter dari pelatih dan pihak klub. Bahkan bisa ditambah dengan sesi edukasi bersama wasit atau perwakilan PSSI untuk memahami peraturan secara menyeluruh.
Bermain Sportif dan Patuhi Peraturan adalah Kunci Sukses.
Sepakbola adalah olahraga yang seharusnya mengedepankan sportivitas, kerja sama tim, dan rasa hormat terhadap lawan serta aturan.
PSSI melalui langkah tegas ini menunjukkan komitmen untuk menjaga keselamatan pemain dan marwah kompetisi, yang sejalan dengan arahan Ketum Erick Thohir untuk menciptakan lingkungan sepakbola yang bersih dan sehat.
Bagi seluruh insan sepakbola, baik pemain, pelatih, wasit, maupun pengurus, penting untuk selalu mengingat bahwa olahraga bukanlah tempat untuk menyampaikan emosi secara kasar. Mematuhi peraturan tidak hanya melindungi diri sendiri dan orang lain, tetapi juga menjaga keindahan permainan yang kita cintai.
Dengan bermain sportif dan memberikan pembinaan yang tepat sejak muda, sepakbola Indonesia akan semakin berkembang dan mampu bersaing di kancah regional maupun internasional.Wallahu A'lam Bisawabi.(*)