Guest Editor di Harian DisWay (18)

Beternak Inspirasi

DESAIN: kata-katamutiara.blogspot.com

COWASJP.COM – “Dari manakah datangnya inspirasi?”

“Dari luar diri kita? Ataukah dari dalam diri kita?”

“Saat sibuk ataukah saat rileks?”

“Dan, apakah munculnya bisa disengaja?”

Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan seorang kawan kepada saya. Karena, katanya, ia melihat saya seperti tidak pernah kehabisan bahan tulisan. Baik dalam bentuk buku. Ataupun, berbagai tulisan lepas, di media sosial. Ataupun, dalam bentuk kajian-kajian audio visual. Secara online maupun offline.

agus-mustofa-rileks-2.jpgDESAIN: lampung.tribunnews.com

Sambil bergurau saya katakan: “Saya beternak inspirasi..!”. 

Inspirasi itu terus beranak pinak. Tiada henti. Kapan saja. Di mana saja. Bukan karena saya yang melahirkannya. Melainkan, lahir dengan sendirinya. Di dalam pikiran saya. Di dalam perasaan saya. 

“Yang saya lakukan, cuma mengondisikan belaka”, tambah saya.

“Kondisi semacam apa?” sergahnya antusias.

“Ada dua kondisi”, jawab saya

Yang pertama: menghayati masalahnya. Dan yang kedua: rileks dalam menghadapinya.

Menghayati, terkait dengan perhatian. Memberikan perhatian penuh kepada persoalan yang sedang kita geluti. Sehingga, persoalan itu seperti menyatu dengan perasaan. 

Ada perasaan suka di dalamnya. Bahkan, sampai pada derajat rindu. Dan, jatuh cinta. 

Yang karenanya, kita selalu teringat padanya. Mau tidur. Bangun tidur. Bahkan, terbawa ke dalam tidur.  Dalam mimpi. Pokoknya, selalu ingat. Dan, teringat.

“Ketika levelnya sudah sampai di situ, berarti penghayatan kita sudah sedemikian total”, papar saya kepadanya. 

Datangnya inspirasi, cuma soal waktu saja. Karena, penghayatan dan kecintaan terhadap masalah itu telah memberikan energi sangat besar. Di dalam jiwa kita. 

Seperti, hangatnya tubuh induk ayam yang mengerami telurnya. Yang akan menyebabkan telur itu pecah. Dengan sendirinya. Beberapa hari kemudian …

Kondisi yang kedua, adalah perasaan rileks. Boleh bercampur dengan stress. Tapi, tidak boleh terlalu tinggi kadarnya. 

Karena, stress yang terlalu tinggi justru menghambat inspirasi. Seperti, seseorang yang mengalami demam panggung. Dan kemudian lupa semua isi teks. Puisi, lagu, ataupun isi pidato. Yang telah dihafal sebelumnya.

Secara ilmiah, suasana rileks dalam jiwa itu, membawa gelombang otak kepada level alfa-teta. Di mana dalam kondisi ini, memori kita menjadi lebih aktif. Dan, semakin tajam. Seiring dengan tingkat rileksnya. Hal-hal yang tadinya terlupakan, tiba-tiba bisa bermunculan di otak kita. 

Kondisi alfa-teta adalah kondisi kejiwaan. Yang tergambar dari denyut otak. Yakni, ketika gelombang kesadaran otak kita berada pada frekuensi antara 8 Hz – 4 Hz. Inilah gelombang pikiran yang seringkali terkait dengan kondisi mengantuk. Tapi, masih dalam kendali kesadaran. 

Mau tidur. Atau, bangun tidur. Di mana tingkat stress dalam jiwa kita sedemikian rendah. Dan, memori sedang tajam-tajamnya.

Dibandingkan dengan saat mau tidur, kondisi bangun tidur lebih baik. Karena, saat menjelang tidur itu, tak jarang tubuh dan pikiran kita sedang lelah. Stress. Menghalangi inspirasi.

Sedangkan seusai bangun tidur, pikiran dan perasaan kita dalam keadaan segar. Tingkat stress paling rendah. Memori sedang tajam-tajamnya. Dan fokus.

Jika keadaan itu berpadu dengan penghayatan pada suatu persoalan, maka di situlah inspirasi seringkali bermunculan. Tiba-tiba saja. Bukan dari luar diri kita. Melainkan, menetas dari kedalaman jiwa kita sendiri.

Dalam konteks interaksi dengan Allah, itulah saat-saat yang paling mengesankan. Di mana  Allah melimpahkan inspirasi kepada hamba yang rindu kepada-Nya. Berupa taburan hikmah ke dalam jiwanya …

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (khusyu'). Dan ucapan (bacaan) di waktu itu lebih berkesan (merasuk jiwa). [QS. Al Muzzammil: 6]

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 13 Nopember 2020]

 

Oleh: Agus Mustofa

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda