Guest Editor di Harian DisWay (17)

Keyakinan Memunculkan Keajaiban

Pancaran gelombang. (DESAIN: pngitem.com)

COWASJP.COM – Banyak cerita di sekitar kita. Bahwa, orang yang meyakini sesuatu bakal terjadi, ternyata mengalami kejadian itu sungguhan. Kenapa bisa demikian?

Itu dikarenakan, jagat raya ini sesungguhnya saling terhubung. Antara benda mati dengan benda mati. Antara makhluk hidup dengan benda mati. Dan, antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya.

Sehingga, perubahan pada suatu benda bakal mengubah keadaan benda lainnya. Ibaratnya, batu yang jatuh ke permukaan air danau. Riak gelombangnya akan menyebar ke seluruh permukaan danau itu. Bahkan, bisa menggoyang-goyangkan perahu yang ada di atasnya. Ataupun, dirasakan oleh ikan-ikan di kedalamannya.

agus-mustofa-3.jpgTim fisikawan berhasil mendengar dan merekam kicauan dari alam semesta yang berasal dari peristiwa bersatunya dua lubang hitam. (FOTO: NASA - kompas.com)

Jagat raya beserta segala isinya adalah pancaran gelombang. Menyebar dari satu benda ke benda lainnya. Meresonansi. Berinterferensi. Saling menguatkan. Saling melemahkan. Dan memunculkan sinyal-sinyal ke segala penjuru.

Ibarat, ada beberapa batu yang dijatuhkan di permukaan air. Maka, masing-masing gelombangnya akan saling bertabrakan. Bertumpukan. Atau, saling meniadakan. Begitulah jagat raya. Di segala penjurunya ada gelombang. Yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Gelombang-gelombang itu bisa dirasakan oleh manusia. Secara resonansi. Bagi yang frekuensinya sama dengan sumber gelombang tersebut. Secara pikiran. Maupun perbuatan. 

Resonansi adalah ikut bergetarnya suatu benda dikarenakan getaran benda lain yang frekuensinya sama. Misalnya, getaran garputala nada C akan menggetarkan garputala nada C lainnya yang ada di dekatnya.

Atau, getaran dawai gitar akan menggetarkan dawai gitar lainnya. Asal frekuensi dawai-dawainya sama. Senada. Bisa juga antara piano dengan piano lainnya. Dan berbagai alat musik. Atau, sumber getaran apa pun.

Mekanisme resonansi ini juga terjadi pada stasiun pemancar radio dengan pesawat radionya. Jika Anda ingin mendengarkan siaran radio itu, maka Anda harus menyetel gelombang radio Anda. Agar memiliki frekuensi yang sama dengan pemancarnya.

Jika gelombang radio kita tidak sama dengan gelombang pemancarnya, maka kita pun tidak bisa menangkap siaran dari stasiun pemancar itu.

Akan tetapi, ketika frekuensi pemancar dan pesawat radio sama, maka seluruh informasi yang disiarkan oleh stasiun pemancar akan bisa didengarkan di radio Anda. Tanpa perlu melakukan usaha apapun. Cuma menyamakan frekuensi.

Demikianlah apa yang terjadi pada diri kita. Ketika frekuensi pikiran kita 'matching' dengan frekuensi alam, tiba-tiba kita memeroleh inspirasi dari alam. Ataupun, mengalami peristiwa seperti yang kita imajinasikan. Dan, bisa merasakan suatu kejadian sebelum peristiwa itu terjadi. 

Pikiran yang positif meresonansi segala yang positif di sekitar kita. Sebaliknya, pikiran yang negatif, bakal meresonansi hal-hal yang negatif. Apalagi, jika pikiran itu disertai dengan perilaku yang seiring, maka daya resonansinya akan menjadi semakin kuat.

Itulah sebabnya, orang-orang yang berkarakter positif akan menuai hal-hal positif. Sedangkan orang yang berkarakter negatif akan menuai hal-hal negatif.

Pada orang-orang yang berkarakter positif, gelombang otaknya sering berada di level alfa-teta. Pikirannya rileks. Fokus. Sabar. Dan, khusyuk. Berada di pintu gerbang alam bawah sadar. Sehingga, radar jiwanya peka. Mudah teresonansi. Dan meresonansi hal-hal yang positif.

Orang-orang yang demikian memiliki keyakinan yang kuat. Tidak mudah takut. Atau, gelisah. Atau, terburu-buru. Dan semacamnya. Ia sangat tenang menghadapi segala masalah. Dan meyakini bahwa segala sesuatu ada solusinya.

Apalagi, bagi orang-orang yang memiliki keyakinan tauhid. Yang oleh Al Qur’an digambarkan sebagai orang yang bertawakkal. Yakni, orang-orang yang sangat yakin – haqqul yaqin – karena telah mengalami berulang kali. Bahwa, ternyata Allah senantiasa memberikan solusi atas berbagai persoalannya. Dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Ketika ia berserah diri, dan bertawakkal hanya kepada-Nya.

Orang lain menyebut 'solusi tak terduga' itu sebagai sebuah 'keajaiban' ..

“Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala kebutuhan)-nya.” [QS. Ath Thalaq: 3]

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at 6 Nopember 2020]

Oleh: Agus Mustofa, Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda