Kondisi Heritage Tourism Sala

Kajen Ora Kopen dan Kopen Ora Kajen

Wisatawan memasak nasi liwet di Baluwarti. (Foto: Paparan Dr Erna)

COWASJP.COMKopen ora kajen. Terawat tapi tidak disegani. Begitulah kondisi Kampung Batik Laweyan, Sala. Kondisi kampung yang masuk dalam heritage tourism ini begitu memprihatinkan. Masuk dalam kategori unsustainable tourism.

Semakin banyak daya tarik warisan budaya yang hilang. Rumah-rumah juragan batik banyak yang berpindah tangan, rumah terpotong-potong tidak utuh. Para pedagang batik yang kecil-kecil juga kehilangan pasar. Kalah dalam persaingan.

Kondisi penurunan Laweyan sebagai heritage tourism semakin terlihat dari ketiadaan Sekretariat yang selama ini bisa menjadi tempat mendapatkan informasi. "Dulu, ada sekretariat FPKBL di Kelurahan. Sekarang tidak ada," ungkap Dr RR Erna Sadiarti Budiningtyas.

Doktor bidang Pariwisata lulusan UGM ini mengungkapkan hasil penelitian disertasinya dalam Seminar Nasional Kepariwisataan Seri #1. Seminar ini digelar oleh Prodi Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa, 3 November 2020, jam 19.00-21.00 WIB.

Seminar series, kali ini membahas “Heritage Tourism di Kota Surakarta : Model Pengembangan Berbasis Kearifan Lokal”. Paparan Erna, dosen dan Peneliti Pariwisata ABA St.Pignatelli, Surakarta, dibahas oleh Prof Dr M Baiquni, guru besar UGM.

Erna menyebut Laweyan itu kopen ora kajen, maka untuk Baluwarti ia menyebutnya kajen ora kopen. Dihargai, dihormati tapi tidak terpelihara.

Selain mengungkap merosotnya citra Laweyan sebagai heritage tourism, Erna juga menemukan fakta menarik di kampung heritage Baluwarti, Sala. Jika Erna menyebut Laweyan itu kopen ora kajen, maka untuk Baluwarti ia menyebutnya kajen ora kopen. Dihargai, dihormati tapi tidak terpelihara. “Undeveloped tourism,“ tegas Erna.

Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah faktor sosial. Baluwarti, misalnya, sebagai heritage adalah milik negara. Tetapi masyarakat di sana masih berpandangan kuat segala sesuatu yang berkaitan wilayahnya harus melalui kraton. Masyarakat Baluwarti masih sangat menghargai keluarga Kraton Surakarta. Pengembangan wilayah ini sering terkendala karena masalah ini.

Prof Baiquni, yang lahir di Laweyan, memberikan tanggapan yang menarik. Termasuk mengusulkan perlunya konsep pariwisata ke Laweyan atau Sala pada umumnya tidak sekadar something to see. Melainkan harus something to enjoy and experiencing. Harus lebih mengeksplorasi.

Dengan konsep merasakan, mengalami tersebut, menurut Baiquni, wisatawan bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan tinggal di Solo. Wisatawan tidak hanya melihat orang membatik tapi sekaligus belajar membatik. Belajar pula klenengan, tarian, atau musik kampung lainnya seperti hadrah.

Pariwisata, tegas Baiquni, harus dikembangkan dengan mengembalikan kultur, kearifan lokal dan perawatan lingkungan. Pengembangan pariwisata itu juga berarti pemulihan kondisi lingkungan hidup. Menghidupkan kampung-kampung heritage, misalnya, bisa dilakukan dengan mengembalikan ekologi dan ekosistemnya.

Guru Besar Fakultas Geografi UGM ini juga menyebut tiga hal yang bisa dikembangkan sebagai ikon pariwisata Sala berbasis kearifan lokal. Ketiga hal tersebut adalah kuliner, batik dan sejarah. Kuliner ada nasi liwet, selat Sala, cabuk rambak dan sebagainya. Batik ada kampung batik Kauman, Baluwarti, Laweyan.

Sejarah juga sangat kaya. Ada Sangiran di masa pre-historic. Sangiran adalah world heritage. Memiliki daya Tarik untuk belajar antropologi, arkeologi, geografi maupun sejarah. Kendati berjarak 17 km dari Sala, Sangiran bisa dikembangkan dalam rangkaian pariwisata Sala. Apalagi di Sangiran juga telah ada World Class Museum.

“Cerita tentang Sala itu tidak sekadar ekonomi estetik. Cerita tentang sejarah perjuangan juga menarik. Jaringan perdagangan dan perjuangan para saudagar batik Solo dengan kota lain seperti Pekalongan, Pacitan sangat menarik dicermati. Kiprah Haji Samanhudi dari Laweyan dalam perjuangan melawan penjajah, bisa menempatkan rumah-rumah di Kawasan tersebut menjadi penting. Rumah-rumah heritage tersebut juga menjadi pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia,“ tandas Baiquni.

Baiquni lantas juga menyebut bahwa alam di Sala sebagai “inter mountain valley“ itu telah menggembleng karakter warganya memiliki karakter pemimpin. Dari dulu hingga sekarang. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda