Guest Editor di Harian DisWay (15)

Mengukur Kekhusyukan

Foto: asuhananak-blogger

COWASJP.COM – Apa sih khusyuk itu?”, tanya kawan saya.

Dia tergelitik untuk memahaminya lebih gamblang. Karena, masih belum paham juga soal kekhusyukan. 

Meskipun, sangat sering kita mendengar istilah itu. Bahkan, sudah ada pelatihannya. Dalam bentuk shalat khusyuk, misalnya. 

Ternyata, banyak juga yang setelah mengikuti pelatihan, masih belum paham. Apalagi, menerapkan dalam praktek ibadahnya.

Dengan berkembangnya teknologi, kondisi khusyuk itu kini bisa didekati. Dikuantifikasi, secara objektif. Sehingga, lebih mudah memahaminya. Dan, menerapkannya. Serta, melatihnya.

Secara sederhana, “khusyuk” bisa dimaknai sebagai “fokus”. Memiliki perhatian penuh pada sesuatu. Sehingga, interaksi dengan sesuatu itu menjadi sedemikian intensif.

Sebenarnya, makna khusyuk itu bersifat umum. Bisa untuk aktivitas apa saja. Selain ibadah. Seperti, belajar dengan khusyuk. Atau, berdialog secara khusyuk. Atau, meneliti penuh khusyuk. Dan lain sebagainya.

Tetapi, yang paling lazim kita dengar, istilah khusyuk ini digunakan dalam konteks ibadah. Misalnya, shalat khusyuk. Atau, berdoa dengan khusyuk.

Jika dijabarkan, untuk mencapai kekhusyukan itu diperlukan kondisi yang mendukungnya. Di antaranya, adalah suasana yang tenang. Dan sikap diri yang rileks. Kekhusyukan sulit diperoleh ketika suasana sekitarnya gaduh. Ataupun, perasaan sedang tegang. 

Selain itu, ada beberapa kondisi yang perlu ditambahkan, ketika kekhusyukan diterapkan pada aktivitas ibadah. Khususnya, saat berinteraksi dengan Allah. Dibutuhkan kepahaman tauhid yang baik. Sehingga, tercapai suasana khusyuk itu. Sebagaimana saya uraikan dalam buku “Khusyuk Berbisik-bisik dengan Allah”

Yang menarik, kondisi kejiwaan yang khusyuk itu kini bisa diukur melalui peralatan. Di antaranya, dengan menggunakan EEG (Electro Enchepalo Graph). Yakni, alat pengukur gelombang otak. Dan, ECG (Electro Cardio Graph) – alat pengukur gelombang jantung.

Saya telah melakukan pengamatannya. Dengan menggunakan peralatan tersebut. Bahkan, masih saya tambahkan secara simultan, dengan perangkat kamera aura. Yang bisa mengukur pancaran energi tubuh. Yang kemudian saya tuangkan dalam buku saya “Energi Dzikir Alam Bawah Sadar”. 

Penampakan pola gelombang, pada ketiga layar monitor peralatan itu, memberikan data tentang kondisi pikiran dan kejiwaan seseorang. Apakah dia sedang rileks, ataukah stress. Sedang khusyuk, ataukah melayang ke mana-mana.

Secara umum, EEG akan memberikan data tentang kondisi pikiran. Yakni, dalam bentuk gelombang kesadaran. Apakah berada di atas frekuensi 14 Hz. Yang disebut sebagai gelombang Beta. Dan menggambarkan pikiran yang sedang aktif. Memikirkan apa saja.

Ataukah, berada di frekuensi antara 8 Hz – 14 Hz. Yang disebut sebagai gelombang Alfa. Di mana pikiran sedang merileks. Menentram. Dan, lebih tenang.

alfa.jpgMenggunakan EEG bisa mengukur kekhusyukan. (DESAN GRAFIS: shutterstock.com)

Ataukah, berada di frekuensi antara 4 Hz – 8 Hz. Yang disebut sebagai gelombang Teta. Di mana pikiran menjadi semakin rileks. Bahkan, cenderung ke arah mengantuk.

Ataukah, berada di frekuensi 0,1 Hz – 4 Hz. Yang disebut sebagai gelombang Delta. Di frekuensi ini seseorang mulai tertidur. Atau, menuju kondisi tidak sadar.

Nah, kekhusyukan adalah kondisi pikiran di mana gelombang otak berada di wilayah Teta. Atau, setidaknya, di wilayah Alfa-Teta. 

Di sinilah kondisi kejiwaan seseorang menjadi sedemikian rileks. Fokus. Sabar. Ikhlas. Emosi rendah. Tapi, daya ingat justru meningkat. Bahkan, inspirasi  dan ilham bermunculan begitu saja. Tidak dalam bentuk pikiran yang analitis. Melainkan, dalam bentuk imajinasi.

Maka, itulah yang digambarkan oleh Al Qur’an dengan istilah “dzikrullah”. Dan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “mengingat Allah”. Karena, sifatnya memang bukan “tafakkur”, yang analitis. Melainkan, imajinatif. Penghayatan yang penuh perasaan. Sebagaimana ayat berikut ini.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ketahuilah, hanya dengan senantiasa mengingat Allah-lah hati (manusia) akan menjadi tenteram”. [QS. Ar Ra’d: 28]

[Dimuat di Harian DisWay, Jumat, 23 Oktober 2020]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda