Akselerasi Ekonomi Syariah lewat Wakaf

Grand Zam-Zam di depan Masjidil Haram juga dibangun dengan sukuk wakaf. (FOTO: alshaumroh.com)

COWASJP.COM – Pandemi Covid-19  berdampak besar pada perekonomian. Tak terkecuali ekonomi dan keuangan syariah. Karena itu, berbagai upaya harus dilakukan untuk menjaga pertumbuhan. Bahkan, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi syariah. Salah satu yang bisa diandalkan adalah instrument keuangan Islam, yaitu wakaf.

Wakaf merupakan salah satu keuangan sosial  Islam yang eksis sejak zaman Rasulullah hingga kini. Bahkan, di negara-negara mayoritas muslim, wakaf masih menjadi instrument penting dalam upaya mensejahterakan masyarakat. 

Wakaf pertama terjadi saat Abu Bakar Ash-Shiddiq membayar sejumlah dinar guna membeli tanah anak yatim  untuk  Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah Muhammad SAW. Mungkin ini yang membuat masyarakat hanya mengenal wakaf sebatas untuk  masjid,  sekolah, dan makam. Masyarakat berpandangan, selama fasilitas-fasilitas tersebut digunakan, maka pahalanya terus mengalir. Bahkan ketika wakif sudah meninggal.  

Wakaf yang lain adalah wakaf Umar ibn Khattab. Saat  konsultasi tentang tanahnya di Khaibar, Rasulullah memerintahkan  untuk menahan tanah itu (wakaf) dan memproduktifkannya, lalu hasilnya diberikan kepada mauquf alaih (penerima manfaat wakaf). Inilah  yang mendasari wakaf produktif, di mana harta wakaf dikelola oleh nadzir, dan hasilnya digunakan untuk kepentingan umum dan sekejahteraan masyarakat. 

al-azhar.jpg

Jika melihat sejarah, para sahabat Nabi Muhammad adalah orang-orang yang sangat gemar bersedekah dan wakaf. Tujuh dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga adalah saudagar-saudagar kaya, namun sangat royal terhadap hartanya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Seorang sahabat bernama Abu Thalhah, misalnya, mewakafkan perkebunan produktif “Bairuha” begitu mendengar ayat 92 QS Ali-Imran, yang menyatakan bahwa “Engkau tidak akan sampai kepada kebaikan sehingga engkau menafkahkan harta yang engkau cintai,”. 

Contoh wakaf yang luar biasa dapat kita lihat dari gedung Grand Zam-Zam di depan Masjidil Haram yang dibangun dengan sukuk wakaf. Juga kebun kurma, wakaf Utsman ibn Affan, yang hingga kini masih menghasilkan. Yang lain adalah wakaf  Universitas Al-Azhar di Mesir yang sejak 1000 tahun lalu hingga saat ini dibiayai dari wakaf. 

Model Al-Azhar ini juga digunakan universitas terbaik dunia seperti Harvard maupun Yale University di AS. Mereka mengandalkan dana  wakaf  yang  disebut endowment fund.  Kita bisa bayangkan, dengan endowment fund sebesar USD 36,5 miliar atau setara dengan Rp 529 triliun (kurs Rp 14.500/USD), apa yang tidak bisa dilakukan oleh Harvard? Begitu pula Yale yang memiliki endowment fund sebesar USD 19 miliar atau setara dengan USD 275 triliun. 

Wakaf di zaman sekarang bisa dilihat dari Sulaiman Ar-Rajhi yang mewakafkan kebun kurma dan berbagai harta yang nilainya mencapai Rp 212 triliun kepada Yayasan Al-Khairiyyat di Arab Saudi. Di Turki, ada bank wakaf yang sangat besar, Turkwy Waqf Bank and Finance Corporation. Juga Turkish Auqaf Bank, Guraba Hospital, Taksim Hotel Sheraton, dan sebagainya. Semua dikembangkan dari wakaf. 

Di Singapura, MUIS dan nadzir wakaf mengelola wakaf tanah yang dibiayai dengan sukuk –Musharakah Bond yang membangun gedung perkantoran The Bencoolen. Di Malaysia, banyak harta wakaf yang dikelola menjadi real estate dan perumahan sewa, bank, klinik, dan perkebunan. 

Didorong Fatwa Wakaf Kontemporer

Bagaimana Indonesia? Saat ini  tanah wakaf yang tercatat di Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencapai 414 juta hektar. Hanya saja, sebagian besar dimanfaatkan untuk makam, masjid, pesantren, dan tanah belum produktif. Jika bisa diproduktifkan, betapa besar nilai ekonominya, sehingga bisa mensejahterakan kaum muslimin. 

Potensi wakaf ini menjadi jauh lebih besar setelah muncul fatwa-fatwa baru. Fatwa  MUI No 2/2002 tentang wakaf uang, misalnya, menjadikan wakaf tak harus berupa harta  berupa tanah dan bangunan seperti yang dipahami masyarakat. Seorang muslim bisa berwakaf hanya dengan uang Rp 1.000.  Dengan muslim 230 juta dan hanya sekitar 10 persen yang miskin, berarti potensi wakif (orang yang berwakaf)  mencapai 207 juta muslim. Jika mereka berwakaf Rp 100.000, maka potensi per tahun mencapai Rp 20,7 triliun. Potensi riilnya tentu jauh lebih besar, karena pertumbuhan kelas menengah muslim yang luar biasa dan berwakaf hingga jutaan rupiah. 

alzarhar.jpgKampus Universiras Al-Azhar. (FOTO: alamy stock photo)

Ada juga fatwa MUI No. 106/2016 tentang wakaf manfaat asuransi dan investasi. Dengan wakaf ini, hasil investasi dan uang pertanggungan asuransi bisa diwakafkan sampai  persentase tertentu. Potensi wakaf ini sangat besar, mengingat asuransi jiwa syariah berkembang cukup pesat di Indonesia.  

Fatwa ini juga mendorong pengembangan wakaf waris atau wakaf wasiat. Seorang muslim bisa menuliskan ikrar wakaf, bahwa sekian persen dari hartanya akan diwakafkan sebelum dibagi untuk ahli waris. Wakaf waris ini memiliki potensi yang besar  karena punya kelebihan. Seseorang tidak merasa berat mewakafkan hartanya, karena baru akan diserahkan setelah meninggal.

Selain itu, ada juga wakaf saham dan wakaf sementara atau waktu tertentu. Potensi kedua model wakaf ini juga sangat besar. Pemilik perusahaan atau pemegang saham bisa mewakafkan sahamnya ke nadzir wakaf uang yang dalam pengelolaannya bisa bekerja sama dengan fund manager. Wakaf sementara juga dimungkinkan, dengan menyerahkan nilai manfaat atas suatu asset untuk waktu tertentu. 

Produk yang lain adalah cash wakaf link sukuk (CWLS). Ini adalah sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah, di mana akan dibeli oleh nadzir menggunakan harta wakaf uang. Produk ini memiliki  manfaat agar nadzir wakaf tidak kesulitan menempatkan uang wakaf pada instrument investasi syariah yang aman. 

Produktifkan Wakaf dengan Wakaf

Melihat potensinya yang luar biasa, wakaf seharusnya menjadi instrument penting dalam mengakselerasi ekonomi syariah. Untuk bank syariah, misalnya, problem kurang efisien dan  mahal bisa diatasi dengan wakaf. Para nadzir wakaf uang bisa membeli kepemilikan bank syariah yang akan memberi dua keuntungan. Di satu sisi, modal dari wakaf bakal menurunkan cost of fund perbankan syariah, dan di sisi lain bisa memberikan keuntungan terhadap harta wakaf. 

alazhar1.jpgPerkantoran The Bencoolen di Singapura juga dibangun dengan sukuk wakaf. (FOTO: wikipedia.org)

Contoh nyata sudah dilakukan pemerintah dengan membentuk Bank Wakaf Mikro di banyak pesantren. Dengan modal hibah dari dana sosial lembaga keuangan syariah, maka Bank Wakaf Mikro bisa memberi pembiayaan kepada usaha mikro dengan marjin (murabahah) hanya 3 persen per tahun. Ini sangat membantu usaha mikro untuk berkembang. 

Cara yang lain adalah memproduktifkan tanah-tanah wakaf. Ini bisa dilakukan dengan  menawarkan wakaf di atas wakaf. Wakaf uang untuk memproduktifkan tanah wakaf. Juga bisa dilakukan dengan sukuk link wakaf yang sudah digagas oleh Kementerian Keuangan. Mekanismenya, nadzir menerbitkan sukuk yang dananya untuk memproduktifkan tanah wakaf. 

Berbagai inovasi ini bisa dilakukan agar tanah-tanah wakaf bisa produktif. Di satu sisi akan menghasilkan keuntungan yang bisa diberikan kepada penerima manfaat. Di sisi lain  tujuan wakif tercapai, di mana harta yang diwakafkan terus berkembang dan bermanfaat sehingga wakif terus memperoleh pahala wakaf yang sebenarnya adalah shadaqah jariyah. Dalam skala makro, ini juga akan mengakselerasi ekonomi dan keuangan syariah. Wallahu a’lam.(*) 

Penulis adalah dosen ekonomi syariah FEB Unair dan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda