Guest Editor di Harian DisWay (13)

Sains yang Spiritualistik

FOTO: Pngtree

COWASJP.COM – Seorang kawan bertanya: “bagaimana mungkin sains dicampur dengan spiritualitas?”

“Kenapa tidak mungkin?” tanya saya

“Bukankah sains bersifat objektif. Sedangkan spiritualitas bersifat subjektif?”

“Tidak ada peristiwa yang murni objektif. Sebagaimana pula, tidak ada peristiwa yang murni subjektif,” kata saya. Setiap kejadian selalu bersifat objektif-subjektif. Ataupun, subjektif-objektif. 

Perbedaannya, cuma dalam sudut pandang pengamat saja. Dan, pengamat itu sendiri bersifat subjektif. Ketika pengamat berubah kondisi, persepsi yang diperolehnya pun akan ikut berubah.

Katakanlah, soal warna. Menurut sains, warna itu objektif. Karena, bisa diukur frekuensinya dengan peralatan. Misalnya, warna merah berada pada frekuensi 400 – 484 THz. Atau, panjang gelombang 620 – 750 nm. Warna kuning pada frekuensi 508 – 526 THz. Atau, panjang gelombang 570 – 590 nm. Dan, warna biru pada frekuensi 606-668 THz. Atau, panjang gelombang 450 – 495 nm.

Akan tetapi, ketika pengamat beserta peralatannya bergerak, frekuensi pun berubah. Jika bergerak menjauh, maka warna kuning akan bergeser ke arah merah. Sebaliknya, jika mendekat, warna kuning akan bergeser ke frekuensi biru. 

Artinya, kesimpulan atas sebuah warna yang objektif, ternyata bisa berubah ketika subjek pengamatnya berubah kondisi terhadap apa yang diamati.

Sebagaimana juga suara. Ketika ada sebuah mobil yang bergerak mendekati Anda, maka bunyi klaksonnya akan terdengar mengeras dan meninggi. Sebaliknya, ketika menjauh akan terdengar merendah dan memelan. Baik oleh peralatan. Ataupun, oleh telinga.

Yang demikian ini, semakin terbukti di Fisika Modern. Ketika Anda mencoba memahami berbagai peristiwa di skala kuantum – mikrokosmos. Ataupun, dalam skala universe - makrokosmos. Objektivitas sains tidak bersifat objektif lagi. Melainkan, bergantung kepada subjektivitas pengamatnya.

Dalam “skala yang sedang-sedang saja” memang semua terlihat objektif. Tetapi, begitu dibawa ke skala mikrokosmos – kuantum – ia menjadi relatif dan subjektif. Sebagaimana juga, ketika diamati dalam skala makrokosmos – berkecepatan tinggi. Ia menjadi relatif seperti digambarkan oleh Teori Relativitas Einstein. Sains yang objektif itu menjadi bermasalah ketika dibawa ke ranah ekstrem.

warna2.jpgFOTO: Pngtree

Termasuk, ketika digunakan untuk memahami Tuhan yang Maha Besar. Lebih besar dari makrokosmos. Dan, memahami Tuhan yang Maha Lembut. Lebih lembut dari skala kuantum.

Itulah sebabnya, Al Qur’an menempatkan sains sebagai “salah satu saja” dari ilmu bantu dalam memahami keagamaan. Khususnya, terkait ketuhanan. Karena, Tuhan bukanlah entitas objektif. Melainkan, Eksistensi Subjektif. 

Bagaimana mungkin sesuatu yang subjektif diformulasikan secara objektif? Pasti kurang mencukupi. Sains tidak cukup untuk memahami sesuatu yang subjektif. Misalnya, bagaimana Anda bisa mengukur apa yang disebut sebagai “kebahagiaan”.

Kebahagiaan itu jelas ada. Banyak di antara kita yang sudah merasakannya. Tetapi, apakah sains bisa mengukurnya? Tidak bisa. Maksimum, hanya mendeteksi adanya hormon serotonin, dopamine, endorfin dan oksitosin, yang diduga sebagai penyebab munculnya perasaan bahagia dalam diri seseorang.

Sains tidak pernah tahu “rasa kebahagiaan”. Betapa bahagianya orang yang bahagia. Bahwa perasaan bahagia itu bisa membuncah, dengan segala kualitasnya. Karena, rasa bahagia memang tidak bisa diukur secara objektif. Melainkan, harus dirasakan secara subjektif.

sepedaan.jpgKebahagiaan tidak bisa diukur. (FOTO: sahabatpenakita.id)

Spiritualitas adalah ilmu yang lebih sesuai untuk memahaminya. Yang dijalankan dengan spirit yang benar. Secara subjektif. Tanpa meninggalkan objektivitas. Melainkan, memadukan keduanya dalam porsi yang rasional.

Ada kalanya, objektivitas diperlukan untuk memahami realitas. Tapi, ada kalanya pula subjektivitas mesti dikedepankan. Jangan “digebyah-uyah”. Disamaratakan, begitu saja. 

Al Qur’an mengajarkan agar kita memahami realitas alam semesta ini seperti seorang "ulul albab". Yakni, orang-orang yang bisa memadukan mekanisme tafakur yang saintifik dengan mekanisme tadzakur yang spiritualistik.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda (eksistensi Tuhan) bagi para ULUL ALBAB. (Yaitu) orang-orang yang bertadzakur mengingat Allah (secara SPIRITUAL) dalam keadaan berdiri, atau duduk, ataupun berbaring. Dan mereka bertafakur (secara SAINTIFIK) tentang penciptaan langit dan bumi. (Sampai berkesimpulan): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” [QS. Ali Imran: 190-191]

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 9 Oktober 2020]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda