Bisnis Triliunan dari Kaum Sarungan

COWASJP.COM – Ada yang menarik saat penyerahan bantuan 1,1 juta UMKM Jatim di Grahadi pekan lalu. Di sela-sela acara, Menkop-UKM Teten Masduki juga menyerahkan pembiayaan LPDB Rp 100 miliar kepada KSPPS BMT Usaha Gabungan Terpadu (UGT) Sidogiri. Padahal, Februari lalu, lembaga keuangan mikro syariah milik alumi pesantren Sidogiri Pasuruan itu juga menerima pembiayaan ultra-mikro (UMI) dari Kementerian Keuangan Rp 200 miliar.

Baitul maal wa tamwil (BMT) UGT Sidogiri memang dinilai sebagai profil sempurna lembaga keuangan mikro syariah (LKMS). Yang jumlahnya di Indonesia diperkirakan lebih dari 5.000. Dan UGT adalah yang terbesar dengan asset Rp 2,4 triliun. Perputarannya tahun 2019 mencapai Rp 16 triliun. 

BMT UGT dimiliki dan dikelola oleh para alumni santri Pondok Pesantren (PP) Sidogiri. Pesantren yang ada di Desa Sidogiri, Kraton, Pasuruan ini merupakan pesantran tradisional (salaf) yang berdiri tahun 1787. Berarti sudah berusia 233 tahun. Ikatan emosional yang kuat menjadikan anggota UGT yang sebagian besar adalah alumni, mencapai 516 ribu. Ini sudah cukup membuktikan betapa luar biasanya pesantren ini. 

Sebagai pesantren salaf, Sidogiri berbeda dengan pesantren yang lain. Paling tidak, ini jika dilihat dari bagaimana  membangun kemandirian. Pesantren Sidogiri membangun business network yang luar biasa. Usahanya bermacam-macam. Ada lembaga keuangan mikro syariah, BMT UGT dan BMT Maslahah. Juga bank, BPRS di Bangil. Ada juga jaringan supermarket Basmalah dan air mineral “Santri”. Juga asuransi mikro Asky-Micro Takaful dan konsultan manajemen. 

imronsantri-2.jpgDoa Santri untuk Muslim Rohingnya di Ponpes Sidogiri, Kraton, Pasuruan. (FOTO: pinterest.com)

Semuanya bukan bisnis kecil-kecilan, meski pengelolanya hanya bersarung saat di kantor.  Lihat saja BMT UGT yang berbadan hukum koperasi, yaitu Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Wilayah kerjanya nasional. Karena itu, kantor cabangnya tersebar di 10 provinsi dengan  jumlah 280  kantor. Jumlah anggotanya mencapai 516.000 dengan “nasabah” yang dibiayai mencapai 122 ribu. Karena itulah, wajar jika perputaran pembiayaan mencapai Rp 16 triliun setahun. 

BMT Maslahah juga tak kalah menarik. Jika UGT merupakan KSPPS terbesar di Indonesia, Maslahah nomor empat. Wilayah operasionalnya memang hanya Jawa Timur. Namun, kontribusinya terhadap pembiayaan usaha mikro dan kecil luar biasa. Sebab, asetnya juga mendekati Rp 1 triliun. Dengan pembiayaan mulai dari Rp 500 ribu, tentu puluhan ribu “nasabah” telah menikmati pembiayaannya. 

Jika Anda lewat di Pasuruan, Probolinggo, atau bahkan ke Madura, Anda sering menjumpai minimarket warna hijau. Itulah jaringan minimarket yang dimiliki Kopontren Sidogiri. Namanya Basmalah. Saat ini, jumlahnya sudah mencapai 180. Bukan jaringan minimarket kecil-kecilan. Jika omzetnya rata-rata Rp 6 juta, sehari bisa mencapai Rp 1,08 miliar. 

Bisnis lainnya yang cukup besar adalah air mineral “Santri”. Air dalam kemasan ini memiliki pasar khusus, masyarakat di desa-desa. Meski juga memiliki pasar yang cukup besar di kota  besar seperti Surabaya. Di Surabaya saja, ada ratusan agen Santri. 

***

Bisnis yang besar tidak hanya dimiliki Pesantren Sidogiri. PP Sunan Dradjat di Lamongan, misalnya, memiliki jaringan bisnis yang juga cukup besar. Ada lembaga keuangan mikro syariah (BMT), minimarket, galangan kapal, produksi garam, hingga radio. Juga  air mineral “Aidrat”. “Semua ini kami dirikan untuk men-support pesantren,’’ kata Biyati Ahwaruni, doctor ekonomi Islam yang menjadi ketua pengelola usaha internal pesantren.

Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, juga memiliki banyak usaha. Keuntungannya tiap bulan mencapai ratusan juta. Bisnisnya juga bermacam-macam. Ada air mineral Bariklana, minimarket, bakery, toko bangunan, hingga percetakan. Omzetnya juga miliaran per bulan dengan keuntungan yang cukup untuk men-support pesantren.

imronsantri-3.jpgPara santri Madrasah Ponpes Sidogiri. (FOTO: sidogiri.net)

Bisnis milik pesantren sebenarnya lebih berorientasi sosial. Karena itu, usahanya banyak terkait dengan kebutuhan santri dan masyarakat sekitar. Pesantren biasanya berbisnis pada sektor yang tidak banyak digeluti warga sekitar. “Kasihan jika usaha warga terganggu oleh usaha pesantren. Ini menjadi prinsip kami,’’ kata Anas Al-Hifni, pengelola BMT Sunan Dradjat. 

Bagi pesantren, jaringan bisnis ini merupakan salah satu upaya  untuk bertahan dan mandiri. Pendapatan bisnis yang cukup besar digunakan dapat untuk menyubsidi pesantren. Ini dengan harapan, santri bisa memperoleh pendidikan berkualitas, namun dengan biaya yang murah. “Kasihan, banyak anak dari keluarga miskin tidak bisa sekolah. Karena itu, kami mendesain agar siapa pun bisa mondok di pesantren ini,” kata KH Abdul Ghofur, pimpinan PP Sunan Dradjat, yang masih keturunan Sunan Dradjat. 

Di pesantren ini, biaya mondok sangat murah. Untuk makan, misalnya, santri hanya dikenai biaya Rp 160.000 per bulan. “Apa cukup? Ya, Alhamdulillah cukup saja. Rejeki ada saja, sehingga kami tidak pernah kekurangan sampai tak bisa belanja,” begitu kata Biyati. Di Sunan Dradjat, biaya pengembangan pesantren banyak diambilkan dari hasil usaha pesantren. Pembangunan terus dilakukan, meski pelan. Ini karena dananya menyesuaikan dengan hasil usaha pesantren. Meski, juga ada sumbangan dari pihak lain. 

Pesantren Sidogiri juga sama. Setiap tahun, sebagian laba usaha juga digunakan untuk pengembangan pesantren. Karena itu, pesantren tradisional pimpinan KH Nawawi Abdul Djalil ini menolak bantuan operasional sekolah (BOS). Pesantren memilih menggunakan hasil dari usaha-usaha pesantren untuk membantu operasional pesantren. Tentu, selain dari iuran santri.

Keuntungan usaha juga digunakan untuk membantu operasional madrasah ranting. Juga membiayai guru tugas, yaitu santri yang diterjunkan ke daerah-daerah setelah lulus dari pesantren. Untuk berdakwah. “Bahkan inilah dulu asal muasal BMT UGT,’’ kata Abdul Madjid, yang kini menjadi Ketua BMT UGT. Ya, dulu nama UGT diambil dari “Usaha Guru Tugas”. Usaha dibuat untuk membiayai  guru-guru yang ditugaskan ke berbagai daerah untuk berdakwah. Tapi kemudian diubah menjadi nama Gabungan Usaha Terpadu. 

***

 Bagi pesantren, adanya orientasi bisnis  ini menjadi keniscayaan. Sebab, pesantren harus eksis di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi. Jika tidak bertransformasi, maka pesantren akan kehilangan kekuatan  menarik para santri untuk belajar agama. Keberhasilan transformasi itulah yang membuat pesantren selalu eksis di tengah perubahan jaman. Termasuk di era digital seperti saat ini. 

Buktinya, berdasarkan catatan Kementerian Agama, jumlah pesantren di Indonesia justru meningkat. Tahun 2019, mencapai 28.000. Terbanyak ada di Jawa Barat, yaitu 8.343. Namun santri terbanyak ada justru di Jawa Timur. Dengan 4.452 pesantren, jumlah santri di Jatim mencapai 564.299, sementara Jabar hanya 456.134. 

imronsantri-4.jpgAir mineral Santri produksi Ponpes Sidogiri. (FOTO: Bukalapak)

 Secara filosofis, usaha pesantren ini tak lepas dari transformasi orientasi pesantren ke  religio-ekonomik. Pesantren  lebih bersifat pragmatis dan fungsional. Jumlah masyarakat miskin di Indonesia yang  masih sangat besar membuat eksistensi pesantren tak bisa mengelakkan untuk ikut  membantu mengentaskan kemiskinan, sembari memberdayakan komunitas internalnya sendiri.

Selain berbisnis, bahkan banyak pesantren juga memberi pelatihan keterampilan sebagai bekal terjun ke masyarakat. Berbagai bidang keahlian dapat dipilih oleh para santri sesuai minatnya, seperti pendidikan guru, pertanian, perikanan, kerajinan, dan lain-lain. Ini dapat dianggap sebagai negosiasi pesantren terhadap nilai-nilai baru yang berkembang dalam masyarakat akibat kemajuan ilmu (science), pengetahuan (knowledge), dan teknologi. 

Perubahan orientasi pesantren ini tak lepas dari berubahnya  harapan santri. Dulu, santri menghabiskan seluruh waktunya di pesantren untuk menempa iman, ilmu, dan amal. Tapi santri masa kini juga berorientasi  menyiapkan bekal hidup mapan di masa depan. Ini bisa dilihat dari kebutuhan santri terhadap ijazah sebagai syarat  melanjutkan ke sekolah formal yang lebih tinggi.  

Pergeseran orientasi tersebut membuat pesantren tidak lagi terkesan eksklusif. Pesantren berusaha mengimbangi institusi-institusi pendidikan lainnya dengan tidak meninggalkan identitasnya. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang  memproduksi ulama dan memelihara kesucian ajaran Islam dari nilai-nilai sekuler. Jadi, di satu sisi,  pesantren berusaha  memenuhi kebutuhan dan harapan santri untuk menyiapkan masa depan. Di sisi lain pesantren mempertahankan diri untuk mendidik dan menyiarkan syariat Islam di tengah masyarakat.

Bisnis pesantren diyakini dapat menjaga kemandirian dan mempertahankan eksistensi pesantren di masa depan. Sebab, dengan kekuatan ekonomi ini, pesantren bisa menyelenggarakan pendidikan berkualitas, namun dengan biaya yang murah. Dengan begitu, pesantren tetap bisa mempertahankan marwahnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang akan menjaga nilai-nilai Islam di masyarakat. Wallahu a’lam. (*)

 

Oleh: Dr Imron Mawardi, Wartawan Senior di Surabaya. 

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Wakil Dekan II Sekolah Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda