Pro Cowas JP

Para Pensiunan Harus Ulet Buka Usaha

Chairul Anwar (penulis) bersama mesin fotocopy-nya. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Kira-kira 1 tahun sebelum pensiun saya bersama rombongan 6 orang termasuk Pak Bambang Supriyantoro ditugaskan mengikuti pelatihan di Jogjakarta. Tepatnya di kantor PTPN Jogjakarta selama 1 minggu. 

Pembekalan sebelum pensiun. Kami diberi bekal untuk bisa membuka usaha sesuai yang diinginkan. Ada yang ingin buka usaha restoran, home industry, dan ada pula yang ingin ternak ikan. 

Giliran saya ditanya rencana usahanya apa, saya jawab spontan: “Saya mau buka usaha fotocopy dan jual alat-alat tulis. Maka  pada hari terakhir, kami berenam diajak berkunjung ke restoran seorang bapak yang sudah pensiun. Setelah itu ke home industry pembuatan gula kelapa, dan terakhir ke Pak Genggong yang punya peternakan lele dan peternakan ayam. 

Kotoran ayamnya tidak bau. Rumah Pak Genggong dua lantai tanpa atap, sehingga bisa ditanami kurma yang bisa berbuah. Diberi pupuk buatan sendiri. Pak Genggong adalah dosen Fakultas Pertanian di UGM Jogjakarta.       

USAHA FOTOCOPY

Saat pensiun kami mendapat pesangon dari PT Petrokimia Kayaku, Gresik, tempat kami bekerja. Saya ingin membuka usaha fotocopy. Awalnya saya tanya-tanya dulu berapa harga mesin fotocopy. Waktu itu, tahun 2014, ternyata harganya Rp 11 juta, mesin laminating Rp 1 juta. 

Kemudian ingin menerima cetak foto. Karena itu saya beli PC dan printer merk Epson L 220 yang bisa cetak foto dan scan data. Setelah peralatan tersedia, saya perlu belajar bagaimana caranya cetak foto. Maka saya cari tempat kursus di internet. Akhirnya ketemu di Kertajaya Gang IV B Surabaya. Setelah 1 bulan kursus akhirnya saya bisa mencetak foto berbagai ukuran dan mengubah background. 

Tanggal 11 November 2014 usaha fotocopy resmi dibuka, melayani: 

Fotocopy 

Pengetikan 

Scan Data 

Cetak Foto 

Penjilidan 

Laminating 

Print

Setelah 6 bulan berjalan toko saya (di rumah) didatangi orang. Dia menawari PPOB yang bisa melayani pembelian pulsa, pembelian token listrik, bayar listrik, PDAM, telepon dan FIF.    

MESIN MACET

Selama menjalankan mesin fotocopy banyak kendala yang dialami. Antara lain kertas tersangkut di mesin, tinta habis, fotocopy hasilnya hitam, hasil kurang terang, kertas tidak mau jalan. Kendala tersebut bisa diatasi dengan telepon tukang service fotocopy, sehingga tidak mengecewakan pelanggan. 

Biaya service besar. Misalnya kalau ada penggantian blits sampai Rp 500.000 plus ongkos service Rp 150.000.  Penggantian karet sil 3 biji Rp 150.000 dan penggantian drum Rp 350.000

Hal lain yang perlu dipelajari adalah perilaku konsumen yang beragam. Ada yang biasa-biasa saja, ada pula yang cerewet. Contohnya ongkos fotocopy Rp 200 masih ditawar Rp 150, kadang ditawar Rp 100. Kemudian saya jelaskan bahwa fotocopy itu untungnya tipis. Harga kertasnya saja Rp 100, belum beban listrik dan tinta.  Ada juga konsumen yang baik hati, misalnya foto copy  4 lembar diberi uang Rp 1.000. Kembalinya tidak diambil. 

Ada juga konsumen fotocopy 1 buku tidak izin orang tuanya. Setelah jadi buku tidak mau bayar karena terlalu mahal. Dari pengalaman ini saya siasati, sebelum fotocopy saya hitung dulu, saya tawarkan dengan harga sekian. Setuju apa tidak? Kalau tidak setuju ya tidak masalah.

Pengalaman lain, harga kertas terus naik. Pada waktu pertama kali buka usaha fotocopy, harga kertas A4 Rp 35.000, F4 Rp 45.000. Sekarang harga kertas A4 Rp 50.000, F4 Rp 60.000. Kadang barangnya tidak ada alias kosong, akhirnya harus mencari toko lain yang jual kertas tersebut.

PRINT WARNA

Selain fotocopy saya juga melayani print yang gambarnya dicari di Google. Umumnya konsumen dari anak sekolah SD dan SMP yang disuruh gurunya. Antara lain nge-print pakaian adat yang ada di Indonesia. Pilih 3 daerah contoh: Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Saya mematok harga 1 gambar warna Rp 3.000 per lembar. 

Anak tersebut pulang minta uang ke orang tuanya. Orang tuanya tanya berapa harganya? Rp 9.000 mahal sekali, kata orang tuanya. Akhirnya hasil cetak tidak diambil. Dari pengalaman tersebut jika ada anak minta di-print-kan gambar yang cari di Google, saya tawarkan dulu mau apa nggak dengan harga sekian.

Untuk konsumen yang ingin cetak foto dengan background diubah. Ada yang minta background warna biru diubah menjadi warna merah. Tapi ada juga yang minta background-nya bermacam-macam warna. Hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya gak jadi, untung belum saya print. Kadang minta pasfoto di-scan kemudian backgroundnya minta diganti, setelah saya scan hasilnya kurang jelas, akhirnya tidak jadi.

PEMBAYARAN PPOB

Di samping usaha foto copy, print warna, cetak foto, juga PPOB (payment point online banking). Yaitu melayani pembayaran listrik, PDAM, BPJS, telepon, dan FIF (Federal International Finance). Yang sering menjadi kendala adalah aplikasi tidak connect, sehingga konsumen menunggu lama, akhirnya tidak jadi. Kadang terkendala saldo tidak mencukupi. 

Dari pengalaman buka usaha fotocopy terpetik pelajaran berharga. Kita harus lebih siap dan waspada menghadapi masalah. Jangan gegabah, yang penting harus rajin dan tidak sembrono. Jangan gampang mengeluh. Terimalah masalahg yang ada dengan lapang dada. Mencari rezeki tidak boleh putus asa. Bagi pensiunan bisa usaha seperti ini harus disyukuri. 

Mau kerja lagi, belum tentu ada perusahaan yang mau menerima, karena usia sudah mencapai 60 tahun lebih. Itulah sekelumit kegiatan saya di rumah sehari-hari, di samping tiap 6 jam sekali memasukkan cairan dan mengeluarkan cairan sebagai pengganti cuci darah.(*) 

Penulis: Chairul Anwar, pensiunan PT Petrokimia Kayaku, Gresik, Jatim.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda