Guest Editor di Harian DisWay (11)

Membuktikan Eksistensi Tuhan

DESAIN GRAFIS: suara.com/ Ema Rohimah)

COWASJP.COM – Seorang kawan bertanya: “apakah Tuhan bisa dibuktikan?” 

Saya jawab: “Tentu saja.”

“Tapi, menurut orang ateis tidak bisa dibuktikan.”

“Ya, itu kan menurut mereka.”

“Bagi saya dan orang-orang yang bertuhan, keberadaan-Nya sangat nyata. Terbukti dalam kehidupan. Meskipun, ada juga orang yang bertuhan tidak merasakan keberadaan-Nya,” jawab saya panjang lebar.

“Tapi, kenapa menurut orang ateis, Tuhan tidak terbukti ada,” sergahnya.

“Tidak terbukti ada, ataukah terbukti tidak ada?” saya balik bertanya. 

Kedua hal itu tidak sama. ‘Tidak terbukti ada’ bermakna mereka tidak bisa membuktikan keberadaan-Nya. Sedangkan ‘terbukti tidak ada’ artinya mereka sudah membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Nah, yang terjadi pada mereka, sesungguhnya adalah ‘tidak terbukti ada’. Atau, lebih tepatnya ‘belum terbukti ada’. Bagi mereka. Tapi, itu belum tentu berlaku buat orang lain. Jadi, masalahnya cuma tidak bisa atau belum bisa membuktikan keberadaan-Nya. Bukan sudah membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

“Janganlah karena tidak berhasil membuktikan sesuatu, lantas memastikan kesimpulan, bahwa sesuatu itu tidak ada. Dan, menyatakan ke mana-mana bahwa sesuatu itu memang tidak ada. Bertanyalah kepada orang-orang yang sudah berhasil membuktikannya.”

Begitulah dialog saya dengan ateis. Bukan hanya satu dua orang. Tetapi banyak orang. Ada yang melalui tatap muka. Ada yang online via WAG dan media sosial. Atau, ada pula yang imajiner, saat membaca dialog-dialog mereka tentang eksistensi Tuhan.

Ada beberapa alasan seseorang menjadi tidak bertuhan. Ada yang merasa tidak atau belum butuh Tuhan. Meskipun di dalam hatinya merasakan ada-Nya. Yang demikian ini, suatu saat akan menghubungi-Nya. Ketika membutuhkan. Dan, mungkin kembali tidak bertuhan. Ketika merasa tidak membutuhkan-Nya. 

Inilah yang disebut sebagai ateis praktisi. Tidak bertuhan dalam praktik. Meskipun, sebenarnya percaya di dalam hati. Kelompok ini jumlahnya cukup besar. Termasuk di dalamnya orang-orang yang menyatakan dirinya beragama. Tapi tidak menjalankan dalam kehidupannya. Atau, termasuk juga kaum agnostik. Yakni, mereka yang tidak terlalu memikirkan tentang agama. Ataupun, keberadaan Tuhan.

Kelompok kedua, adalah orang-orang yang tidak bertuhan dengan alasan tidak bisa membuktikan keberadaan-Nya. Mereka sering disebut sebagai ateis teoritisi. Di mana mereka menyusun teori-teori tentang tidak adanya Tuhan. Karena, menurut mereka, Tuhan tidak bisa dibuktikan. 

ateisme.jpgPelopor ateisme, Penulis Prancis abad ke-18, Baron d'Holbach. Salah seorang pertama yang menyebut dirinya ateis. Dalam buku Système de la Nature (1770). (GRAFIS: wikipedia.org)

Kelompok ini sangat aktif menyebarkan paham ateisme. Melalui berbagai tulisan di media massa. Buku-buku. Ataupun, forum-forum perdebatan. Kebanyakan mereka memiliki kemampuan akademis yang baik. Dan menggunakan platform keilmuannya untuk menyampaikan paham ateismenya kepada orang lain. 

Dari kelompok inilah ateisme menyebar ke seluruh dunia sebagai paham dan agama baru. Yang banyak memengaruhi generasi muda. Termasuk di Indonesia. Menjadi alternatif dan pembanding bagi agama-agama tradisional. Yang didakwahkan secara konvensional. Yang seringkali, tidak memuaskan dahaga spiritualitas generasi muda.

Meskipun, ketika ditelisik lebih jauh, paham ateisme itu tidaklah kokoh secara argumentasi. Mereka sendiri tidak pernah bisa membuktikan tentang tidak adanya Tuhan. Yang terjadi adalah mereka tidak berhasil membuktikan keberadaan-Nya. Tapi, menyimpulkan sebagai tidak ada. Padahal, di dalam hatinya masih terbersit keragu-raguan.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah di dalam Al Qur’an al Karim.

“Tidak ada Tuhan, melainkan Dia. Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan orang-orang yang terdahulu. Tetapi, mereka (terus) bermain-main di dalam keragu-raguannya.” [QS. Ad Dukhan: 8-9]

Bukan hanya kepada mereka yang ragu-ragu, Al Qur’an mengingatkan. Melainkan juga kepada 
mereka yang kebablasan. Merasa sudah mengerti. Padahal, sesungguhnya belum. Yang oleh Al Qur’an disebut sebagai orang-orang yang ilmunya belum sampai. Tentang Allah. Tentang akhirat. Dan, tentang segala hal gaib yang mereka belum bisa memahaminya.

“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat belum sampai. Bahkan, sesungguhnya mereka ragu-ragu tentang itu. Lebih jauh, sebenarnya mereka buta tentangnya.” [QS. An Naml: 66]. (*) 

[Dimuat di Harian DisWay Jum'at, 25 September 2020]

Penulis: Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda