Cerita Tiga Desa “Berkawan” dengan Bencana

Rambu bahaya rawan longsor di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Tiga desa ini bak gadis yang tengah bersolek. Ketiganya saling berlomba menunjukkan kecantikannya. Mereka bersaing untuk memikat hati. Ujung-ujungnya, eh siapa tahu,  bisa menjadi pemenangnya.

Ketiga desa tersebut adalah Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Kemudian, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sedangkan yang terakhir adalah Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Saya berkesempatan menjadi salah satu anggota Tim Juri Desa/ Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) se-Jawa Timur. Lomba ini diadakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur. Kegiatan ini dihelat rutin tiap tahun.

Tiga desa tersebut menjadi tugas saya dan anggota tim lainnya untuk menilai. Tentu saja, ketiga desa itu berlomba untuk menggetarkan hati tim juri agar bisa mendapatkan nilai lebih. Syukur-syukur bisa juara tingkat Provinsi Jawa Timur. 

Semilir angin di Marengan Laok memang membuai setiap orang yang datang  ke desa pesisir ini. Ciri khas desa di pinggir laut sudah terasa. Panas. Sesekali bau ikan yang menelisik hidung. 

rizki.jpg1.jpgWawancara dengan relawan Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.(FOTO: istimewa)

“Ya, begini ini kondisi desa kami,” ungkap Kepala Desa Marengan Laok Dasuki Wahyudi, di sela-sela penjurian, Senin, 14 September 2020.

Dasuki memang hampir habis masa jabatannya. Desember mendatang dia harus lengser. Namun, upayanya untuk meningkatkan taraf kehidupan warga, terus digelorakan. Bahkan, ia ingin desanya meraih juara Destana. Ini bisa sebagai kenang-kenangan di akhir masa jabatannya.

Beberapa kali desa ini diserang banjir rob dan angin puting beliung. Maklum, di posisi pesisir pantai, serangan angin yang tetiba, bisa membuyarkan tatanan kehidupan warganya. 

Saat saya berkeliling desa, walaupun hanya sebentar, masih ada peninggalan dahsyatnya puting beliung. Sebuah rumah di dekat pesisir pantai, bagian belakangnya nyaris ambruk. Belum ada upaya perbaikan. 

“Tunggu bantuan,” tukas salah satu relawan desa yang menemani saya jalan-jalan di terik panas.

Belum lagi serangan banjir rob dari Selat Madura. Apabila tambak garam milik PT Garam sudah tertutup air laut, bahaya pun mengancam warga desa. Air laut pun akan menyerang hunian warga. Bisa seharian menunggu air surut.

Kondisi ini membuat warga desa rajin membersihkan saluran air di sekitarnya. Jika tidak, air rob akan sulit surut. Makanya, saluran air harus benar-benar bersih.

rizki.jpg2.jpgBersama relawan Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. (FOTO: istimewa)

Para relawan yang mendampingi saya memang cukup enerjik. Meski ada yang sudah sepuh, namun tetap semangat. Mereka juga mau berpanas-panas ria bersama saya melihat kondisi lapangan.
Para relawan juga rajin memotongi dahan pohon yang sudah menjuntai. Bagian ini bisa berbahaya jika tak ditebas. Jika datang angin puting beliung, dahan-dahan pohon bisa patah dan terbang terbawa angin. Bisa-bisa, dahan-dahan ini menghantam rumah atau warga di sekitarnya.

Lha kok kebetulan, tiga desa yang saya kunjungi ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Bila di Marengan Laok daerahnya pesisir pantai, lain halnya di Kelurahan Penanggungan, Kota Malang. Posisi kelurahan ini berada di dataran menengah. Saya berada di lokasi ini pada Rabu, 16 September 2020.

Sebenarnya saya sudah tak asing dengan Kelurahan Penanggungan ini. Beberapa sahabat saya semasa SMP-SMA tinggal di daerah ini. Kelurahan ini menjadi salah satu jalan pintas dari kawasan Dinoyo ke Jalan Veteran, Ijen, Semeru, dan lainnya. Demikian pula sebaliknya.

Di Penanggungan, para relawannya juga tak mau kalah. Tim Srikandi menjadi salah satu pembeda dengan desa atau kelurahan lainnya. Tim yang anggotanya perempuan ini bertugas memulasarakan jenazah Covid-19. Saya disuguhi simulasi mereka. Cukup rapi dan cermat dalam bekerja. 

Tapi yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana jika ini benar-benar terjadi. Mereka harus menangani korban Covid-19. Semoga apa yang dilakukan di simulasi bisa dilakukan juga dalam kenyataan di lapangan.

rizki.jpg3.jpgRizki Daniarto (tengah), penulis. (FOTO: istimewa)

Saya pun berkeliling ke bantaran sungai, Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Kawasan ini memang rawan longsor. Saya pun mengajak para relawan yang mendampingi turun ke bawah. Hanya beberapa meter dari bibir sungai, saya mengajak ngobrol. Saya ingin tahu seberapa tinggi air jika terjadi banjir di DAS Brantas.

Bagi saya, DAS Brantas memang sudah tak asing lagi. Semasa SMA, Jembatan Brantas yang kini terkenal dengan Kampung Warna Warni, beberapa kali menjadi salah satu lokasi latihan panjat tebing.

Rumah karantina Covid-19 pun cukup bagus. Ada ambulan yang siap sedia. Lokasinya strategis. Di pinggir jalan raya. Ini memudahkan evakuasi ke rumah sakit bila diperlukan. 

Usai dari Penanggungan, tim juri pun beranjak ke Kelurahan Temas di Kota Batu, Kamis, 17 September 2020. Temas merupakan daerah di kawasan dataran tinggi. Pertanian menjadi penopang kehidupan warganya.

“Tahun lalu kami juara untuk tingkat pratama,” ungkap Tantra Soma Pandega, kepala Kelurahan Temas yang baru berusia 33 tahun ini.

Kini, Temas naik kelas ke Madya. Kelurahan ini ingin menyabet juara lagi di tingkat Jawa Timur. Tentunya dengan kategori berbeda. Berbagai usaha dilakukan untuk memperbaiki kinerja. Termasuk dalam pengurangan risiko bencana.

Jarak Temas memang dekat dengan pusat pemerintahan Kota Batu, Among Tani. Hanya sekitar 800 meter saja. Meski dekat dengan pusat kota, warga Temas masih menggunakan kentongan untuk tanda bahaya. 

Alat komunikasi tradisional ini masih dianggap efektif untuk penanda bahaya. Apalagi, beberapa RW di Temas merupakan kawasan padat penduduk. Pengeras suara masjid dan musala juga digunakan untuk woro-woro jika ada bencana.

Beberapa kampung di Temas memang rawan bencana longsor. Bahkan, ada perkampungan yang berdiri di bawah cekungan bantaran sungai. Para relawan yang mendampingi saya menyatakan, ada semacam goa di bawah perkampungan warga. 

Rumah karantina yang dimiliki kelurahan ini cukup representatif. Ada sekitar 30 kamar yang disediakan. Sejatinya, rumah karantina ini adalah sebuah penginapan. Berhubung masa pandemi, wisatawan pun sepi. Akhirnya, oleh Pemerintah Kelurahan Temas dijadikan rumah karantina. 

Lokasinya yang nyaman dan jauh dari pemukiman, menjadi poin tersendiri. Belum lagi di sampingnya ada kolam ikan lele. Kolam ini dijadikan program ketahanan pangan warga.

Temas yang berada di dataran tinggi memang berudara sejuk. Angin semilir sesekali menerpa. Tapi, angin pula yang bisa jadi bencana. Dengan kondisi ini, warga berupaya mengurangi risiko bencana. 

Ketiga desa yang saya kunjungi memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun upaya warga dan relawan mengurangi risiko bencana patut diapresiasi. Apapun yang dilakukan jauh lebih baik daripada tak melakukan apapun. Salam tangguh!.(*)

Anggota Tim Juri Desa/ Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) BPBD Jawa Timur 2020, santri kebencanaan.

Pewarta : Rizki Daniarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda