Guest Editor di Harian DisWay (10)

Dialog Yang Semakin "Mahal"

Foto Ilustrasi: Istimewa

COWASJP.COM – Saya diundang sebagai tamu. Di acara “Dialog Positif”. Yang diasuh oleh Kang Abu Marlo. Magician dan mentalis asal Bandung, yang kini aktif di dunia dakwah.

Beberapa hari sebelumnya, Kang Abu nge-chat saya. Apakah saya bersedia menjadi tamu di acara Podcastnya. Tak perlu hadir di studionya. Cukup online. Melalui webinar Zoom. Terhubung dengan ratusan audiens. Dan ditayangkan di youtube channel secara terbuka.

Kang Abu, menyebutkan sejumlah nama yang sudah menjadi tamu sebelumnya. Di antaranya adalah Deddy Corbuzier, Sujiwo Tejo, Emil Salim, Desi Anwar, Felia Salim, Gobind Vashdev, Ryu Hasan, Wayan Mustika, Irmansyah Effendi, Romo Markus, dan Buya Syakur.

Sangat menarik. Tamu-tamu yang pernah diundang memiliki latar belakang sangat beragam. Berspektrum luas. Secara profesi. Maupun, agama dan spiritualitasnya. “Saya ingin menjembatani dialog yang positif antar berbagai elemen masyarakat,” katanya. 

Karena, menurutnya “dialog” itu kini menjadi hal yang sangat langka. Dan, “mahal”. Banyak pihak lebih menonjolkan ego pribadi. Maupun ego kelompok. Sehingga, memunculkan pertengkaran yang tidak perlu. Dan, terjadi distress di kalangan masyarakat. Yang bersifat kontraproduktif.

AbuMarlo.jpgKang Abu Marlo. (FOTO: masshar2000.com)

Maka, ketika Kang Abu menyodorkan tema “Atheis vs Tasawuf Modern” untuk acaranya, saya langsung oke. Bukan sebagai debat yang kontraproduktif. Melainkan sebagai dialog untuk membangun kepahaman antar kelompok dan golongan.

Rupanya, dia terinspirasi oleh salah satu judul buku saya. Yang berjudul: “Atheis vs Tasawuf Modern”. Salah satu buku dari “Trilogi Atheism” yang saya tulis beberapa tahun lalu. Sebagai hasil dari diskusi panjang tentang atheism. Yang saya gelar di akun facebook saya. Dengan seorang doktor mikrobiologi. Yang mengajar di sebuah perguruan tinggi di Australia.

Itulah debat antar muslim dan atheis yang santun. Tanpa emosi . Apalagi, caci maki. Dengan platform ilmiah. Dan, filsafat ilmu. Yang sangat mendalam. Sehingga, layak diterbitkan sebagai buku. Bukan cuma satu buku. Melainkan, tiga buah buku. Trilogi: “Atheis vs Tasawuf Modern”, “Ketika Atheis Bertanya tentang Ruh”, dan “Sang Atheispun Menerima Konsep Takdir”.

Acara dialog yang dipandu Kang Abu kemarin itupun jauh dari suasana panas. Bahkan, terasa sejuk. Dan, guyonan. Apalagi, memang tidak diseting dalam bentuk debat. Melainkan diskusi multilog. Dengan ratusan audiens di ruang webinar Zoom. Maupun yang hadir di youtube channel.

marlo.jpgFOTO: kompasiana.com

Saya lebih banyak bertutur tentang tema Atheisme dan Tasawuf Modern. Serta, sikap Al Qur’an terhadap kebebasan beragama. Bahkan, kebebasan untuk bertuhan atau tidak. 

Adalah menarik, di satu sisi Al Qur’an mengajak umat manusia untuk bertuhan dan beragama. Tetapi, di waktu bersamaan memberikan kebebasan memilih untuk beriman atau tidak. 

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman orang-orang di muka bumi ini, seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” [QS. Yunus: 99-100]

Dengan sangat gamblang Allah mengatakan, bahwa jika Dia mau, tidak ada orang yang tidak beriman. Semuanya beriman. Tidak ada orang jahat. Tidak ada kriminal. Tidak ada orang kafir. Dan, orang yang membangkang-Nya. Termasuk, tidak ada aneka macam agama. Seragam.

Tetapi, kenyataannya kan Allah tidak melakukan itu. Allah membiarkan manusia melakukan pilihannya. Terserah. Mau beriman boleh. Mau kafir boleh. Mau baik atau jahat, juga boleh. Meyakini agama, ataupun tak beragama juga boleh.

Lantas, apakah kita mau memaksa orang lain untuk beriman. Lha wong, Allah saja tidak memaksakan kehendak. Kok, kita mau main paksa. Tidak ada urgensinya. Begitulah, ayat di atas mengajarkan. 

Cuma, Allah mengingatkan bahwa setiap sikap dan keputusan kita ada konsekuensinya. Ada tanggung jawabnya. Dan, kelak kita bakal menuainya … (*) 

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 18 September 2020].

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda