Heboh Potensi Kerugian

Robert Budi Hartono. (FOTO: bisnis.tempo.co)

COWASJP.COM – Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menarik rem darurat dan menerapkan PSBB lagi menjadi polemik. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengkritik kebijakan itu, karena menyebabkan pasar modal terpuruk. Sehari setelah pernyataan Anies, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia anjlok 5,01 persen atau 257,9 poin. Mahfud MD, Menko Polhukam, pun menyebut negara mengalami kerugian Rp 297 triliun. Hal yang sama dikatakan Gubernur Jabar Ridwan Kamil. 

Ini menjadi lebih heboh, karena beredar surat orang terkaya Indonesia, Robert Budi Hartono, kepada Presiden Joko Widodo. Dalam surat yang pertama diunggah Peter F. Gontha di akun instagramnya ini, pemilik Djarum itu menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan PSBB.  Alasannya, PSBB tak efektif. Ada atau tidak ada PSBB rumah sakit akan penuh. 

Narasi “merugikan negara” yang digunakan oleh pejabat pemerintah ini menarik untuk dipahami dengan benar. Benarkah negara dirugikan Rp 297 triliun? Hitungan ini diambil dari turunnya kapitalisasi pasar BEI. Sehari usai pernyataan Anies, kapitalisasi pasar memang turun dari  Rp 5.979 triliun menjadi Rp 5.682 triliun atau Rp 297 triliun. 

Pernyataan Airlangga Hartarto, Mahfud MD, maupun Ridwan Kamil tampaknya lebih kental unsur politisnya. Sebab, penurunan kapitalisasi pasar di pasar sekunder seperti BEI adalah hal biasa, dan tak ada hubungannya dengan kerugian negara. Apalagi, sentimen yang menyebabkan reaksi negatif di pasar seperti ini tidak tunggal. 

Studi tentang determinan nilai perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham atau determinan bursa ada puluhan. Ada faktor eksternal, seperti keamanan, kondisi makro ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan rupiah. Juga faktor global, kondisi ekonomi AS, Jepang, China, dan juga kondisi pasar modal asing. Tentu saja, juga masalah politik. 

Kalau pun dianggap merugikan negara, tentunya “hanya” penurunan saham-saham BUMN yang sahamnya dipegang pemerintah. Ada saham BRI, BNI, Bank Mandiri, Aneka Tambang, Wijaya Karya, PP, dan belasan BUMN lainnya. 

Itu pun juga bukan kerugian riil. Hanya potential loss. Potensi rugi karena harganya turun. Ibarat kita memiliki emas yang saat beli harga per gram Rp 1 juta, dan tiba-tiba harga emas turun menjadi Rp 800.000. Itu hanya potensi kerugian. Akan rugi betul saat emasnya kita jual. Dan saat harganya naik menjadi Rp 1,1 juta per gram, tiba-tiba kita malah  untung. Potential profit. Benar-benar untung kalau kita jual. 

Harga saham di pasar sekunder memang fluktuatif. Investasi ini dipandang memiliki risiko paling tinggi dibanding investasi lain. Tentu, potensi keuntungannya juga paling tinggi. Apalagi saham-saham second atau third liner. Yang kalau naik bisa tinggi sekali. Dan jika turun bisa dalam sekali. 

jarum.jpgRobert Budi Hartono menempati ranking satu dalam daftar orang terkaya di Indonesia tahun 2018 versi Forbes. (FOTO: linksulsel.com)

Bahwa kerugian itu tidak riil bisa kita lihat bagaimana kondisi bursa kemarin. Pada penutupan perdagangan kemarin, kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp 5.983 triliun. Ini justru lebih besar daripada kapitalisasi pasar sebelum anjlok 10 September usai pengumuman PSBB. Saat itu, kapitalisasi pasar Rp 5.979 triliun.  Apa berarti Anies telah menguntungkan negara Rp 301 triliun? Tentu saja tidak. 

Pandemi Covid-19 memang berdampak cukup besar terhadap pasar modal. Sebab, pasar sekunder ini jadi tempat investasi penting bagi para fund manager. Juga masyarakat di negara-negara maju. Selama pandemi, IHSG BEI mengalami fluktuasi yang tajam. Berdasar catatan Bloomberg, IHSG menyentuh titik paling rendah dalam enam bulan ini pada level 3.937 pada 24 Maret. Sejak itu, indeks gabungan terus merangkak naik hingga kembali ke level 5.000-an pada 8 Juli. Kemarin, IHSG ditutup pada 5.134 poin.

Di Indonesia, jumlah investor saham baru 1,08 juta. Ini berarti hanya 0,44 persen dari 261 juta penduduk. Jadi, seharusnya keadaan pasar modal kita tidak perlu direaksi berlebihan. Baik saat naik tinggi atau sebaliknya. Ini sangat berbeda dengan AS yang sekitar 70 persen penduduknya menjadi investor di pasar modal. Atau Singapura yang lebih 30% penduduk jadi investor dan Malaysia (12,8%). 

Dengan fakta ini, sebenarnya dampak pergerakan pasar sekunder tak terlalu signifikan mempengaruhi masyarakat. Apalagi, pasar sekunder sebenarnya hanya mempertemukan sesama investor. Tak terkait langsung lagi dengan para perusahaan yang sahamnya diperjualbelikan. Tak ada lagi aliran uang ke perusahaan emiten yang akan menggerakkan ekonomi. Keuntungan dan kerugian di pasar sekunder hanya dirasakan para investor saja. 

Ini pula yang dirasakan orang terkaya Indonesia, Budi Hartono. Yang sampai menulis ke presiden agar tidak ada lagi PSBB di DKI. Bloomberg mencatat selama pandemi, kekayaan bos Djarum dan Bank BCA itu telah berkurang USD 3,44 miliar atau sekitar 20,1 persen. Itu sama saja dia kehilangan Rp 51,5 triliun selama 2020. 

Tapi, kehilangan – potensi kehilangan—kekayaan sebanyak itu tetap menempatkannya sebagai orang terkaya Indonesia. Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaannya per Senin (14/9)  masih US$13,7 miliar  atau Rp 205,21 triliun. Dan, dia menjadi orang terkaya ke-128 di dunia.(*) 

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Wakil Dekan II Sekolah Teknologi Maju dan Multidisiplin (STMM) Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda