Guest Editor di Harian DisWay (9)

Apakah Allah Itu Energi?

Ilustrasi Foto: Warstek.com

COWASJP.COM – Seorang kawan bertanya: “Apakah Allah itu energi?” Saya tidak langsung menjawab. Melainkan, balik bertanya: “Kenapa Anda berpikir demikian?” 

Dia memaparkan pikirannya. “Karena, Allah itu Mahakuat. Tidak berbentuk. Dan Mahakekal.”

“Bukankah energi adalah kekuatan. Tak berbentuk. Dan memiliki sifat kekal. Seperti dijelaskan oleh Hukum Kekekalan Energi?” katanya, panjang lebar. Seperti sedang curhat. 

Rupanya, pikiran itu sudah lama mengendap di dalam hatinya. Tapi, dia ragu-ragu untuk mengiyakannya. Karena itu, dia mencari second opinion. Kepada saya. Yang diduganya lebih mengerti soal energi. Dan, mungkin, soal ketuhanan.

Sayapun memberikan komentar. Kepada buah pikirannya itu. Bahwa, segala sesuatu yang mirip Tuhan, tidak selalu Tuhan. Atau, apalagi Allah. 

Misal, manusia bersifat hidup, melihat, mendengar, dan berkata-kata. Tuhan juga Hidup, Melihat, Mendengar, dan Berkata-kata. Lantas, apakah berarti manusia adalah Tuhan. Tentu bukan. Meskipun, bisa saja, ada seseorang yang mempertuhan manusia.

Atau, pohon dan gunung adalah benda yang tinggi besar. Tuhanpun bersifat Tinggi Besar. Tapi, gunung bukanlah Tuhan. Meskipun, mungkin ada orang yang mempertuhan pohon dan gunung.

Demikian pula energi. Ia adalah kekuatan penggerak jagat raya. Mulai dari partikel-partikel di skala mikrokosmos, sampai pada benda-benda raksasa, di skala makrokosmos. Sebuah kekuatan sangat dahsyat. Yang tak terkira besarnya. “Mestinya, pantaslah disebut Tuhan,” tambahnya.

Sayapun memberikan pendapat. Meskipun sama-sama kuat, ada perbedaan mendasar antara energi dan Tuhan. Energi adalah entitas yang bersifat mati. Sedangkan Tuhan adalah Hidup. Maka, apakah pantas sesuatu yang mati dipertuhan? Bertuhan kok kepada benda mati.

“Tapi, energi kan bukan benda? Dia tak berbentuk. Bahkan, kekal. Tak bisa musnah,” sergahnya. 

Di dalam pemahaman Fisika, eksistensi energi sama dengan benda. Alias, materi. Karena itu, Albert Einstein mempersamakan antara energi dan benda. Melalui rumusnya yang terkenal, E=MC^2. Bahwa, energi bisa berubah menjadi materi. Dan sebaliknya, materi bisa berubah menjadi energi.

Selain itu, soal Hukum Kekekalan Energi. Dikatakan bahwa energi tidak bisa dimusnahkan. Melainkan, hanya berubah bentuk saja. Dari energi kimia menjadi energi listrik, misalnya. Kemudian dari listrik bisa menjadi energi panas, gerak, cahaya, dan lain sebagainya. Sebaliknya, energi panas, gerak dan cahaya itupun bisa berubah kembali menjadi energi listrik.

einstein.jpgAlbert Einstein. (FOTO: Utne Reader)

Karena, seluruh energi itu sesungguhnya tunggal belaka. Hanya, kadang-kadang kelihatan sebagai energi listrik. Di waktu lain, terlihat sebagai energi panas. Di kondisi lain lagi, terlihat sebagai energi gerak. Dan lain sebagainya.

Karena sifat kekalnya itu, maka ada pikiran “jangan-jangan” Tuhan adalah energi. Atau, energi adalah Tuhan. Punya kekuatan, tak berbentuk dan bersifat kekal.

Tetapi, jika kita mau lebih jernih dan holistik memahami masalah ini, maka bisa dipastikan Tuhan bukanlah energi. Dan energi bukanlah Tuhan.

Yang pertama, karena energi adalah entitas mati. Tidak hidup. Sehingga tidak layak dipertuhan. Tidak punya kehendak. Tidak bisa diajak dialog. Apalagi, dimintai tolong.

Yang kedua, energi tidak memiliki kuasa. Bahkan, dikuasai. Dikendalikan. Oleh sesuatu yang hidup. Misalnya, oleh manusia. Dimanfaatkan untuk segala macam keperluan hidupnya. Tuhan kok dikuasai dan dikendalikan oleh makhluk.

Yang ketiga, sesungguhnya, energi pernah tidak ada. Sebagaimana ruang dan waktu, juga pernah tidak ada. Materi, juga pernah tidak ada. Yang di dalam ilmu Kosmologi dikenal sebagai “Singularitas”. Di mana, ruang-waktu-materi-energi berada pada keadaan ‘Nol’. Yakni, sesaat sebelum terbentuknya jagat raya.

Artinya, energi hanya bersifat kekal ketika jagat raya ini ada. Tetapi, ketika jagat raya ini belum ada, ataupun kelak tiada, maka energi itupun menjadi tidak ada. 

Tuhan kok pernah tidak ada. Dan kelak, juga bakal tiada …

QS. Al Qashash: 88
Janganlah kamu sembah di samping Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Segala sesuatu bakal binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala hukum. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu bakal dikembalikan.(*)

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 11 September 2020]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda