Dicekam Berita Hoax Pasar Yamuri Lumpuh

Suasana Pasar Yamuri Sutorejo, Surabaya, masih sepi. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Enam hari kehidupan Pasar Yamuri Sutorejo, Jalan Kalisari, Surabaya lumpuh. Sepi pembeli. Lebih dari 100 pedagang di pasar tradisional itu kelimpungan.

Padahal biasanya selalu ramai dikunjungi para pembeli, bahkan sampai siang. Apa penyebabnya? Para pedagang dan para pembeli dicekam berita hoax yang menyengsarakan kehidupan wong cilik. 

BERITA HOAX YANG BEREDAR:

Untuk diketahui, bagi yang beralamat di sekitar Mulyosari sampai dengan Kenjeran untuk lebih waspada. Di Pasar Mulyosari dan Pasar Yamuri ada 5 orang tewas mendadak karena terserang COVID 19, puluhan pedagang dan pengunjung lari terbirit birit. Hati-hati kalau ke Pasar Mulyosari Yamuri dan Pasar Mulyorejo ZONA HITAM. Dikuatirkan pengunjung2 (Pembantu RT yang sering berbelanja diPasar Mulyosari, ada potensi tertular, sebaiknya lakukan Swab segera)

Sumber: kabarsurabaya.org 8 September 2018.

INILAH AKIBAT FATALNYA:

Jumat 4 September sampai Rabu 9 September 2020 (6 hari) pasar tradisional Yamuri Sutorejo langsung sepi mamring (senyap). “Mereka sempat tutup total di hari pertama. Tidak jualan karena tidak ada pembeli. Alhamdulillah hari ini (Kamis 10 September) sudah mulai hidup lagi, setelah lima hari sepi,” jelas Abdul Mukti, pengelola Pasar Yamuri.

Ditemui di ruang kerjanya, Pasar Yamuri, pria asli Sutorejo ini menyebut berita hoax tersebut kali pertama di-share oleh seorang pedagang di Grup WA (whatsapp) para pedagang Pasar Yamuri. 

“Kabar burung itu di-share ke grup WA Jumat 4/09/2020,” jelas Mukti.

amunyar1.jpgTempat parkirnya juga masih sepi. (FOTO: istimewa)

Berita hoax ini meluas cepat. Para pedagang pun kian resah. Keesokan harinya langsung sepi pembeli. Seorang pedagang ikan bernama Lis Rohmah mengaku langsung stres.

“Ikan dagangan saya tidak laku sama sekali! Begitu juga di hari-hari berikutnya. Hampir semua ikan saya membusuk tak laku,” jerit ibu empat anak ini.

“Sedikit sisa ikan yang masih segar saya selamatkan dengan memanggangnya. Saya jual ikan panggangan itu di rumah,” tambah wanita berusia 38 tahun ini.

PEDAGANG MARAH

“Sampai hari ke-5 setelah hoax laknat itu berembus, saya hanya bisa menjual ikan 20 kilogram. Itupun tidak habis. Padahal jika ramai pembeli, saya bisa menjul sampai 50 kilogram,”akunya. Para pelanggannya takut masuk pasar. “Saya sudah rugi tiga jutaan. Hari Jumat dan Sabtu (4 dan 5 September) tidak ada pembeli sama sekali,” jelasnya.

Keresahan serupa juga dirasakan Ning Iin, sapaan akrab Sumar’in. Pedagang ayam potong ini mengaku penjualannya turun drastis. “Hari ini saya sedia 12 ekor saja tidak habis. Sebelum ada berita hoax itu saya bisa menjual ayam potong sampai 50 ekor. Malah kalau sampai habis, saya harus nempil-nempil milik pedagang lain,” kata Ning Iin.

Iin tidak berani spekulasi, kondisinya belum normal karena pelanggan masih belum berani ke pasar. 

“Saya juga nggak bisa melempar ayam potong yang tidak laku di sini. Kondisi ayam kalau sudah membiru sudah tidak laku. Harus dibuang,” tuturnya.

“Berita hoax itu benar-benar membunuh penghasilan pedagang Pasar Yamuri. Ini membunuh sandang pangan orang,” hujat Iin.

amunyar2.jpgSebelum masuk Pasar Yamuri tersedia tempat cuci tangan yang bersih. (FOTO: istimewa)

Haji Ismail, pemilik stan kosmetik dan asesoris membenarkan, dua pedagang barang basah itu paling besar kerugiannya. Juga pedagang sayur mayur. “Saya harap dalam waktu dekat kondisi pasar segera normal kembali.” 

Ia menyadari untuk meluruskan berita bohong tidak mudah. Kendati dia sendiri sudah membantah berita tersebut melalui media digital: Info Surabaya, E-100 dan Surabaya Digital, para pembeli tak segera ramai kembali.

Karena itu dia berharap adanya pemberitaan di media resmi ini, masyarakat paham soal benar tidaknya isu tersebut. “Wartawan sudah terjun ke lapangan dan bisa melihat sendiri di pasar ini tidak terjadi apa-apa,” ungkap bapak seorang anak ini.

LEBIH MURAH DAN BERSIH

Ismail menduga berita itu muncul karena ada oknum yang tidak suka dengan ramainya pengunjung Pasar Yamuri. Pasar yang dibangun di atas tanah 1000 meter persegi ini, menurut dia, paling disukai konsumen. 

Setiap hari pasar buka jam 5 pagi hingga jam 10 pagi tetap ramai.

“Mungkin karena harganya lebih miring (murah) dan kondisi pasarnya bersih. Lha, kok aneh, pasar sebersih ini malah diisukan ada Covid dan korbannya meninggal lima orang,” ujarnya.

“Sangat tidak logis! Lima korban Covid-19 meninggal di pasar ini secara bersamaan, kemudian orang sepasar lari terbirit-birit. Siapa yang setega itu mengarang berita sebodoh ini! Jangan gampang dipercaya,” seru H. Ismail.

Ia mengakui sebelum ada berita hoax itu, memang ada rencana petugas kesehatan dari kecamatan akan melakukan rapid test. Tapi pedagang yang di-rapid test ternyata pasar sebelah. Pasar Tempu Rejo.

“Kabarnya, di Pasar Tempu Rejo itu tiga orang dinyatakan reaktif. Mereka dikarantina dan katanya sudah bisa pulang,” jelas Ismail.

Sedangkan di Pasar Yamuri sampai sekarang belum ada pelaksanaan rapid test. “Lha, ini janggalnya. Saya berani adu argumen. Ini ada apa, wong yang dirapid test di pasar sana, kok yang diisukan ada yang meninggal di pasar sini,” jelasnya.

Lagi pula, rapid test itu dilakukan pada tanggal 1 September. Sedangkan berita yang disebarkan oknum tak bertanggungjawab itu pada tanggal 4 September. “Mana mungkin ada pasien belum diketahui positif langsung meninggal mendadak, dan lima orang lagi, Aneh bin ajaib,” ungkapnya.

Pedagang kemudian berani kembali masuk pasar setelah berdialog dan berdiskusi panjang di grup WA. “Mereka kita ajak berpikir positif saja. Kesimpulan kita berita itu hoax,” tegasnya.

Pihak pengelola Pasar Yamuri Sutorejo melapor kepada aparat keamanan. “Saya sudah melaporkan ke Polsek Sutorejo dan Danramil jika Pasar Yamuri zona hijau,” jelas Abdul Mukti, pengelola pasar.

Pengelola pasar juga sudah menerapkan protokol kesehatan sejak adanya pandemi dan anjuran pemerintah. Bahkan, berbagai pihak dari Garnisun, Polsek, dan Dinas Kesehatan dari kecamatan sering mengontrol langsung ke pasar tersebut.

Ketika wartawan media ini hendak masuk pasar sudah ada satu tangki air untuk cuci tangan di sisi kanan. Serta bak cuci tangan plus sabun di sisi kiri. Pedagang dan pembeli juga wajib pakai masker. Begitu pula dua orang juru parkir bermasker.

Bhabinkamtibmas Polsek Sutorejo, Aiptu Nasaruddin, saat dikonfirmasi media ini menyebut berita yang berkembang di kalangan pedagang dan masyarakat itu tidak benar. “Tidak ada kejadian orang meninggal di Pasar Yamuri,” tegasnya.

Informasi awalnya, menurut polisi asal Makassar ini, pihak dinas kesehatan kecamatan berencana merapid test pedagang di Pasar Yamuri awal September. Namun yang sudah dilakukan adalah di pasar sebelah. Pasar Tempu Rejo. “Pihak kecamatan sendiri belum menentukan kapan jadwalnya untuk Pasar Yamuri dilakukan,” katanya.

Hasil rapid test di Pasar Tempu Rejo, katanya, terdeteksi tiga pasien dinyatakan reaktif dan harus melakukan isolasi mandiri. “Sudah dua minggu ini mereka menjalani pewatan intensif,” jelasnya.,

Tentang muasal isu di Pasar Yamuri itu, kata Aiptu Nasaruddin, berawal dari seorang pedagang yang ditelepon pelanggannya menanyakan perihal berita hoax tersebut. Si pedagang itu hendak bertanya ke pengelola pasar, Abdul Mukti. Namun, dia keliru menge-share di grup WA pedagang.

“Saya sudah minta dia mengklarifikasi dan meminta maaf. Dia juga sudah menghapus semua berita hoax itu,” ujarnya. Dan, Aiptu Nasaruddin menganggap persoalan sudah selesai. Tidak perlu ada yang harus diproses secara hukum.

Dia mengimbau kepada masyarakat, khusus pedagang, agar dalam situasi saat ini jang mudah termakan isu. Jika ada berita yang tidak jelas hendaknya dikonfirmasikan dulu. Bisa melalui telepon.

“Jangan langsung menge-share ke grup WA. Saat ini, berita-berita soal covid sangat sensitif,” pesan Nasar saat menemui media ini di rumah Abdul Mukti, Kamis 10/09/2020. (*)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda