Guest Editor di Harian DisWay (8)

Allah Mengizinkan Mereka Mencuri

COWASJP.COM – Seorang kawan bertanya. Kenapa Allah membiarkan ada pencurian? Membiarkan perampokan. Korupsi. Perzinahan. Pembunuhan. Penindasan. Dan segala macam kriminalitas. Apakah Allah tidak tahu itu semua? Apakah Allah tidak berkuasa untuk menghentikannya?  

Tidak jarang, ada pertanyaan semacam itu. Yang diajukan kepada saya. Di dalam forum. Secara online. Ataupun, tatap muka secara pribadi. Yang semua itu menggambarkan kerancuan, dalam pola pikir ketauhidan. Karena, memunculkan paradoks. Dan, kontradiksi dalam memahami agama. Dan akhirnya, berdampak pada sikap keseharian.

Ketauhidan adalah pondasi keyakinan Islam. Di mana kepahaman terhadap segala peristiwa mesti dikaitkan dengan Allah. Sebagai Tuhan. Yang mencipta. Yang memelihara. Yang memproses. Dan memutuskan. Serta menetapkan segalanya. Tidak ada satu peristiwapun yang terjadi di luar pengetahuan-Nya. Dan, di luar izin-Nya.

Lantas, ini memunculkan konsekuensi yang kompleks. Bagi yang belum mempelajari ketauhidan. Dan, memahaminya. Dan memraktekkan dalam keseharian. Karena, bisa memunculkan salah persepsi terhadap Tuhan. Yang katanya Mahabaik. Maha Pemurah. Mahaadil. Dan Maha Sempurna.

Dalam pandangan umum, mestinya Tuhan hanya terkait yang baik-baik saja. Sedangkan yang buruk, jelek dan jahat, adalah dari setan. Bahkan, dari Iblis. Dan Tuhan tidak layak berada di situ. Dengan demikian, Tuhan lantas dipersepsi berlawanan dengan iblis. Dan balatentaranya: setan. 

Sesungguhnya, inilah pemahaman yang justru bermasalah. Kurang tepat dalam menyimpulkan. Menyalahi ketauhidan. Karena, Iblis itu adalah makhluk Allah. Ciptaan Allah. Bukan musuh-Nya. Justru, aparat. Yang diciptakan untuk menempati peran antagonis. Bagi manusia. Dengan kata lain, iblis adalah musuh manusia. Bukan musuh Tuhan.

Ia ciptaan Tuhan. Yang ditugasi khusus. Untuk menyesatkan manusia. Agar membangkang kepada Tuhan. Melakukan kejahatan-kejahatan. Keburukan-keburukan. Mengujinya. Apakah masih tetap taat berbuat kebajikan. Ataukah, berbuat kejahatan. Tetap taat kepada Allah, ataukah mengingkari-Nya.

Maka, Al Qur’an menggambarkan. Bahwa, untuk tugas khusus itu iblis meminta izin kepada Tuhan. Untuk diberi umur panjang. Agar leluasa menyesatkan umat manusia. Semuanya. Dan ternyata, Allah mengizinkan.

ingkar.jpgTiga jalan di kandungan Surat Al Fatihah. 1.Jalan orang-orang yang diberi nikmat. 2.Jalan orang-orang yang dimurkai Allah. 3.Jalan yang sesat. DESAIN: Santos Blog

 

Iblis meminta: "Berilah saya umur panjang, sampai waktu mereka dibangkitkan (di hari pengadilan kelak). Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh (umur panjang).” [QS. Al A’raf: 14-15]

Dan, bukan hanya umur panjang. Iblis juga meminta kewenangan untuk menyesatkan manusia. Dan, Allah pun mengizinkan.

“… Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Tuhan berfirman: "Silakan. Barangsiapa di antara mereka mengikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahannam akan menjadi balasan buat kamu semua ..” [QS. Al Isra’: 62-63]

Betapa gamblang dan menarik, Al Qur’an menceritakan dialog Iblis dengan Tuhan. Di banyak ayat. Di mana, Iblis juga mengatakan akan menyesatkan manusia dengan bersandar pada Kekuasaan dan Kemuliaan-Nya.

“Iblis berkata: "Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” [QS. Shaad: 82-83]

Ringkas kata, Allah mengizinkan perbuatan jahat. Oleh Iblis. Maupun oleh manusia. Para pengikut Iblis. Tetapi, Allah memberikan konsekuensi atas segala perbuatan itu. Bahwa, perbuatan jahat akan menghasilkan neraka. Pada akhirnya.

Jadi, apakah Allah mengizinkan seseorang mencuri? Tentu saja. Dipersilakan. Bahkan, untuk berbuat apa saja. Yang dimauinya. Cuma ingat, ada balasannya. Ada hukum-Nya. Bahwa, para pencuri akan memperoleh balasan buruk atas kejahatannya. Sebaliknya, para pelaku kebajikan akan memperoleh balasan kebajikan pula. Setiap diri bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Begitulah firman-Nya.

“Bagi siapa saja di antara kalian, yang mau maju (berbuat baik) ataupun mundur (berbuat buruk). Setiap diri bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.” [QS. Al Mudassir: 37-38]. (*) 

(Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 4 September 2020)

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda