Guest Editor di Harian DisWay (7)

Selangkah Lagi Kalender Global

FOTO: manado.tribunnews.com

COWASJP.COM – Umat Islam sudah punya kalender Hijriyah. Sendiri-sendiri. Masing-masing kelompok. Sesuai kebutuhannya. Yang bisa berbeda hari. Berbeda bulan. Berbeda tahun. Antar kelompok itu. 

Bisa jadi, mereka berada di negara yang berbeda. Tapi, bisa juga di negara yang sama. Bahkan, di kota yang sama. Bertetangga. Tapi berbeda hari, berbeda bulan, berbeda tahunnya. Sebagai patokan aktivitasnya. Aneh. Tapi Nyata.

Dulu, di zaman Rasulullah, itu tidak terjadi. Begitu pula di zaman Khulafaurrasyidin. Pun di zaman Bani Umayah dan Abbasiyah. Semua umat Islam di mana pun berada, menggunakan kalender yang sama. Teratur administrasinya. Tertata waktu ibadahnya.

Tapi, sejak abad 13 kalender Hijriyah meredup. Seiring runtuhnya Bagdad. Seiring terpecah belahnya wilayah pemerintahan Islam. Seiring bermunculannya banyak kelompok politik. Dan aliran-aliran. Sekte-sekte. Kepentingan-kepentingan. Bahkan, metode-metode. Yang ilmiah maupun yang tradisional.

Upaya penyatuan kembali Kalender Islam sesungguhnya sudah lama dilakukan. Di tahun 1978 misalnya, di Turki diadakan konferensi antar negara Islam. Membahas soal penyatuan kriteria. Yang banyak macamnya itu. Hasilnya: sepakat. 

Bahwa, bulan baru Hijriyah dikatakan sudah terjadi jika memenuhi dua kriteria. Yang pertama, jarak sudut antara matahari dan bulan minimal 8 derajat. Dan yang kedua, ketinggian bulan di atas ufuk minimal 5 derajat. Keduanya mesti terjadi saat maghrib.

Lantas, apa yang terjadi setelah kesepakatan itu? Tidak ada negara yang menjalankannya. Sampai sekarang. Kecuali, Turki. Dan, Dewan Riset dan Fatwa Eropa, yang diketuai oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Kalendernya diberlakukan di kawasan Eropa.

Sedangkan Dewan Fikih Amerika Utara misalnya, lebih memilih mengikuti kalender Ummul Qura. Yang ditetapkan oleh Arab Saudi. Dengan alasan, bulan baru pasti terjadi di kawasan Amerika Utara, jika hilal sudah terlihat di Arab Saudi.

agus-mustofa-kesepaktan1.jpgFOTO: Republika.

Yang lain, memilih membagi wilayah Bumi dalam kategori “Timur” dan “Barat”. Benua Amerika utara dan selatan masuk wilayah Barat. Sedangkan Eropa, Afrika, Asia dan Australia masuk wilayah Timur. Jika bulan sabit terlihat di sebagian wilayah, maka seluruh wilayah itupun sudah masuk bulan baru.

Yang lainnya lagi, membagi berdasar waktu terjadinya konjungsi alias ijtima’. Yakni, berpedoman pada jam 12:00 GMT. Jika konjungsi terjadi di suatu wilayah sebelum jam itu, maka dipastikan esok hari adalah bulan baru. Kriteria ini dimaksudkan untuk memastikan usia bulan di atas 12 jam. Sehingga, terlihat di kawasan Amerika dan Pasifik.

Sedangkan Indonesia, memilih membuat kriteria sendiri bersama negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Dinamakan kesepakatan MABIMS: Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura. Yakni, ketinggian hilal minimal 2 derajat. Jarak sudut antara bulan dan matahari minimal 3 derajat. Umur bulan minimal 8 jam. Pada saat maghrib.

Tetapi, pada praktiknya, masing-masing negara masih melakukan adaptasi sesuai kebutuhan. Sehingga, jatuhnya Ramadan dan Syawal di antara negara-negara inipun bisa berbeda. Seperti tahun 2011. Di mana, Malaysia dan Singapura beridul fitri pada tanggal 30 Agustus. Sedangkan Indonesia dan Brunei tanggal 31 Agustus.

Jadi, sebenarnya masalah kalender adalah soal kesepakatan. Bukan sepenuhnya soal hitung-hitungan, alias hisab. Ataupun, soal bukti pengamatan, alias rukyat. Sekali lagi: kesepakatan. Di antara penggunanya. Bahwa kemudian, saat penentuannya ada kriteria hisab dan rukyat itupun bisa disepakati. Dan, semestinya disepakati. 

Maka, kapankah umat Islam duduk bersama kembali? Untuk menyepakati langkah besar ini.Ya, cuma butuh satu langkah saja: bersepakat. Maka, kalender Hijriyah pun bakal bersinar kembali. Di muka Bumi. InsyaAllah …  (Dimuat di harian DisWay, Jum'at, 28 Agustus 2020)

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda