Orang Besar di Kalangan Siapa Saja

COWASJP.COM – Alhamdulillah, Pak Dahlan Iskan, Sang Begawan Media, berkenan menuliskan kata pengantar untuk buku tentang lakon "Prabu Kantong Bolong" Soeryadi. Judul: Sesekali Jadi Orang Penting. Suatu kehormatan bagi Soeryadi. Pak Dahlan mantan Big Boss-nya di Jawa Pos Group. Inilah kata pengantar beliau:

Suryadi adalah orang besar di kalangan orang kecil. Juga di kalangan siapa saja - - di kantor saya dulu. 

Maka pantas sekali kalau orang besar mendapat perhatian besar. Termasuk diterbitkannya buku yang tidak saya sangka-sangka ini. Yang saya sampai tertawa-tawa ketika membaca draftnya.

Saya tidak bisa berhenti membaca buku tentang orang besar yang tubuhnya kecil ini. Sambil menerima telpon pun saya tetap membacanya. Tidak selesai saya baca di rumah saya bawa ke mobil. Saya baca di mobil - -menuju kantor. Di kantor saya baca sambil menunggu rapat. Setelah rapat saya baca lagi di mobil. 

Waktu draft buku itu sampai di Harian Disway, saya pikir itu bukan draft. Saya pikir buku itu  sudah benar-benar terbit. Maka setelah selesai membacanya saya cari-cari halaman 'Pengantar Buku oleh Dr Dhimam Abror'. Sebenarnya sejak awal pun saya ingin membaca tulisan Abror lebih dulu. Saya suka membaca tulisan Abror. Termasuk pasti ada unsur kocaknya. Itulah ciri khas tulisan yang berdiri modern.

sur.jpgSoerijadi (kiri) setelah acara podcast dengan Dahlan Iskan (kanan) di Markas Harian DI's Way. (FOTO: istimewa)

Tapi karena saya tidak menemukan maka saya baca isinya. Nama Abror saya lupakan dulu. Dan benar-benar lupa - -saking asyiknya membaca semua isi buku ini. Setelah selesai saya kembali ingat nama Abror. Saya cari lagi di bab-bab lain. Tidak ketemu juga. Saya tidak percaya dengan pencarian saya. Maka saya buka daftar isi. Saya cari di halaman berapa - -menurut daftar isi tersebut. 

Saya pun membuka halaman yang dicantumkan di daftar isi itu: tidak ada. Saya pikir buku ini cacat - -ada halaman yang tercecer. 

Keesokan harinya saya baru tahu: buku itu belum yang sebenarnya. Mas Slamet Oerip  Prihadi WA ke saya: apakah sudah menerima draft buku tentang Suryadi. Sekalian menanyakan apakah saya bisa ikut membuat kata pengantar.

Oh... Buku itu masih draft. 

Saya pun tidak segera menjawab. Sebenarnya saya mau asal pengantar dari Abror tetap ada. Saya tidak malu meskipun akan kalah mutu. Setidaknya akan kalah lucu.

Maka jadilah kata pengantar ini. Lewatkan saja. Langsung saja baca isi buku ini. Atau baca dulu tulisan Abror. 

Salah satu bukti bahwa Suryadi itu orang besar adalah ini: namanya sering dibahas di rapat direksi. Pembahasan tentang orang besar ini sering dilakukan sambil menunggu lengkapnya peserta rapat. Kadang peserta sudah lengkap pun pembahasan tentang Suryadi masih diteruskan.

abror-28573a.jpgKenangan indah seorang bawahan Soerijadi mengalungkan medali penghargaan di leher CEO Jawa Pos kala itu. Ketika kohesi persatuan masih sangat kuat. (FOTO: istimewa)

Tanpa membahas Suryadi rapat direksi akan terlalu serius. 

Suryadi adalah joker yang tidak ada matinya. Adakah Suryadi mewakili profil sosiologi Arek Suroboyo? Saya bukan ahli sosiologi yang bisa mengikhtisarkannya.

Ia rendah hati. Tapi berani. 

Ia berani tapi santai. 

Ia santai tapi pekerjaannya selalu beres. 

Ia orang beres tapi suka usil. 

Ia usil tapi jujurnya bukan main.

Termasuk jujur dalam berkata-kata. Ia suka ceplas-ceplos dengan jenakanya. Karena itu, saya suka menggunakan namanya untuk memarahi anak buah. Kalau ada karyawan yang salah sering saya ancam: Anda nanti dimarahi Suryadi lho!

Maka bab tentang Suryadi saya ikutkan dalam rapat direksi, itu benar adanya. Baca sendiri penuturannya.

Demikian juga bab tentang bagaimana Suryadi saya minta mewakili saya untuk memberikan pidato direktur utama di acara ulang tahun itu.

Pidatonya lebih menarik dari pidato saya. Bahkan target pencapaian perusahaan yang ia tetapkan lebih berani dari kebiasaan saya memberikan target. 

Sampai-sampai ada yang teriak di sela-sela pidatonya itu: Saya tidak mau Suryadi jadi Dirut! Matek kita-kita!

Saya kenal Suryadi sejak dari bapaknya. Pak Ni (Riani, red) . Bapaknya adalah orang yang mengabdi di Jawa Pos sejak saya belum lahir. Ketika saya memimpin Jawa Pos Pak Ni sudah sangat tua. Badannya kurus sekali. Jalannya sudah agak membungkuk. Nafasnya sudah kelihatan berat.

Kami sering membicarakan kebaikan Pak Ni. Yakni pesuruh abadi di sepanjang hidupnya. 

Saya tidak mau semua orang seperti itu. Tapi kami tidak mau memberhentikannya.

Ada lima orang yang kami bertekad tidak akan memensiunkan mereka. Dengan alasan: mereka orang baik dan penuh pengabdian. Juga karena kami berpikir: kalau mereka pensiun bagaimana keluarga mereka bisa hidup. 

Tapi Pak Ni itu miskin sekali. Tanpa pensiun pun Pak Ni akan meninggal di suatu saat. Lalu siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga itu. 

Maka muncul ide untuk mempekerjakan anak Pak Ni. Sekaligus agar bisa magang sebagai OB. Maka bapak anak ini bekerja sebagai OB secara bersamaan. 

Pak Ni kian tua. Suatu saat Pak Ni sendiri yang pamit ingin berhenti. Ia bilang anaknya sudah bisa menggantikannya sebagai OB. 

sur1.jpg

Dengan pertimbangan kesehatan kami pun menyetujui. Toh sudah ada tulang punggung baru. 

Pak Ni bukan kami pensiunkan. Pak Ni memensiunkan diri. 

Awal menjadi pimpinan Jawa Pos saya kaget menghadapi Pak Ni ini. Ia selalu memanggil saya 'Tuan Besar'. Kalimat pertamanya selalu didahului dengan kata 'Tuan Besar'.

Misalnya: 'Tuan Besar, makanannya sudah siap'. Itu kalau saya lagi minta tolong padanya untuk membelikan makanan. 

Hari itu ia langsung berhenti menyebut saya tuan besar. Saya temui beliau yang lagi membersihkan tangga ke lantai dua di Jalan Kembang Jepun. Saya minta ia untuk tidak lagi memanggil saya tuan. Apalagi tuan besar. Saya tahu itu kebiasaan lamanya memanggil bos di situ. Tapi saya tidak mau. "Saya risi sekali," kata saya. 

Di hari kedua ia sudah memanggil saya 'pak'. Tapi ia tidak bisa mengucapkan kata 'dahlan'. Maka ia memanggil saya 'Pak Dakelan'.

Saya tidak apa-apa dipanggil begitu. Ayah saya pun memanggil saya 'Dakelan'. Lidah Jawa-kuno tidak biasa dengan bunyi huruf 'h' di tengah atau di belakang kata. 

Saya ingat banyak sekali wartawan Jawa Pos kala itu menulis kata 'sudah' tanpa huruf 'h'. Demikian juga kata 'mudah' menjadi 'muda'.

Kejujuran Suryadi menurun dari bapaknya. 

Kejujuran itulah yang membuat Suryadi 'naik pangkat' ke bagian keuangan. Ia tidak pernah menyelewengkan uang tagihan.

Kejujuran itu pula yang membuat Suryadi naik pangkat lagi menjadi Dirut. Yakni ketika ia ditugaskan menjadi bagian penerima iklan di kantor Jalan Kembang Jepun. Itulah kantor lama yang sudah ditinggalkan, tapi masih difungsikan untuk perwakilan penerimaan iklan. 

Di situ hanya ada dua karyawan. Suryadilah yang posisinya tertinggi. Jadilah ia Dirut di kantor Kembang Jepun itu. 

Suryadi akhirnya menjadi Dirut - -kalau Dirut itu adalah orang paling berkuasa di satu kantor. 

Mungkin ia Dirut yang tidak sempat memanggil OB untuk rapat direksi.

Dan yang jelas, saya kalah dari Suryadi. Saya 'pensiun' lebih awal dari kantor itu.

Hidup Suryadi! (*)

Oleh: Dahlan Iskan, Sang Begawan Media.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda