Soeryadi, Prabu Kantong Bolong

FOTO ILUSTTRASI: Istimewa

COWASJP.COM – Minggu pagi (23/8/2020) yang cerah. Notifikasi berdenting di HP. Saya buka, ada pesan whatsapp (wa) dari Soeryadi. "Saya mau bikin buku, tolong sampean bikinkan kata pengantar".

Langsung saya jawab, "Oke, tolong kirim judul buku dan naskahnya". 

BACA JUGA: Vaksin Merah Putih

Tak lama, Soeryadi mengirim gambar cover buku. Dia memakai baju kotak-kotak, dasi merah yang terlalu gede untuk ukuran badannya yang imut, dan duduk methingkrang seperti ayam di kursi kulit.

GPL (gak pake lama), saya langsung balas, "Iki judule pengantar wis dadi, Soeryadi, Petruk Dadi Ratu".

"Wah...mantaap..." Soeryadi membalas sambil mengirim tiga emotikon jempol dan orang tertawa mangap. 

"Nanti jam 11 00, saya ke rumah sampean kirim naskah buku".

abror-2.jpgSebagai raja semalam Soeryadi mengalungkan medali penghargaan kepada CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, kala itu. (FOTO: istimewa)

"Nanti malam jam 19 00 saja kamu ke rumah, kata pengantar sudah jadi."

"Soeryadi, isuk pesen bengi dadi..." kata Soeryadi menutup dialog.

Saya tidak perlu menunggu naskah buku Soeryadi untuk menulis kata pengantar ini. Kisah-kisah Soeryadi selama kira-kira 25 tahun bekerja di Jawa Pos sudah menjadi legenda folklore, cerita rakyat, di kalangan karyawan.

Bukunya diberi judul: "Sesekali Jadi Orang Penting", berisi pengalaman-pengalaman unik dan lucu Soeryadi selama mengabdi Jawa Pos. Ia menghabiskan karirnya sebagai OB alias office boy. 

Ia menjadi saksi sejarah sejak Jawa Pos menapaki hari-hari perjuangan di Karah Agung sampai puncak kejayaan di Graha Pena, dan sampai sekarang ketika Jawa Pos berjuang keras mempertahankan eksistensinya.

abror-3.jpgSoeryadi ketika bertamu ke markas Nyata bertemu Boss Nany Wijaya. (FOTO: istimewa)

Soeryadi bukan OB biasa. Tak seperti umumnya OB yang berkutat di pantry, Soeryadi bergaul dengan siapa saja mulai dari karyawan rendahan sampai ke level direksi. Mulai dari divisi percetakan, sampai ke redaksi.

Tak banyak yang rajin membaca seperti Soeryadi. Dia membaca buku "Kiamat 2012" tulisan Lawrence E. Joseph, yang bercerita mengenai kiamat yang diprediksi terjadi pada 21-12-12 sesuai keyakinan bangsa Maya, dan ternyata meleset

Karena keunikan inilah Dahlan Iskan, founder Jawa Pos Group pada suatu kesempatan acara tahunan mendapuk Soeryadi untuk menyerahkan piagam penghargaan kepada karyawan yang berprestasi. Tidak tanggung-tanggung, Soeryadi menyerahkan penghargaan kepada Dahlan Iskan sendiri yang waktu itu menjabat CEO.

Soeryadi jadi raja sehari. Ia seperti Petruk Dadi Ratu lengkap dengan gelar kebesaran Prabu Kantong Bolong. Soeryadi Sang Prabu Kantong Bolong sakunya tetap kosong blong meskipun malam itu jadi ratu.

abror-4.jpgSoeryadi berdasi merah diapit penulis Cak Fuad Ariyanto (kiri) dan Yarno (kanan). (FOTO: istimewa)

Petruk, sebagaimana Soeryadi, mendekonstruksikan kekuasaan. Kekuasaan yang sangar di mata Soeryadi menjadi biasa-biasa saja. Ia nyaman dan pede saja bergaul dengan semua level. Ia melakukan budaya perlawanan yang khas dengan caranya sendiri.

Senjata utamanya adalah OCC, alias obong-obong congor (membakar mulut). Ini sebutan khas suroboyoan untuk orang yang merokok, sebagaimana kalangan santri menyebut perokok sebagai "ahli hisab" dan "suni" (nyusu geni, menyusu api).

Sebutan OOC juga plesetan sekaligus budaya perlawanan halus sebentuk civil obodience terhadap kekuasaan. Ada aturan keras dilarang merokok di Jawa Pos dengan sanksi keras sampai pencabutan asuransi kesehatan bagi pelanggarnya.

Aturan ini dikeluarkan oleh CEO (chief executive officer) sebagai pemegang mandat tertinggi di hirarki perusahaan. Di bawah CEO ada COO (chief operational officer) dan level-level lain di bawahnya.

Jamak di manapun, aturan yang keras memunculkan perlawanan terbuka maupun tertutup. Kali ini perlawanan terhadap larangan merokok dilakukan tertutup dan diam-diam melalui budaya perlawanan dengan membuat istilah OOC (obong-obong congor) untuk memelesetkan jabatan CEO atau COO.

Budaya perlawanan ada sejak era kekuasaan raja-raja Mataram. Kuntowijoyo mengisahkan dalam "Raja, Priyayi, dan Kawula" (2004). Seorang rakyat jelata di Surakarta pada awal 1900 mengumumkan ditemukannya sumur ajaib di pekarangannya. Air sumur diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Maka berduyun-duyunlah masyarakat datang ke sumur ajaib itu. Kraton marah oleh kejadian itu dan sumur itu ditutup dengan paksa karena dianggap menyaingi kraton sebagai satu-satunya pusat kekuasaan tempat rakyat harus meminta perlindungan dari semua kesulitan hidup termasuk dari pagebluk dan aneka macam penyakit.

Sumur ajaib adalah sebentuk budaya perlawanan terhadap keterpusatan kekuasaan Kraton, dan karena itu budaya tandingan itu harus diberangus.

Di Afrika, masyarakat tradisional melakukan protes tersembunyi terhadap kekuasaan. Ketika raja lewat seseorang di tengah kerumunan akan kentut dengan keras.

abror-5.jpgBerkunjung di kantor Yamin Hamid (paling kanan), mantan legal Jawa Pos. (FOTO: istimewa)

Aktivitas OOC Soeryadi dan kawan-kawannya adalah sejenis sumur ajaib atau kentut Afrika itu. Ia adalah perlawanan subtle, halus, terhadap kekuasaan. OOC adalah ketangguhan, resilience, orang-orang kecil terhadap kepenatan hidup sehari-hari yang muncul dari kekuasaan.

Sikap tangguh, resilient itu, muncul dalam bentuk keberanian menertawakan kekuasaan melalui aksi-aksi rakyat, folklore, yang lucu tapi kadang sarat dengan nilai-nilai kebijaksanaan lokal, local wisdom.

Di masa otoritarianisme Pak Harto orang melawan rezim melalui joke-joke politik yang lucu. Di zaman Orde Baru itu dokter gigi pada bangkrut tidak laku, karena orang tidak berani buka mulut. 

Sekarang era digital. 

Prabu Kantong Bolong dianggap naif, tapi ia berhasil mendekonstruksi kekuasaan seperti Presiden Gus Dur yang menjadikan istana jadi tempat kunjungan religi para kiai. Para kiai boleh bebas masuk keluar Istana. Gus Dur bisa menemui para kiai dengan bersarung dan besandal jepit.

Gus Dur adalah Petruk Dadi Ratu, Prabu Kantong Bolong yang menjadikan kekuasaan sebagai sesuatu yang profan, duniawi, tidak langgeng, bukan wahyu kedaton atau wangsit yang turun dari langit.

Banyak yang keliru menganggap kisah "Petruk Dadi Ratu" adalah contoh pemimpin yang tidak kompeten karena tidak mempunyai pengalaman politik yang cukup.

Interpretasi itu kurang tepat. Petruk Dadi Ratu justru menunjukkan keberanian seorang rakyat jelata untuk membongkar kekuasaan status quo yang oligarkik. 

Petruk bukan siapa-siapa, dia hanya rakyat kecil. Tapi, justru rakyat kecil itulah yang menjadi sumber legitimasi kekuasaan. Dalam konsep demokrasi modern rakyat menebang legitimasi tertinggi melalui daulat rakyat yang memberikan mandatnya kepada seseorang melalui pemilihan umum yang bebas dan terbuka.

Vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, karena manusia berada di dunia mengemban amanat kekhilafahan.

Petruk tidak kemaruk kekuasaan. Ia menjadi Prabu Kantong Bolong hanya semalam. Tapi, dalam waktu sesingkat itu ia menginvasi kayangan Jonggring Saloko, tempat bersemayam para dewa elite yang oligarkis. Prabu Kantong Bolong mengobrak-abrik kayangan sampai para dewa yang korup menjadi kapok.

Sebelum fajar menyingsing Prabu Kantong Bolong kembali turun ke bumi. Bersamaan dengan matahari menyingsing wahyu kedaton menghilang dan Petruk kembali ke jatidiri asal sebagai punakawan yang berkantong bolong.

Jabatan hanya sekejap, sebentar datang, sebentar pergi. Tak perlu ada dinasti untuk menjadi pejabat negeri. Keluarga Soeryadi sudah membangun dinasti tersendiri. Pak Rijani, bapaknya Soeryadi, berprofesi sama dengan Soeryadi sebagai pembantu umum di kantor Jawa Pos era Kembang Jepun, 1980.

Indonesia Maju yang menjadi jargon ulang tahun kemerdekaan ke-75 tahun dipertanyakan karena munculnya politik dinasti. Bukan Indonesia yang maju, tapi anak dan menantu yang maju di pilkada.

Kekuasaan politik diburu dengan berbagai cara. Politik uang, NPWP, nomer piro wani piro (nomor berapa, berani berapa) seolah menjadi norma yang umum.

Prabu Kantong Bolong membongkar praktik-praktik itu. Kekuasaan yang nisbi tak perlu diburu dengan menghalalkan cara ala Machiavelli.

Filosofi kekuasaan yang nisbi ala Petruk itu seyogyanya berlaku di mana pun, termasuk di Jawa Pos tempat Soeryadi mengabdi sebagai punakawan.

Jabatan adalah profan. Hari ini seseorang jadi batur, pesuruh, besok bisa jadi direktur. Anda boleh bikin jabatan apa saja di Jawa Pos. Silakan cantumkan jabatan apa saja di kartu nama, asal tidak minta gaji naik. Jabatan direktur bisa menjadi "direken batur", dianggap batur.

Apa yang patut dibanggakan dari jabatan. Apa artinya menjadi atasan kalau tidak ada bawahan. Coba bayangkan bagaimana atasan tanpa bawahan, apa berani dia keluar ke jalan..

Karyawan bawahan sering lebih dipercaya daripada atasan yang sering berdiplomasi. Misran -- cs kental Soeryadi dari bagian keuangan -- lebih dipercaya oleh karyawan dibanding eksekutif keuangan JP lainnya. 

Misran tidak pernah bohong atau memanipulasi informasi. Setiap kali karyawan melihat Misran memanggul tas ransel menuju Bank, karyawan tahu bahwa saat gajian sudah tiba, atau akan ada bonus tambahan. Misran, seperti merpati, tak pernah ingkar janji.

Soeryadi dan Misran seperti pasangan ganda putra, ke mana-mana berdua. Di lapangan bola pun Misran-Soeryadi kompak bekerja sama. Misran berposisi bek kiri dan Soeryadi sayap kiri. Dua-duanya pemain PS Askring, Asal Keringetan, Jawa Pos yang tidak tergantikan. 

Rambut Soeryadi yang disemir merah membuatnya dijuluki sebagai Hidetoshi Nakata, bintang sepakbola asal Jepang. Gerakan Soeryadi menyulitkan lawan. Tapi, lebih sering gerakannya menyulitkan kawan sendiri.

Akan halnya Misran, si bek tangguh. Prinsipnya, bola boleh lewat tapi rasakan dulu dengkulku. Mainnya tak kenal kompromi. Bahkan, Azrul Ananda, Sang Putra Mahkota, harus gantung sepatu selamanya gara-gara nekat mendrible bola melewati Misran. Akibatnya fatal, bola lewat tapi dengkul Azrul harus dioperasi.

Pikir Misran, kapan lagi menghajar direksi kalau bukan di lapangan bola. Budaya perlawanan karyawan terjadi di mana-mana, termasuk di lapangan bola.

Kisah-kisah jenaka penuh makna itu terkumpul di buku ini. Mungkin buku ini layak masuk rekor MURI atau bahkan Guiness Book of Records. Inilah satu-satunya buku yang kata pengantarnya sudah jadi sebelum dipesan penulisnya.

Seperti kesaktian Nabi Sulaiman yang bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam sekejap mata, kata pengantar ini selesai dengan cepat karena kesaktian Sang Prabu Kantong Bolong.

Saya gembira bisa memenuhi perintah Soeryadi, Sang Prabu Kantong Bolong. (*)

 

Oleh: Dr. Dhimam Abror Djuraid, Mantan Pimred Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda