Guest Editor di Harian DisWay (6)

Merindukan Kalender Hijriyah Internasional

FOTO ILUSTRASI: FOTO: kompasiana.com

COWASJP.COM – Memasuki Tahun Baru 1442 H, mengingatkan saya kepada Thierry Legault. Ia seorang astrofotografer berkebangsaan Prancis. Yang memecahkan rekor dunia. Memotret bulan sabit paling tipis. Di pagi hari. Tanpa menunggu tenggelamnya matahari di saat maghrib.

Ia pernah saya undang ke Indonesia. Untuk memberikan workshop kepada puluhan calon astrofotografer di sini. Agar bisa memotret bulan sabit tipis. Yang menandai datangnya bulan baru Hijriyah. Seperti yang terjadi kemarin, Rabu, 19 Agustus 2020. Pada pukul 02:41 GMT alias 09:41 WIB.

BACA JUGA: Provokasi Tauhid di Meja Makan

Rabu pagi itu, kalender Hijriyah 1441 berakhir. Dan sekaligus memasuki tahun baru 1442 H. Itulah saat wajah bulan sabit lama menghilang. Dan sesaat kemudian nongol kembali. Dalam bentuk sabit yang paling tipis.

Begitulah yang terjadi. Setiap akhir Tahun Hijriyah. Menuju ke Tahun Barunya. Dan, begitu pula yang terjadi, setiap akhir bulan lama ke bulan baru. Dari Dzulhijjah ke Muharram. Dari Muharram ke Safar. Ke Rabi’ul awwal. Ke Rabi’ul Tsani. Dan seterusnya, sampai Dzulhijjah kembali. Tahun baru kembali. 

Bulan sabit tipis selalu dijadikan penanda. Bagi siapa saja. Muslim atau bukan. Beragama atau tidak. Peralihan tahun dan pergantian bulan selalu terjadi. Bisa dilihat dari Bumi. Bahkan bisa diprediksi. Oleh siapapun. Yang menguasai ilmunya. Yang punya alatnya. Di antaranya, teleskop astrofotografi. Seperti yang dipunyai Thierry. Dan, juga dipunyai oleh beberapa astrofotografer Indonesia. Yang amatiran maupun yang profesional. Atau, apalagi lembaga antariksa. Seperti LAPAN dan Bosscha.

hijra45901.jpgDesain Grafis: tribunnews.com

Saya sempat berkunjung ke rumah Thierry. Di pinggiran kota Paris. Sepulang umrah. Di tahun 2013. Dia tinggal sendiri. Tanpa istri. Anak semata wayangnya tinggal di Amerika Serikat. Kami baru tahu, ketika istri saya menanyakan soal keluarganya.

Rumahnya cukup besar. Dua lantai. Ada halaman di depan. Dan, di belakang. Di halaman belakang itulah kami ngobrol panjang lebar. Soal Astrofotografi. Soal rekor dunia memotreti benda langit yang menjadi cinta matinya. Soal namanya yang dijadikan nama Asteroid oleh dunia Astronomi. Soal peralatan astrofotografi yang bisa kami beli darinya, untuk dihibahkan ke para astrofotografer Indonesia. Dan, tentu soal workshop yang kami ingin dia menjadi mentornya. Serta, mencoba peralatan teleskopnya, melihat ke beberapa benda langit yang ditunjukkannya.

Alhamdulilah, dia bersedia memberikan workshop itu. Di Surabaya, 26 – 28 April 2014. Dibuka oleh Menteri Pendidikan, Prof Dr Mohammad Nuh, DEA. Dihadiri oleh Kepala Observatorium Bosscha, Dr Mahasena Putra. Hadir pula Ketua Umum Muhammadiyah, Prof Dr Din Samsuddin. Dan perwakilan PBNU, karena Prof Dr Aqil Siradj tiba-tiba berhalangan hadir sesaat sebelum acara.

hijra-2.jpgThierry Legault (kiri) dan Agus Mustofa (penulis). (FOTO: Facebook - Agus Mustofa)

Puluhan peserta Workshop Astrofotografi memperoleh ilmu yang sangat berharga. Dari ahlinya. Pemegang rekor dunia. Pemotret bulan sabit paling tipis dengan sudut elongasi paling dekat dengan matahari. Dan kemudian membentuk wadah Astrofotografi Indonesia. Sebagai tempat pembelajaran untuk mengasah skill memotreti benda langit menggunakan perangkat teleskop. Sampai kini.

Gerakan pendidikan dan pengaderan seperti ini, semestinya dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Untuk apa? Agar umat Islam mempunyai kalender Hijriyah yang satu. Agar tidak terpecah belah secara administrasi maupun ibadah. Dan, berbeda-beda menyebut hari, bulan dan tahun. Berbeda awal Ramadan dan hari rayanya. Seperti yang selama ratusan tahun ini terjadi.

Bangsa dan umat yang besar adalah mereka yang memiliki kalender besar. Seperti Eropa dengan Kalender Masehinya. Atau, Cina dengan Kalender Imleknya. Atau, Babilonia, Mesir Kuno, dan Inka Maya. Atau, Umat Islam di zaman keemasannya.

Semoga ini menjadi pengingat kembali akan pentingnya kalender bagi kemajuan peradaban Umat Islam. Untuk ikut menata dunia menjadi masyarakat yang adil, aman, nyaman, dan sejahtera di dalam ridha-Nya. Yang rahmatan lil alamin. Tentu saja, harus dimulai dari diri sendiri. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1442.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan ditetapkan-Nya fase-fase bagi pergerakan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kepada orang-orang yang berilmu.” [QS. Yunus: 5]. (Dimuat di harian DisWay, Jum'at, 21 Agustus 2020)

Oleh: Agus Mustofa

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda