Guest Editor di Harian DisWay (5)

Provokasi Tauhid di Meja Makan

FOTO ILUSTRASI: intisari.grid.id

COWASJP.COM – Suasana di meja makan itu melekat kuat di benak saya. Meskipun, sudah setengah abad berlalu. Makan malam berdua. Dengan seorang pria paro baya berusia sekitar 60 – 70 tahun. Jambang dan jenggotnya mulai memutih. Tapi dicukur rapi. Sehingga, wajah yang mulai mengeriput masih terlihat segar. Pandangan matanya lembut. Tajam. Berisi.

Dia adalah ayah saya. Syech Djapri Karim. Seorang mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Yang sangat intens mewarnai pemikiran keagamaan saya. Beliau anggota Dewan Pembina Partai Tarekat Islam Indonesia (PTII) di era Bung Karno. Sezaman. Tahun kelahirannyapun setahun lebih tua daripada Bung Karno. Yakni, tahun 1900. Yang kelak wafat pada usia 90 tahun. Di tahun 1990.

Makan malam itu terasa sangat istimewa. Dan melekat dalam ingatan saya. Bukan karena menu yang tersaji. Masakan ibu sendiri. Melainkan, karena diskusi tasawuf yang terjadi. Dan kemudian, menjadi pondasi pemikiran keagamaan saya sampai kini.

Ayah saya memang suka berdiskusi. Khususnya soal filsafat. Dan lebih khusus lagi, soal Tuhan. Soal ketauhidan. Kapan saja. Di mana saja. Bisa di meja makan seperti saat itu. Atau, ketika jalan-jalan. Ataupun, saat ngobrol dalam senggang. Diskusinya selalu soal ketauhidan. Tentang siapa Allah. Di mana Allah. Dan bagaimana hubungan Allah dengan makhluk-Nya.

Baginya, beragama adalah soal Allah. Bukan soal salat. Atau, soal puasa, zakat dan haji. Pikirannya setiap saat adalah Allah, Allah dan Allah. Dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Sedangkan salat, puasa, zakat dan haji itu adalah sekadar cara untuk mendekat kepada-Nya. 

“Ibadah itu bukan tujuan. Cuma cara. Media. Jadi, jangan sampai terbalik memperlakukannya”, kata beliau. Lebih mengagungkan ibadah daripada mengagungkan Allah. Lebih ingat salat, daripada Allah. Lebih takut neraka daripada Allah. Lebih mencintai surga daripada Allah. Sehingga, di dalam salat pun bisa lupa kepada-Nya. Asal terpenuhi syarat dan rukunnya. Asal gugur kewajibannya.

Pokoknya, tiada hari tanpa bicara soal Allah. Termasuk di meja makan itu. Beliau bertanya. Yang tidak akan terlupa. “Tahukah kamu, di mana Allah?” Sebuah pertanyaan yang sangat mendalam. Buat anak SD seperti saya. Waktu itu. Entah kelas berapa. Rasanya, sekitar usia 10 – 11 tahun.

Maka, saya menjawab spontan, “Allah di surga”. Karena, dalam bayangan saya, surga itu istana. Yang sangat indah. Serba ada. Dan, Allah yang Mulia tentu sepantasnya berada di dalam istana yang indah. Tapi, ayah saya meresponnya dengan tersenyum. Tidak membenarkan. Ataupun, menyalahkan. Melainkan, bertanya lagi.

ibadah1.jpgFOTO: liputan6.com

“Kalau Allah di dalam surga, menurutmu lebih besar manakah Allah dan surga?” Sayapun kembali menjawab, spontan: “Lebih besar surga”. Jawaban itu membuat ayah saya tersenyum lagi. Lebih lebar. Tanpa membenarkan, ataupun menyalahkan. Sambil bertanya. “Kok, lebih besar surga? Bukannya Allah itu Maha Besar?”

Saya merasa, jawaban saya salah. Maka, sayapun menimpali: “Kalau begitu, Allah di langit”. Bayangan saya, langit lebih besar daripada surga. Dan, saya pun sering melihat orang berdoa mendongak ke langit. Ataupun, menyebut Allah dengan menunjuk ke atas.

Lagi-lagi, ayah saya tersenyum. Semakin lebar. Tanpa membenarkan, tanpa menyalahkan. Sambil bertanya lagi. “Kalau Allah di langit, jauh ya Allah itu dari kita? Katanya, Allah itu dekat?” 

Kali ini, saya berpikir keras. Untuk memberikan jawaban yang memuaskan. Karena, memang ayah pernah bercerita tentang Allah yang sangat dekat. Lebih dekat daripada urat leher.

Maka, saya pun menemukan jawaban. Yang saya anggap memuaskan. Dan tidak akan mendatangkan pertanyaan lanjutan. “Berarti, Allah bersama dengan kita semua”, teriak saya. Seperti berhasil menebak kuis berhadiah.

Ayah tersenyum semakin lebar. Sampai terlihat giginya. Tanpa membenarkan, tanpa menyalahkan. Tapi, ternyata masih bertanya: “Kalau begitu, Allah itu banyak ya? Bersama aku, bersama kamu, bersama mereka?” Sayapun terdiam. Tak menemukan alternatif jawaban lainnya.

Mengetahui saya terdiam, ayah mengambil segelas air teh.  Yang ada di hadapannya. Kemudian berkata: “Kamu lihat air teh ini. Apa warna air teh ini?” Tentu saja saya tahu, “Coklat kekuningan”. 

“Dari mana warna itu berasal?”

“Dari air putih yang dicelupi daun teh”

“Apakah kini kamu bisa membedakan antara warna air dan warna daun teh, di dalam gelas ini?”

“Tidak bisa.”

“Nah, begitulah keadaan Allah dengan makhluq-Nya. Menyatu. Tidak bisa dipisahkan. Meliputi. Tanpa jarak ...”

Saya manggut-manggut. Tidak mengerti ..!

Tapi, efeknya sungguh luar biasa. Sejak saat itu, saya memiliki rasa penasaran yang sangat besar. Dan, tiada henti. Selama puluhan tahun. Dan baru mulai terurai, ketika saya sudah menjadi mahasiswa. Di teknik Nuklir Universitas Gadjahmada, Yogyakarta.

Ayah berhasil memprovokasi saya. Membangkitkan rasa penasaran. Membuat saya ingat terus kepada Allah. Dan, terus berusaha mencari-Nya. Sepanjang waktu. Selama puluhan tahun. Sampai kini. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah, Allahu Akbar ..! (Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 14 Agustus 2020)

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda